bc

Janji Manis di Malam Panas

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
second chance
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
bold
brilliant
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Bertemu kembali dengan lelaki yang dulu sudah merenggut kehormatannya lalu pergi, Zidney Dikara pikir hatinya tidak akan pernah goyah lagi. Dendam dan kebencian, nyatanya tidak benar-benar bisa memusnahkan rasa cintanyaa terhadap Pradipta Arkanara. Namun semuanya tidaklah mudah bagi keduanya. Salah paham, kehadiran orang baru di antara mereka semakin menambah rumit hubungan keduanya.

.

Namun, apakah Pradipta akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya atau justru berjuang hingga titik darah terakhir demi wanita yang ia cintai? Lalu bagaimana dengan sosok anak kecil bernama Bumi yang selama ini hidup bersama Zidney? Akankah Pradipta akan menepati janjinya terhadap Zidney meski rintangan menghadang?

chap-preview
Free preview
1. BERTEMU SETELAH BERPISAH
“Nervous ya, Mbak?” Zidney mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum. “Maklum ini pengalaman pertama jadi agak tegang, takut salah, takut nggak bisa memuaskan si bos.” Janis merapikan rambut Zidney sekali lagi sebelum masuk ke studio siaran. “Mbak kan sudah punya pengalaman sebagai jurnalis lapangan, jadi aku yakin hari ini juga pasti lancar. Walaupun bintang tamunya nggak mudah, tetap semangat ya, Mbak.” “Thanks Janis,” ucap Zidney diakhiri helaan napas panjang. Zidney Dikara (28 tahun) memegang beberapa lembar kertas yang berisi informasi dari narasumber yang akan diwawancarai pada program bincang bersama politikus. Sejujurnya ia bukanlah pemilik dari program ini. Tetapi karena senior yang menjadi presenter tetap pada program ini mengalami kecelakaan, ia mendapat kesempatan untuk menggantikan. Zidney menerima dengan senang hati sebagai batu loncatan berkarier di dunia jurnalis. Saat waktu tiba, Zidney menuju studio di mana semua kru sudah bersiap untuk melakukan siaran. Jantungnya semakin berdetak cepat dan tegang menjalar di dalam tubuhnya. Namun senyum penuh keyakinan terus tersungging demi membangun rasa percaya diri. “Sudah oke, Zi?” tanya Diko – asisten produser. Zidney mengangguk setelah memastikan mic clip-on dan earpiece berfungsi dengan semestinya. “Aman, Mas.” “Kamu harus tenang. Tamu kita sangat penting dan sulit dibawa ke sini. Jadi jangan sampai melakukan kesalahan dan manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Kalau kamu berhasil, kita akan selamat dan karir kamu pasti makin naik.” “Baik, Mas. Saya pasti melakukan yang terbaik,” jawabnya yakin. Fokus Zidney tertuju pada deretan pertanyaan yang akan diajukan kepada salah satu politikus ternama di negeri ini. Pradipta Arkanara (31 tahun), politikus muda yang terkenal dengan kecerdasan dan wibawa serta ketenangannya. Sangat sulit disentuh sekadar untuk wawancara eksklusif karena bagi pria itu, tampil di televisi bukan tujuan dalam kariernya di dunia politik. Bahkan Dipta sudah menolak tawaran dari XT TV namun berubah pikiran satu minggu sebelum acara. “Selamat datang Bapak Pradipta. Senang bisa bertemu Anda,” sapa Zidney dengan sopan sambil mengulurkan tangan. Dipta mengangguk dengan senyum tipis yang khas serta membalas uluran tangan Zidney “Terima kasih.” “Saya harap kerjasama ini bisa berjalan lancar.” “Jangan terlalu tegang. Anggap saja kita ngobrol biasa.” Zidney tersenyum sambil menatap tajam. “Berhadapan dengan sosok seperti Anda, jelas saja tegang. Tapi tenang saja, saya akan bersikap profesional.” Dipta hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa lagi. Namun sorot matanya tidak pernah lepas dari sosok Zidney. Sejak wanita itu muncul di hadapannya, Dipta menatap dari ujung kaki hingga kepala. Memindai sosok yang akan menjadi lawan bicaranya selama kurang lebih 45 menit ke depan. Acara dimulai dengan pertanyaan mendasar kepada seorang politikus ternama. Zidney berusaha untuk melakukan tugasnya dengan baik. Melontarkan pertanyaan sesuai dengan daftar agar