Menginginkan lebih

2001 Words
“Mbak Bella…” Suster Ratih berlarian panik saat terdengar bunyi keributan dengan adu fisik. Sementara Isabella terhimpit di dinding dengan posisi leher dicekik oleh Nando. “Bunuh gue!” pintanya pada kegilaan Nando. Laki-laki itu mengatakan mencintai Isabella tapi kenapa tindakannya lebih mirip orang kehilangan kewarasan. Sama sekali tidak mencerminkan jatuh cinta. Plakkk… Nando menampar Isabella untuk kesekian kalinya. Mata Isabella berair. Ada rasa sesak saat menyadarai ternyata selama dua tahun ini Isabella juga memendam perasaan meski sedikit. Perlakuan Nando menyadarkan semuanya. Bahwa memang Isabella hidup hanya untuk mencari keadilan untuk Diana, hanya itu. “Hanya karena melihat Diana diantar jemput Hayden lo marah. Lo maki dia. Dan lo tusuk dia.” Isabella sekarang mengerti kenapa Nando selalu membatasi ruang gerak Diana. Pasalnya laki-laki ini juga melakukan hal sama padanya. Nando sangat over protektif. “Wajah lo memang benar-benar cocok jadi pembunuh!” Isabella tidak takut meski setelah ini dia harus mati. “Mas, tolonggg. Lepasin mbak Isabella. Dia masih sakit. Masih butuh perawatan.” Pinta suster Ratih dengan amat sangat memohon. Brughh… “Diam, lo sialann.” Suster Ratih terduduk di lantai akibat dorongan keras Nando. Tangannya masih asik di leher Isabella. Isabella menatap sekelilingnya. Rumah peninggalan orang tuannya. Hanya ini kenang-kenangan yang masih dia punya. Isabella kehabisan nafas. Bugh… Nando terpaksa melepaskan Isabella akibat mendapat serangan mendadak. “Lo nggak harus buat dia menderita karena obsesi lo Nando!” ujar Beryl yang datang bersamaan dengan Danis. Beberapa penjaga di luar rumah Isabella berjatuhan akibat adu fisik dengan Beryl dan Danis. "Sialannn,mereka kalah kuat." batin Nando menyaksikan satu persatu pasukannya ambruk. “Dia milik gue! Dia hak gue!” tantang Nando tidak mau kalah. Tidak ada Salma kamus hidup Nando mengalah pada musuh. Apalagi musuhnya modelan Beryl begini. Danis menggeleng takjub pada sikap gila Nando. Dengan segera membantu Isabella untuk duduk di sofa agar memudahkan suster Ratih memberikan perawatan. “Karena lo tau dia milik lo. Jaga. Lindungi. Bukan dihabisi.” ujar Beryl terlihat menahan emosi agar tidak meledak sekarang. “Apa lo nggak tahu dengan tindakan yang lo anggap sepele barusan. Justru ngebuat Isabella, perempuan yang KATANYA lo cintai. Bisa mati konyol. Mikir!” kata-kata Beryl membuat Nando berhenti mengamuk dia menatap kondisi Isabella yang mungkin akan bernasib sama dengan Diana jika saja Beryl telat menghajarnya. “Isabella…” “Sayanggg…maaf.” Nando kelimpungan hendak mendekati Isabella namun ditahan oleh Beryl. “Maafin aku sayang.” Beryl berjongkok, sebenarnya dia hanya memukul Nando sekali namun melihat kondisi laki-laki ini dia jadi merasa Nando memang tidak sadar. Beryl simpulkan Nando sehabis menenggak minuman keras. Terbukti bau alkohol menguar saat berada diposisi dekat. “Toleransi alkohol lo tinggi. Tapi biarpun kayak gitu lo tetap dibilang mabuk!” Danis ikut mendekati Nando. Karena dia sendiri juga sama seperti Nando, kuat minum banyak. Tapi juga kadangkala melakukan tindakan antara sadar dan tidak sadar. Sampai Danis sendiri membuat peraturan jika dirinya mabuk di klub dan bertindak rusuh segera hubungin orang terdekat. Beryl misalnya. Beryl