“Kinara,” lagi-lagi terdengar suara Rian.
Kinara pun mendorong d**a lebar Ardan sekuat mungkin, dan ternyata hanya sedikit bergerak.
“Ardan, aku mohon. Jangan ceritakan pada Rian tentang kita, aku mohon…” pinta Kinara.
Ardan tersenyum miring seolah menimbang ucapan Kinara, “Baiklah,” Kata Ardan akhirnya.
Kinara pun merasa lega mendengarnya, siapapun Ardan tak masalah yang penting ia sudah berjanji untuk merahasiakan tentang mereka berdua.
“Tapi—” Ardan tersenyum, menggantung ucapannya.
Dan saat itu Kinara merasa bahwa semuanya tidak semudah yang ia pikirkan.
“Kau harus datang ke apartemenku, malam ini,” bisik Ardan penuh maksud.
Deg.
Kinara benar, semuanya tak semudah itu.
“Kinara, kamu baik-baik saja?” tanya Rian lagi dari luar sana.
Kinara merasa keadaan semakin mendesak, ia tak punya pilihan lain. Lagipula semuanya nanti bisa mereka bicarakan dengan leluasa sampai Ardan setuju dengan keinginannya.
“I– iya, aku datang,” katanya yakin dengan suara bergetar.
“Buka blokir nomorku, atau–”
“Iya, aku buka,” cepat-cepat Kinara merogoh tasnya lalu mengeluarkan ponselnya, setelah selesai membuka blokir nomor Ardan, ia pun menunjukannya, “udah…” katanya cepat.
“Bagus,” Ardan tersenyum puas lalu menurunkan Kinara.
Saat itu Kinara cepat-cepat pergi sebelum Rian melihat ia dan Ardan berada di dalam toilet, ia takut pernikahannya dan Rian gagal.
Benar saja saat Kinara melangkah keluar hampir saja Rian melangkah masuk.
“Kamu baik-baik saja?” Tanya Rian memastikan.
“Iya, aku nggak papa,” katanya sambil berusaha untuk menstabilkan debaran jantungnya yang berdebar kencang akibat Ardan.
“Ada orang tua aku nunggu kamu,” kata Rian.
Keduanya pun kembali ke ruang makan, dan benar ada beberapa orang yang duduk disana.
Tatapan mereka terlihat sangat dingin membuat Kinara merasa tegang.
“Duduklah,” kata Rian menarik kursi untuk Kinara.
Kinara menurut lalu, duduk.
Tapi tak berselang lama Ardan kembali muncul lalu duduk dikursi kosong bersebelahan dengan Kinara.
Kinara benar-benar menegang dengan situasi sekarang, siapa sebenarnya Ardan? Sepupu Rian? Kenapa dari cara Ardan ia terlihat sangat berkuasa.
“Kinara, akhirnya kamu datang juga,” kata Wina tak lain ibu dari Rian.
“Tante, apa kabar?” tanya Kinara.
“Setelah kamu disini, Tante lebih baik sekarang,” kata Wina dengan senyuman lembut.
Kinara pun tersenyum, kemudian ia merasa sesuatu dibawah sana. Ya, tangan Ardan mengelus lembut kakinya.
Deg.
Kinara menegang seketika, ia sungguh bingung harus bagaimana. Perlahan tangannya turun ke bawah dan cepat menyingkirkan tangan Ardan.
“Kinara, Tante dan orangtuamu sudah sepakat. Minggu depan kamu dan Rian bertunang,” kata Wina.
Krang!
Terdengar suara sendok yang terjatuh, sejenak semua mata menatap menatap ke arah Ardan. Tapi kemudian menatap Kinara setelah Ardan mengambil sendoknya.
Tetapi ia tersenyum saat melihat kaki Kinara, ia pun mendekatinya dan menggigit bagian betisnya.
Kinara benar-benar menegang, jika ia menendang Ardan dibawah sana pasti akan mengundang pertanyaan. Siapa yang akan menjamin bahwa Ardan tak akan mengatakan bahwa mereka pergi memiliki hubungan spesial.
Akhirnya Kinara pun pasrah sambil berusaha untuk menahan diri, serta agar terlihat baik-baik saja.
“Bagaimana, Kinara?” tanya Wina lagi yang masih menunggu jawaban wanita itu.
“Ya, Tante,” jawab Kinara.
Kemudian Ardan pun kembali duduk di tempatnya. Ekpresinya terlihat datar.
“Ardan, kamu kapan akan menikah? Bukankah kamu sudah lebih dari mapan? Harta warisan dan bisnis beberapa bisnis yang kau bangun itu sangat berkembang pesat,” kata Wina.
Ardan pun menggangguk, kemudian ia melirik Kinara, “Pacarku memutuskanku demi lelaki kaya,” katanya dengan senyum sinis.
Deg.
Jantung Kinara kembali berdegup, ia tau orang yang dimaksud oleh Ardan adalah dirinya.
“Wah, mau seperti apa lagi yang dicari wanita itu? Kau sudah lebih dari sempurna,” kata Wina lagi.
“Syukurnya, Kinara tidak seperti itu. Dia adalah gadis sederhana dan baik, aku sangat menyukainya,” kata Rian.
Dibalas dengan senyum sinis mengarah pada Kinara. Kemudian Ardan pun memilih untuk bangkit dari duduknya dan pergi.
Kinara hanya bisa menundukkan kepala, sungguh ia terkejut ternyata Ardan bukan seorang pria biasa seperti selama ini ia kenal.