“Lama banget, sih…” Jesika sudah menunggu sejak dua puluh menit yang lalu. Dia sengaja berpenampilan spektakuler agar Beryl bisa melihat kearahnya. Seolah penampilannya hanya ditujukan untuk Beryl seorang
“Lagian lo tahu sendiri, kan, kalau pagi kota kita ini macet. Kalau mau nggak macet ya jalan kaki.” Heran sendiri Beryl pada perempuan modelan Jesika. Sudah diberi tumpangan masih saja rewel. Memang dimana-mana perempuan tidak ada yang yang tidak menyusahkan.
Kecuali mamanya itu beda cerita. Kalau mamanya rewel pun Beryl tidak berani marah-marah begini. Memangnya mau jadi anak durhaka dan dikutuk jadi batu apa?
Jesika mendengus sebal. “Nanti pulangnya dijemput, kan?” pertanyaan atau paksaan
Beryl meliriknya sinis. “Pulang sendiri lah. Dipikir gue supir elo?” ujarnya jahat. Tepat membuat perasaan Jesika sedikit ngilu karena Beryl seolah menunjukkan terang-terangan jika dia enggan berlama-lama dengannya
“Oke. Gue pulang sendiri kalau gitu. Tapi soal video itu berarti nggak jadi, kan?” kali ini Jesika mengancam Beryl hingga laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain manut.
“Jam berapa lo pulang?”
“Nanti gue call deh. Yang jelas nggak sampai jam dua belas siang.”
“Oke…” Beryl melirik penampilan Jesika. Sungguh luar biasa mewah. Apa perempuan ini hendak kuliah atau akan pergi ke pesta. Penampilannya terlalu nyentrik seharunya tidak begini juga bukan?
Jesika sangat percaya diri, “Lo suka nggak sama penampilan gue?” Jesika menunjukkan bajunya. Lalu membusungkan dadaanya sehingga membuat Beryl berpaling. Apa-apaan, heh?!
“Bagus.” kata Beryl malas. Biar si Jesika diam dan nggak banyak bertanya lagi. Omong-omong Beryl juga mager gara-gara mesti menuruti permintaan Jesika
Jesika menemukan ide, “Kalau gitu gue bakal kayak gini terus deh. Biar elo suka.”
Apa Beryl perlu mengorek telinganya disini. Kenapa jadi kesannya dia menjemput Jesika untuk melakukan pendekatan. Bukan untuk mencaritahu video Isabella. “Gue mau lihat video itu dulu…” kata Beryl agar tidak salah jalur. Pasalnya lama kelamaan tingkah Jesika cukup mencuriga.
Raut wajah Jesika berubah kesal.“Kenapa sekarang?”
Beryl mendengus. “Ya kali gue minta lihatnya nanti. Kalau nanti ya sama aja bohong dong. Percuma juga gue antar jemput elo tapi nggak dapat apa yang gue mau.” Sembur Beryl agar Jesika mau mengerti
“Tapi gue maunya elo juga jemput gue nanti.” katanya manjah
Mencekik orang dosa nggak sih? “Iya-iya. Gue bakal jemput elo nanti. Tapi kasih lihat dulu dong.” Beryl jadi tidak sabaran begini. Pasalnya Jesika benar-benar menguras emosinya banget.
Jesika membuka ponselnya lantas menyetel sebuah video begitu mobil Beryl berhenti di lampu merah menuju kampus mereka. Mata Beryl membulat terkejut. Benar sekali dugaannya jika Jesika menyimpan video Isabella tanpa busana.
Saat Beryl hampir merebut ponsel Jesika namun tiba-tiba kendaraan di belakang mereka banyak yang menyalakan klakson. Sangat berisik, otomatis Beryl segera melajukan mobilnya. “Berikan ponselnya ke gue!” perintahnya dengan paksaan
Jesika tersenyum miring. “Video ini nggak bakal jadi konsumsi publik kalau elo jadian sama gue.”
Oh, Shittt…
Beryl tidak tahu kenapa Jesika malah memperbudaknya begini. “Udah gue anterin tapi tetap saja banyak permintaan.” Heran sendiri Beryl pada tingkah Jesika
“Ya gimana dong. Elo satu-satunya yang bisa ngebuat gue berada jauh di atasIsabella.” jawabnya diiringi senyuman manis. Beryl yang melihat hanya geleng-geleng kepala. Dia tidak perduli juga soal kepopuleran orang-orang. Bahkan penempatan label populer yang disandangnya juga enggan Beryl perdulikan.
“Dah sampai…” ujar Beryl begitu sampai di parkiran gedung jurusan Jesika
“Bukain pintunya.” pintanya maksa
Beryl membuang nafas kasar. “Nggak punya tangan, mbak?” semburnya penuh amarah
“Ada kok tapi mau manja sama calon pacar, mas.” Godanya balik pada Beryl
Beryl dengan amat sangat terpaksa membukakan pintu untuk Jesika. Begitu perempuan itu keluar tatapan orang-orang langsung mengarah kepada mereka. Apalagi paket lengkap dimana Jesika merangkul lengannya segala.
“Bisa nggak sih. Jangan banyak drama. Jalan sendiri tanpa nempelin gue apa nggak bisa?” Beryl risih sendiri lama-lama. Dia jadi teringan bagaimana Heny di kelas sering melakukan hal yang sama pada Hendrik. Beryl baru mengerti sekarang seperti apa rasanya.
“Bisa nggak sih sekali aja buat gue di atas awan. Gue mau orang-orang melihat kalau elo bisa takhluk juga sama si Jesika cantik ini.” Jesika memohon tapi itu bukan hal yang patut Beryl turuti, kan?
“Lo beneran edan, sumpah. Nggak waras!” Beryl geleng-geleng sendiri sembari mengekori Jesika yang menyeretnya entah kemana
“Ini bukan jalan menuju gedung jurusan elo.” kata Beryl sadar jika Jesika malah mengajaknya berkeliling entah kemana. Apa Jesika sudah gila dan mau memamerkan ke banyak orang setelah bisa diantar oleh dirinya. Jelas saja akan muncul persepsi orang-orang soal dirinya yang menjadi pacar baru Jesika.
“Lo akan senang sayang…” Jesika terus menyeretnya bahkan beberapa mahasiswa yang melihat mereka berdua masih sempat-sempatnya memberikan godaan. Dan dengan percaya dirinya Jesika mengatakan: kita baru jadian loh.
Sampai kapan Beryl bisa terbebas dari tingkah absurd Jesika.
Bolehkan sekarang Beryl bilang jika kadar gila yang dimiliki oleh Jesika lebih parah dari Isabella. Memang Isabella akan gila diwaktu-waktu tertentu, malahan dia akan dengan senang hati menyerangnya. Tapi itu dilakukan saat mereka memang hanya berdua saja bukan di tempat umum seperti yang dilakukan Jesika.
“Udah. Gue balik.” Beryl hendak memutar arah namun tidak bisa karena pada akhirnya Beryl ikut masuk ke kelas Jesika yang isinya adalah…orang melongo.
Ada apa dengan orang-orang hari ini?! Apakah ada yang salah saat Beryl datang bersama Jesika. Oh, Beryl lupa melepaskan lilitan tanga Jesika di lengannya. “Berhenti bersikap sok manjah, bisa?” kalimat Beryl hanya bisa di dengar Jesika
“Lo…sama Jesika, Ber?” tanya seorang perempuan dengan rambut keriting. Wajahnya seperti bule
“Lo jadian sama Jesika?”
“Omaigatttttt… bener-bener pencapaian yang luar biasa, Jes. Selama lo kuliah belum pernah tuh kayaknya dapat cowok sebening ini.” Goda salah satu teman Jesika dan otomatis membuat Beryl memutar bola mata malas. Rasanya cuma pengen bilang. “Gue diculik sama Jesika edan.”
“Atau jangan-jangan lo diguna-guna sama Jesika, ya, Ber?”
Beryl hampir mengangguk tapi tatapannya malah jatuh pada sosok perempuan yang baru saja datang. Dia juga menatap kearahnya dan Jesika secara bergantian.
“Kenalin. Cowok baru gue, nih.” kata Jesika sombong pada perempuan yang menjadi rivalnya itu.
Beryl tidak mengerti harus merespon apa. Dia hanya berharap Isabella tidak salah paham dan bisa berpikiran dewasa bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk menyelamatkan dirinya.
Dan jawaban Isabella sungguh membuat Beryl menyesal melakukan ini.
“Oh. Selamat deh. Gue nggak perduli.” ujarnya berlalu meninggalkan Beryl yang setia mematung di depan pintu sementara Jesika dengan hebohnya mengatakan soal Isabella iri, dengki, dan juga cemooh lainnya.
Beryl menatap Jesika, “Gue pulang…” ujarnya penuh penekanan
Beryl sempat menatap Isabella sekilas namun akhirnya dia memilih pergi. Entah bagaimana bisa Beryl justru merasa tidak terima saat Isabella mengacuhkannya kali ini.
“Apakah gue sia-sia melakukan ini semua?”