menghela nafas. Kenapa hidupnya jadi kelimpungan begini sih. Berurusan dengan dunia malam, alkohol, perempuan, juga dilema perasaan. Tatapan mata Isabella dan Beryl beradu. Terlihat suster Ratih membantu Isabella membersihkan luka di bibir dengan hati-hati. Isabella hanya duduk diam tanpa berniat berbicara pada siapaun kecuali suster Ratih. “Bantu ke kamar, sus.” pinta Isabella memutus kontak mata dari Beryl. Ada rasa lega di hati Isabella saat Beryl datang menyelamatkan. Suster Ratih membantu dengan sangat telaten. Juga Nando yang ditahan Danis untuk tidak bergerak dari posisinya. “Lo mendingan pulang deh. Ada orang yang lebih bisa dipercaya buat menjaga Isabella daripada elo.” Danis menyembur lewat kata-kata menyakitkan. Orang yang bisa dipercaya tentu saja Beryl. Bukan Nando. “Gue nggak akan menuruti apa mau lo. Tapi karena gue memang melakukan kesalahan pada Isabella. Jadi gue biarin kalian menjaga Isabella kali ini.” Tatapan tajam. Namun penuh makna. Nando beralih pada Beryl, “Untuk sekarang lo aman. Tapi tidak buat selanjutnya!” Nando menyeringai jahat. Banyak rahasia yang jelas Nando tahu. Beryl tidak takut pada ancaman Nando. Apapun yang terjadi selanjutnya juga tidak ingin membuat Beryl menghentikan tindakan menjaga Isabella. Beryl masih kekeuh. “Pulang lo, sialann…” Danis mengusirnya Nando terlihat adu argumen beberapa saat dan hendak memukul Danis tapi meleset. Nando mengumpat sadar dia kalah akibat terlalu banyak menenggak minuman keras. "Jangan sentuh calon istri gue!” ujarnya sebelum berlalu pergi dengan sempoyongan. Danis ikut duduk di dekat Beryl, “Setelah ini lo nggak akan aman, Ber!” Danis memberitahu Beryl. Tahu betul siapa Nando dan antek-anteknya. “Gue tahu…” kata Beryl menyadari posisinya akan semakin terhimpit. “Apa yang barusan dia bilang nggak akan mungkin cuma guyonan, Ber. Gue beneran tahu seperti apa Nando. Dia ambisius banget dipekerjaan.” Nando sangat terkenal soal kelicikannya di dunia bisnis. “Gimana?” Beryl mulai tertarik pada pembahasan soal siapa Nando. “Setahu gue. Kalaupun dia nggak bisa dapat tender yang dia mau. Akan ada masalah di pekerjaan orang yang dapatin tender tersebut. Sehingga ngebuatnya terpaksa meminta bantuan Nando. Alhasil, orang itu bakalan terlihat jadi babu.” “Ya lo tahu sendiri lah. Bekerja dengan Nando ada di belakangnya.” Danis menjelaskan dari apa yang selama ini dia ketahui. Sudah bukan rahasia lagi Nando menggunakan cara busuk dalam pekerjaan. “Lo bisa tanya ke papa lo. Pastinya dia nggak mungkin nggak kenal saingannya ini.” Kali ini Beryl cukup terkejut mengetahui fakta yang ada. “Papa gue?” Beryl bertanya tidak yakin. Danis mengiyakan, “Papa Ezra…” ungkapnya _____________________________________ “Sus biar saya aja.” Beryl meminta nampan berisi makanan dan obat milik Isabella Sedari semalam Beryl memutuskan menginap di rumah Isabella. Dia tidur di sofa ruang tamu. Juga Beryl memutuskan mengabari Prof.Warsono soal apa yang terjadi pada Isabella. Karena tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi. Isabella yang sedari tadi sibuk pada drama korea di laptop terkejut mengetahui kedatangan Beryl. Dia kira suster Ratih akan mengantarkan makanan tapi malah Beryl. “Suster Ratih mana?” Beryl meletakkan nampan di meja tempat tidur Isabella. “Gue suruh istirahat.” Beryl beralasan “Makasih…” ungkap Isabella tidak ingin berinteraksi lebih dengan Beryl Beryl tidak mengucapkan kata-kata melainkan meminta laptop Isabella dengan paksaan. Mununjuk pada makanan yang harus Isabella telan. “Gue pergi.” Namun Isabella menahannya, “Kenapa?” “Temenin.” Pintanya memohon Isabella Pov Aku makan dengan khidmat. Juga Beryl tidak mengucapkan apa-apa selain diam, setia menemani sedari tadi. Kemudian membantuku mengambil minum lalu meminum obat. Tidak ada interaksi lebih. Kebisuan menguasai keduannya. Aku ingin mengucapkan banyak-banyak kalimat terima kasih. Berkat Beryl akhirnya aku bisa selamat dari jeratan Nando, Meski itu mungkin, hanya sementara. Beryl selalu ada untuknya. Bagaimana caranya membalas kebaikan laki-laki dihadapannya ini. “Gue harus apa?” batin Isabella bertanya pada diri sendiri “Kalau gue ajak ngomong bakal berantem lagi nggak ya?” Aku memilin jemari. Sempat ragu. “Ber…” pada akhirnya aku memberanikan diri mengutarakan kalimat Beryl yang sedari tadi bermain dengan pikirannya sendiri menoleh padaku, “Kenapa, Bell?! Butuh apa?” ujarnya penuh perhatian Aku menggeleng cepat, “Nggak ada.” Aku terdiam sebelum berujar, “Makasih…” Beryl mengangguk patuh, “Nggak usah banyak terima kasih.” ucapnya sembari mengusap lembut kepalaku Bencana. Perlakuan Beryl membuat ambyar. _____________________________________ Mata Isabella terus memperhatikan gerak gerik Beryl. Seperti biasa setelah ritual membantu Isabella banyak hal. Beryl mulai menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa mulai dari mengerjakan tugas-tugas dari dosen, belajar, membaca buku atau jurnal online, dan entahlah Isabella juga tidak tahu apa yang Beryl lakukan pada laptop di pangkuannya. “Butuh apa, Bell?” Beryl baru menyadari Isabella bergelayut di pintu kamarnya. Pintu itu terhubung dengan ruang tamu. Kemungkinan Isabella butuh sesuatu dan ketika memanggilnya, Beryl tidak mendengar saking fokus. Kebetulan Beryl memang tipe orang yang gampang mendapat fokus dimanapun berada selagi dia bisa duduk nyaman. Isabella menggeleng lantas masuk lagi ke kamar. Beryl mengernyitkan kening. Aneh, pikirnya Beryl menghiraukan Isabella. Toh, jika memang perempuan itu membutuhkan sesuatu pasti akan mengatakan bukan?! 10 menit 20 menit 30 menit 35 menit Jemari Beryl berhenti mengetik pada deretan angka. Telingannya menangkap nada petikan gitar. Namun terhenti begitu saja. Bola mata Beryl beralih pada kamar Isabella. Apa yang sedang dilakukan perempuan itu?! Ingin rasanya Beryl masuk tapi dia menahan diri. Akan terkesan buruk saat Beryl terlihat keluar masuk kamar Isabella. Sementara kondisi mereka tidak memiliki ikatan apapun. “Ber…” Isabella muncul dengan kaki tertatih juga gitar di tangannya. Dengan gerakan cepat Beryl membantu Isabella berjalan. Lalu memintanya mencari posisi nyaman di sofa. “Mau main gitar?” tanyanya karena Isabella membawa sebuah gitar. “Gue nggak bisa mainnya.” kata Isabella memainkan asal setiap nada, “Lo bisa?” Isabella ingin tau. Beryl merebut gitar dari pangkuan Isabella, “Gue juga nggak begitu bisa sih. Cuma dulu pernah main tapi nggak tahu masih bisa apa nggak.” Beryl mencoba memetik gitar asal. Lalu mengangguk dan mulai mendonwload sebuah aplikasi di ponselnya. “Ada aplikasinya?” Isabella takjub sendiri melihat apa yang Beryl lakukan. “Ada.” ujarnya