"Lo berantem sama Isabella?" Sebuah pertanyaan disodorkan oleh Danis tepat sesaat Beryl keluar dari ruangan kamar inap Isabella. Wajah Beryl terlihat kusut, kacau, dan beragam kelungsetan tergambar jelas disana. Beryl ikut duduk di samping Danis. Di deretan kursi yang sengaja disediakan pihak rumah sakit untuk menunggu jikalau ada sanak keluarga, kerabat tengah dirawat. "Apa nggak bisa Isabella buka mata. Kalau Nando itu nggak layak buat dia. Meskipun gue juga sadar diri. Gue nggak layak buat barengan sama dia." Beryl menjambak rambutnya frustasi. Secara tidak langsung memang Isabella mematahkan harapan seseorang. Kalau ada pilihan, tidak ingin Beryl jatuh terlalu dalam pada pesona Isabella. Tak mau banyak hal buruk terjadi padanya. Dia dilema, dipaksa menjauh, dipaksa membuang peras

