Evander mengangkat tubuh Althea hingga duduk di atas pangkuannya. Gerakan mereka makin intens di pagi yang temaram. Keringat membanjiri tubuh saat Althea yang turun naik, menyatu dengan tubuh Evander. Evander menunduk, mengulum puncak d**a Althea yang menegang. Memegang pinggang istrinya dan membantu Althea bergerak lebih cepat. Untuk sesaat ia terpesona, pada kecantikan istrinya dan gerakannya bagai kijang yang anggun. Kijang cantik yang menggoda pemburu untuk mendapatkannya. Itulah Althea sebenarnya. Saat mereka mencapai puncak, ia memeluk istrinya dan merebahkan diri di ranjang. Menunggu keringat mengering dan napas mereka kembali normal. “Jam berapa, Sayang?” tanya Althea parau. Evander meraih jam di atas nakas. “Pukul 5.30. Masih pagi.” Althea mengerang. “Mana bisa. Anak-anak har

