Bab 1 — Pengkhianatan Setelah Melahirkan
Bau obat rumah sakit masih melekat di tubuh Naura Maheswari ketika mobil yang membawanya berhenti di depan rumah mewah miliknya. Rumah itu berdiri megah dengan lampu-lampu taman yang menyala hangat, terlihat seperti tempat paling nyaman di dunia. Rumah yang dulu ia beli menggunakan uangnya sendiri setelah menikah dengan Damar. Rumah yang selama ini ia anggap sebagai tempat pulang.
Namun malam itu, entah kenapa d**a Naura terasa sesak.
“Ayo pelan-pelan, Bu,” ucap suster yang membantu membuka pintu mobil.
Naura mengangguk kecil sambil memeluk bayi mungil di dadanya. Putranya tertidur tenang dalam balutan selimut putih. Wajah kecil itu membuat hati Naura menghangat di tengah tubuhnya yang masih nyeri setelah operasi caesar dua hari lalu.
Semua rasa sakit itu terasa layak karena akhirnya ia dan Damar memiliki anak.
Naura tersenyum tipis.
“Papa pasti senang melihat kamu, Nak.”
Sudah dua hari Damar jarang datang ke rumah sakit dengan alasan pekerjaan mendadak. Naura memang sempat kecewa, tetapi ia mencoba memahami.
Bukankah selama ini Damar memang bekerja keras?
Naura menurunkan pandangan pada wajah bayinya lagi. Ia tidak ingin berpikir buruk.
Dengan langkah perlahan, Naura memasuki rumah.
Anehnya, rumah terasa begitu sepi. Tidak ada pelayan menyambut, tidak ada aroma makanan hangat. Bahkan lampu ruang keluarga hanya menyala sebagian.
“Pak Damar belum pulang, Bu?” tanya suster pelan.
Naura menggeleng kecil.
“Mungkin di atas.”
Ia mencoba tersenyum walau ada rasa aneh yang mulai mengganggu pikirannya.
Baru saja Naura hendak melangkah menuju tangga, suara tawa perempuan terdengar samar dari lantai atas.
Naura berhenti.
Dadanya mendadak berdegup tidak nyaman. Suara itu terdengar sangat familiar.
“Bu, ada apa?” suster memanggil pelan.
Naura mengangkat tangan, meminta wanita itu diam. Lalu perlahan ia berjalan menaiki tangga.
Setiap langkah terasa berat karena luka operasi di perutnya masih sangat sakit. Namun rasa penasaran membuatnya terus naik. Dan semakin dekat ke kamar utama, suara itu semakin jelas.
Tawa perempuan, laki-laki, bisikan manja.
Lalu…
suara ranjang berderit pelan.
Tubuh Naura langsung membeku.
Tidak.
Tidak mungkin.
Tangannya mulai gemetar. Dengan napas memburu, Naura berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Pintu itu tidak tertutup rapat. Ada celah kecil dan dari celah itu dunia Naura runtuh seketika.
Damar, suaminya. Sedang mencium seorang wanita di atas ranjang mereka. Wanita itu mengenakan lingerie merah tipis dengan rambut panjang bergelombang yang sangat Naura kenal.
Kayla, adik tirinya sendiri.
Naura merasa napasnya berhenti. Tubuhnya mendadak dingin. Bayi dalam gendongannya bergerak kecil, seolah merasakan tubuh ibunya yang bergetar hebat.
“A-ah…”
Suara kecil keluar dari bibir Naura. Pintu kamar terbuka lebih lebar. Damar dan Kayla langsung menoleh bersamaan.
Dan di detik itu, mata mereka bertemu. Naura menunggu.
Menunggu Damar panik.
Menunggu pria itu menjelaskan semuanya.
Menunggu dia berkata kalau ini hanya salah paham.
Tetapi yang Naura lihat justru kekesalan. Damar mendesah kasar sambil meraih kemeja di lantai.
“Sial.”
Sementara Kayla sama sekali tidak terlihat malu. Wanita itu justru tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuh telanjangnya di d**a Damar.
“Wah,” katanya santai. “Kakak pulang lebih cepat.”
Air mata Naura langsung jatuh.
“K-kalian…”
Suara Naura pecah.
“Kalian sedang apa…?”
Pertanyaan bodoh. Karena matanya sendiri sudah melihat semuanya. Namun hati Naura masih terlalu hancur untuk menerima kenyataan. Damar berdiri dari ranjang dengan wajah dingin.