mulai sibuk menyetem gitar. “Itu ngapain?” Isabella mulai kepo. “Namanya stem gitar.” Beryl tersenyum kecil, “Proses buat mengenali bunyi nada-nada dasar pada senar gitar.” Isabella menahan nafas ketika senyum Beryl terukir. Bagaimana bisa orang setampan dan sepopuler ini bisa berada dalam jarak dekat dengan Isabella. Ini seperti mimpi. “Mau nyanyi apa?” Bahkan pertanyaan yang keluar dari mulut Beryl membuat Isabella tidak bisa berkutik. Dia sudah jatuh. Isabella jatuh pada pesona Beryl dalam keadaan tidak sadar. Isabella mengelak, menolak. Tapi sekuat apapun Isabella menahan, tatap saja ini kenyataan. “Awalnya ku tak bermaksud apapun. Saat ku kenal dirimu. Kita hanya saling bercerita tentang…ku dengannya kau dengan dia.” Beryl mulai bernyanyi. Lagu yang cukup popular. Isabella tahu lagu itu. “Mengapa Tuhan pertemukan kita yang tak mungkin menyatu. Aku yang tlah terikat janji. Engkau pun begitu.” Isabella merasa lagu ini adalah gambaran antara dirinya dan Beryl. Dalam posisi sulit. Bahkan sekalipun mereka bersama tidak akan membuat keadaan menjadi baik. Mata Beryl dan Isabella saling beratatapan, “Ku coba lawan aturan yang ada. Tuk terus bersamamu. Semakin ku tenggelam dalam keadaan. Semakin ku menginginkan lebih.” Benar. Keduannya saling menginginkan lebih. Sayangnya tidak segampang kalimat yang terucapkan. Isabella milik Nando. Beryl dengan Aida. Begitu rumit. “Mengapa Tuhan pertemukan kita yang tak mungkin menyatu. Aku yang tlah terikat janji. Engkau pun begitu.” Isabella ikut bernyanyi. Meresapi setiap makna yang terkandung di dalamnya. Benar-benar nyata dirasakan. Wajah Beryl semakin mendekati Isabella. Sampai Isabella bisa merasakan deru nafas Beryl yang beraroma mint. Suara gitar perlahan terhenti. Namun gitar itu masih bertengger manis di pangkuan Beryl. Tidak ada yang berkeinginan menjauh. Sampai akhirnya sebuah benda kenyal mendarat sempurna di bibirnya. Isabella sempat berpikir apakah ini mimpi. Beryl menciumnya?! Untuk pertama kalinya laki-laki itu memulai. Biasanya Isabella lah yang bergerak lebih dulu saat keduannya bertengkar. Tapi sekarang mereka tidak dalam kondisi saling mengamuk. Mereka baik-baik saja. Isabella tidak bisa lagi berpikir jernih. Dia terbuai pada apa yang dilakukan Beryl. Ciuman itu manis tanpa menuntut. Isabella tidak pernah sesuka ini dicium. Biasanya laki-laki yang menciumnya selalu menuntut lebih dan berakhir pada penolakannya. Beryl tidak begitu. Sampai suara seseorang menghentikan aksi keduannya. “Bella…Beryl?!” Kedua orang itu melepaskan diri. Dan syok dengan seseorang yang berdiri di hadapan mereka. “Om Warsono…” “Prof.Warsono…” “Saya ganggu?” ucap Prof.Warsono tanpa tahu diri. Sudah jelas kedatangannya cukup mengejutkan. Beryl tidak tahu jika tindakan mencium Isabella justru kepergok dengan Prof.warsono, dosen, sekaligus orang tua Isabella. “Jadi bagaimana?” “Kalian akan menikah setelah ini?” Beryl kehabisan kata-kata. Sementara Isabella kelimpungan. “Ini nggak kayak yang Om lihat…” Isabella memberi penjelasan. “Really?” Isabella mengangguk cepat Kali ini tatapan Prof.Warsono jatuh pada sang mahasiswa kepercayaannya. “Beryl…” panggilnya meminta penjelasan. “Maafin saya Prof…” gumam Beryl malu sendiri sekaligus bingung “Saya tunggu keberanian kamu, Ber.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD