“Zahra … Zahra … hei, bangun. Kamu tidak apa-apa?” Naka meringis menahan sakit di tubuhnya. Pria itu melepas seat belt yang membelit tubuhnya sebelum kemudian melepas sabuk pengaman yang melindungi tubuh Zahra. Beruntung mobil yang ia pakai bukan mobil biasa. Rubicon kesayangannya berhasil melindungi mereka dari cidera yang lebih parah. Pretensioner seat beltnya menahan tubuh mereka hingga tidak harus terlempar ketika benturan keras itu terjadi. Ditambah airbag yang berfungsi dengan baik. Naka menepuk-nepuk pipi Zahra yang masih memejamkan mata. Ia mulai cemas. "Zahra ... Zahra ... buka mata. Hei ... ayo buka mata." Namun sepasang kelopak mata Zahra masih bertahan tertutup. Zahra tidak bergerak. “Kalian tidak apa-apa?” Mendengar suara seseorang, Naka menoleh ke arah suara itu berasal