Rania melangkah dengan perlahan, menembus terik kota. Tidak mengerti lagi ke mana arah melangkah. Ia begitu lelah dan lapar, tapi di badannya sama sekali tidak ada uang. Dari jam sepuluh tadi malam, ia sudah pergi dari rumah, rnengunjungi teman-teman yang diharapkan bisa membantunya tapi tak satu pun yang bersedia menemuinya. Ia tersenyum pahit, menahan perih di d**a. Mengingat tentang kehidupan yang dijalaninya dulu. Sewaktu Papanya masih ada, mereka hidup mewah dengah kekayaan berlimpah. Banyak saudara dan teman merapat, memberikan rasa persaudaraan, dan ia memberikan semua yang mereka inginkan. Saat itu, ia merasa sangat lalim saat Papanya ketahuan beberapa kali membiayai kehidupan Althea dan Mamanya. “Papa bilang kalian tidak merestui pernikahan kakak. Papa bilang mereka bukan bagian