“Aku capek sembunyi-sembunyi, Naura.”
Kalimat itu terasa seperti pisau. Naura menatap pria yang selama lima tahun ia cintai sepenuh hati. Pria yang dulu datang padanya dengan pakaian sederhana dan mimpi besar. Pria yang ia bantu membangun perusahaan menggunakan uang dan koneksi keluarganya. Pria yang selalu ia bela bahkan ketika keluarganya menentang pernikahan mereka.
Dan sekarang, pria itu berdiri di depannya setelah tidur dengan adik tirinya sendiri. Saat dirinya baru saja pulang dari rumah sakit setelah melahirkan anak mereka.
Naura tersenyum pahit dan tubuhnya gemetar hebat.
“Aku baru melahirkan anakmu, Damar…”
Namun Damar hanya menatap dingin.
“Aku tidak pernah meminta anak itu.”
Deg.
Jantung Naura seperti dihantam palu besar.
“Apa…?”
Kayla tertawa kecil.
“Ya ampun, Kak Naura. Masa sampai sekarang masih nggak sadar sih?”
Wanita itu turun dari ranjang lalu berjalan santai mendekati Naura.
“Kak Damar itu udah lama nggak cinta sama Kakak.”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Kayla.
Naura menatap adik tirinya dengan mata merah penuh luka.
“Diam!”
Kayla memegang pipinya dengan syok. Namun beberapa detik kemudian, wanita itu justru tersenyum sinis.
“Kakak masih galak juga ternyata.”
Damar langsung menarik tubuh Kayla ke belakangnya.
“Sudah cukup, Naura!”
Naura tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.
“Cukup?” bisiknya lirih.
“Kamu bilang cukup setelah aku memergoki kalian di atas ranjangku sendiri?”
“Setelah aku hampir mati melahirkan anakmu?”
“Setelah semua yang aku lakukan buat kamu?”
Damar mengepalkan tangan. Untuk sesaat, ada kilatan rasa bersalah di matanya.
Namun itu hanya sebentar.
“Aku nggak pernah minta kamu berkorban sebanyak itu.”
Kalimat itu benar-benar menghancurkan Naura. Ia mundur satu langkah. Air matanya jatuh tanpa henti.
Selama ini ternyata hanya dirinya yang menganggap pernikahan mereka berharga. Kayla memeluk lengan Damar dengan manja.
“Udahlah, Kak. Jangan bikin drama.”
Naura menatap wanita itu tidak percaya.
“Kenapa…?”
Suara Naura pecah.
“Aku selalu baik sama kamu, Kayla…”
“Aku bantu biaya kuliahmu…”
“Aku beliin semua yang kamu mau…”
“Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku?”
Mata Kayla berubah dingin.
“Karena aku benci sama Kakak.”
Naura membeku.
“Aku capek hidup di bawah bayang-bayang Kakak terus.”
“Kakak selalu jadi yang paling sempurna, paling kaya, paling disayang dan semua orang selalu membandingkan aku sama Kakak!”
Napas Kayla memburu penuh kebencian.
“Sekarang aku menang. Suami Kakak milih aku.”
Naura merasa tubuhnya kehilangan tenaga. Ia tidak menyangka, semua kebencian itu selama ini disembunyikan di balik senyum polos Kayla.
Damar mengusap punggung Kayla pelan.
“Sudah, sayang.”
Sayang?
Panggilan itu terasa seperti racun di telinga Naura.
Padahal dulu, kata itu hanya untuk dirinya. Bayi dalam pelukan Naura tiba-tiba menangis. Tangisan kecil itu memecahkan keheningan. Naura langsung menunduk panik.
“Sayang… jangan nangis…”
Ia mengguncang tubuh kecil bayinya dengan lembut sambil menangis sendiri.
Dan di saat seperti itu tidak ada satu pun dari mereka yang peduli. Damar justru terlihat kesal.
“Bawa anak itu keluar. Berisik.”
Naura menatapnya syok.
“Ini anakmu…”
“Aku nggak peduli.”
Hancur. Benar-benar hancur. Naura merasa pria di depannya bukan Damar yang ia kenal. Pria lembut yang dulu memegang tangannya sambil berkata akan mencintainya selamanya sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanya laki-laki asing dengan mata dingin penuh kebencian.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar kamar.
“Mama!”
Kayla langsung tersenyum.
Beberapa detik kemudian, Rina ibu tiri Naura masuk ke kamar. Dan bukannya terkejut wanita paruh baya itu justru terlihat santai.
Naura langsung memahami semuanya.
“Mama sudah tahu…?”
Rina mendengus kecil.
“Untuk apa marah-marah? Damar sama Kayla saling cinta kok.”
Naura sampai sulit bernapas mendengar ucapan itu.
“Mama sadar nggak apa yang mereka lakukan?”
“Ya sadar.”
Rina melipat tangan.
“Kamu juga harus sadar diri, Naura. Damar itu laki-laki normal. Kamu terlalu sibuk kerja sampai lupa melayani suami.”
Naura tertawa tidak percaya. Tubuhnya sampai gemetar hebat.
“Aku baru melahirkan… Dan kalian menyalahkanku?”
Rina memutar mata malas.
“Jangan lebay.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Naura perlahan retak. Ia memandang satu per satu wajah mereka.
Suaminya, adik tirinya, ibu tirinya. Semua orang yang selama ini ia anggap keluarga. Dan tidak ada satu pun yang berdiri di pihaknya.
Tidak ada.
Rasa sakit di perut bekas operasi semakin menusuk. Naura hampir kehilangan keseimbangan. Namun ia tetap berdiri. Karena harga dirinya terlalu terluka untuk terlihat lemah di depan mereka.
“Aku mau kalian keluar dari rumahku.”
Suasana langsung hening. Lalu Kayla tertawa keras.
“Rumah Kakak?”
Damar memasukkan tangan ke saku celana.
“Rumah ini sekarang atas namaku.”
Mata Naura melebar.
“Apa?”
“Aku sudah pindahkan sertifikatnya tiga bulan lalu. Kamu sendiri yang tanda tangan.”
Naura langsung teringat.Dokumen investasi.Damar bilang itu hanya berkas perusahaan.
Tangannya langsung membeku dingin.
“Kamu menipuku…?”
Damar menatap datar.
“Aku cuma lebih pintar.”
Air mata Naura kembali jatuh.
Jadi, semua ini sudah direncanakan sejak lama. Perselingkuhan, pengambilalihan rumah.
Semuanya.
Naura tertawa pelan sambil menangis. Betapa bodohnya dirinya. Ia terlalu percaya. Terlalu mencintai. Sampai tidak sadar sedang dihancurkan perlahan.
“Keluar dari rumah ini.”
Suara Damar dingin tanpa belas kasihan. Naura menatap pria itu tidak percaya.
“Kamu mau mengusirku… malam ini?”
“Kalau perlu sekarang.”
“Tubuhku bahkan belum pulih…”
“Itu bukan urusanku.”
Kalimat terakhir itu benar-benar membunuh sisa cinta Naura. Rina mendekat sambil menyodorkan koper kecil.
“Kami sudah siapkan barang-barangmu.”
Naura menatap koper itu dengan mata berkaca-kaca. Mereka bahkan sudah menyiapkan semuanya. Mereka memang berniat membuangnya malam ini. Dengan bayi yang baru lahir. Dengan tubuh yang masih berdarah setelah operasi.
Naura memeluk anaknya lebih erat. Naluri seorang ibu membuatnya menahan diri agar tidak hancur sekarang juga. Karena putranya membutuhkan dirinya.
Naura menarik napas panjang. Lalu perlahan ia mengangkat wajah. Air matanya masih jatuh. Tetapi matanya tidak lagi selemah tadi.
Ia memandang Damar lurus-lurus.
“Suatu hari nanti…”
Suara Naura pelan namun penuh luka.
“Kalian akan menyesal.”
Kayla tertawa meremehkan.
“Sok dramatis.”
Namun Damar tidak menjawab. Entah kenapa untuk pertama kalinya malam itu, pria itu merasa tidak nyaman melihat tatapan Naura.
Tatapan seorang wanita yang hatinya baru saja dihancurkan sampai berkeping-keping. Naura mengambil koper kecilnya. Lalu berjalan melewati mereka. Tidak ada yang menahan, tidak ada yang peduli.
Dan tepat sebelum keluar kamar Naura berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata lirih,
“Kalian boleh mengambil rumah ini. Kalian boleh mengambil semuanya. Tapi ingat satu hal…”
Naura menoleh perlahan. Matanya merah penuh air mata.
“Aku akan memastikan kalian kehilangan jauh lebih banyak.”
Lalu ia pergi. Meninggalkan rumah itu. Meninggalkan cinta yang telah mengkhianatinya.