interview berjalan seperti yang direncanakan. Dipta yang terkenal sikap tegasnya dan paling anti menjawab pertanyaan di luar konteks yang sudah disepakati. Namun Zidney, berusaha tidak keluar dari jalur meski ada banyak hal sensitif yang ingin ia tanyanakan. Akan tetapi, ia akan tetap memanfaatkan kesempatan ini untuk menaikkan namanya sendiri walaupun berisiko. “Baik Pak Dipta, ada pertanyaan yang mungkin terdengar di luar dari topik kita hari ini. Tapi saya ingin tahu jawaban Anda. Menurut saya ini penting dan pasti jadi pertanyaan banyak orang yang mengenal Anda sebagai politikus dengan segala prestasinya.” Dipta mengangguk tenang. “Silakan.” Zidney mengambil napas pelan agar tidak terlalu mencolok. “Selama ini publik hanya tau seorang Pradipta Arkanara sebagai pelayan masyarakat yang rela melakukan apa saja demi keadilan dan hak orang banyak. Anda sangat anti dengan publikasi kehidupan pribadi meskipun banyak orang ingin tahu sisi lain Anda. Apa Anda sengaja melakukan itu demi tetap menjaga citra baik Anda di hadapan masyarakat?” Semua orang yang ada di studio terdiam dengan wajah tegang. Zidney terlalu berani padahal sudah diwanti-wanti agar berhati-hati dalam menghadapi Dipta. Samar-samar terdengar kasak-kusuk, mereka panik karena Dipta tidak langsung memberikan tanggapan. Bahkan Zidney menahan reaksi ketika terdengar suara dari earpiece-nya. Dipta berdeham lalu mengulas senyum penuh ketenangan. “Tidak ada yang menarik di dalam kehidupan pribadi saya, Mbak Zidney. Apa yang mau Anda dan mereka tahu dari saya?” Ketegangan yang sempat menyelimuti sampai membuat menahan napas. Ada rasa yang membuatnya tidak nyaman. Ditambah sorot mata Dipta tidak pernah beranjak dari dirinya. “Saya mengerti. Hidup Anda memang sepenuhnya untuk masyarakat dan negara. Tidak salah kalau Anda menjadi salah satu politikus yang sangat diandalkan bagi bangsa ini.” *** Zidney menundukkan wajah dan ditutup dengan kedua tangannya. Helaan napas panjang terdengar jelas di ruang make up yang sepi. Ia sengaja di sana demi menenangkan hati dan pikirannya yang kacau. Hampir saja ia merusak kepercayaan produser dan menghancurkan program penting dengan pertanyaan konyolnya. “Baru aja naik dua tangga masa harus turun lagi,” ucapnya penuh sesal. Suara dehaman membuat Zidney langsung kaget. Ia mencari sumber suara dan menemukan seseorang berdiri di ambang pintu. “Maaf kalau saya bikin kamu kaget,” ucap Dipta dengan suara beratnya. Seketika Zidney beranjak dari duduknya dengan wajah sedikit panik. “Nggak apa-apa, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Dipta melangkah mendekati Zidney. Wajah yang nyaris sempurna dibalut senyum tipis yang membuat siapa saja hatinya bergetar. Kini tubuh tinggi tegap itu tepat berada di hadapan Zidney. “Senang bisa ketemu lagi. Kamu banyak berubah, Zi.” Kedua mata Zidney membola dan perlahan sedikit memerah. Kedua tangannya mengepal namun berusaha disembunyikan di belakang. “Anda nggak takut ngomong begini?” “Takut?” Zidney membalas tatapan Dipta. “Reputasi Anda, Pak Dipta.” “Zi, apa kita bisa bicara sebagai teman?” “Teman?” Zidney berdecis seakan tidak sudi dengan permintaan Dipta. “Maaf Pak Dipta, saya tidak pernah mau lagi terlibat urusan dengan Anda.” Dipta menghela napas pelan karena merasa percuma bicara dengan Zidney. Ia lantas mengambil sesuatu dari dalam saku jas yang dikenakan. Lalu tangan Dipta menarik tangan Zidney untuk memberikan kertas itu. “Saya harap kamu ada waktu untuk menghubungi saya. Ada banyak hal yang perlu kita bahas.” Tubuh Zidney menegang akibat sentuhan Dipta. Pria itu berlalu begitu saja, membiarkannya terdiam dengan tatapan kosong. Perlahan air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Bertemu kembali membuat kenangan masa lalu muncul, seakan mengejek kerapuhan hati Zidney. Lima tahun ternyata tidak cukup untuk mengubur kisahnya bersama Dipta. Zidney meremas kartu nama di tangannya. “Nggak ada yang perlu dibahas. Lima tahun lalu, semuanya sudah selesai.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook