“Siapa?” tanya Naka seakan tidak percaya pada pendengarannya sendiri. Pria itu sudah meluruskan punggung. Menatap sang adik dengan beberapa lipatan di kening. Membuat yang ditatap ikut mengernyit. “Ih … Mas Naka kenapa, sih? Sudah diulang juga masih nanya,” sahut Tara sambil cemberut. Setahunya luka kakaknya itu di ke kepala, tangan dan kaki. Telinganya baik-baik saja. Kenapa masih bertanya padahal ia sudah mengulang beberapa kali nama teman Zahra? Tara berdecak pelan ketika melihat tatapan menuntut sang kakak. “Astaga. Oke oke ... aku ulang sekali lagi, ya? Jangan minta aku mengulang lagi setelah yang ini.” Tara menghentak napasnya. “Wil … dan. Namanya … Wil-dan.” Tara mengucap dengan ritme pelan dan penuh tekanan ketika menyebutkan nama tersebut. Dia sampai bosan harus menyebut lagi