Jantung Berdebar Kencang

1264 Words
Reiner memiringkan kepalanya sedikit, matanya tetap menatap ke arah lemari. Ada kerutan tipis di dahinya, seolah ia merasakan sesuatu yang janggal. Tangannya terulur perlahan, jemarinya sudah menyentuh gagang pintu lemari. Melinda menahan napas. Seluruh tubuhnya menegang, seperti patung hidup yang menunggu putusan. Hanya tinggal satu gerakan kecil—dan semuanya akan terbongkar. Namun, tepat sebelum Reiner menarik pintu lemari, suara ketukan pintu kamar terdengar keras. “Room service!” seru seorang pria dari luar. Reiner berhenti. Tatapannya beralih ke pintu utama. “Ah, iya… pesanan makan malam.” Dia melepaskan pegangan pada lemari dan berjalan menuju pintu. Melinda merasakan lututnya hampir lemas. Suara kursi bergeser terdengar, lalu perempuan itu berkata, “Aku ambil piringnya, kamu aja yang tanda tangan.” Terdengar obrolan singkat antara Reiner dan petugas hotel. Dentingan piring, aroma makanan yang dibawa masuk, dan bunyi pintu tertutup kembali. Melinda memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Namun, ia tahu ini belum selesai. Dia harus keluar dari sini sebelum kesempatan itu hilang. Melinda menempelkan telinganya ke pintu lemari, mendengarkan dengan saksama. Suara gesekan sendok dan piring bercampur tawa kecil dari perempuan itu memberi tanda jelas—mereka sedang sibuk dengan makan malamnya. Inilah kesempatannya. Perlahan, ia mendorong pintu lemari hingga terbuka sedikit, cukup untuk menyelipkan tubuhnya keluar tanpa menimbulkan suara. Jantungnya berdetak kencang, setiap langkah terasa seperti menapaki ranjau. Dia bergerak ke arah pintu kamar, memanfaatkan suara tawa dan percakapan yang menutupi bunyi langkahnya. Jari-jarinya sudah menyentuh gagang pintu… tinggal memutarnya dan keluar. Tiba-tiba— “Rein, remote TV-nya mana?” suara perempuan itu terdengar. Melinda membeku. “Ada di sofa,” jawab Reiner sambil berjalan ke arah sofa—yang jaraknya hanya beberapa langkah dari pintu. Napas Melinda tercekat. Kalau Reiner memandang sedikit ke arah pintu, ia akan langsung melihatnya berdiri di sana. Dengan refleks, ia menunduk, pura-pura mengikat tali sepatunya yang sebenarnya sudah rapi, lalu melangkah ke samping, bersembunyi di balik rak kecil dekat pintu. Reiner mengambil remote, kembali ke meja, dan percakapan mereka berlanjut. Melinda menelan ludah, lalu dengan hati-hati memutar gagang pintu. Begitu celah cukup terbuka, ia melangkah keluar, menutup pintu perlahan tanpa suara. Begitu berada di lorong, ia nyaris jatuh terduduk, seluruh tubuhnya masih gemetar. Tapi yang lebih parah—air matanya mulai mengalir, meski ia memaksa dirinya untuk tetap berjalan menjauh dari kamar 507. Melinda berjalan cepat melewati lobi hotel, mengabaikan tatapan penasaran beberapa tamu. Matanya terasa panas, dadanya sesak. Begitu pintu kaca terbuka, udara malam yang lembab langsung menyapu wajahnya—namun tak mampu mendinginkan amarah yang membara di dalam hati. Dia masuk ke mobil, menyalakan mesin dengan tangan yang masih gemetar. Napasnya tersengal, matanya mulai buram oleh air mata. Dengan gerakan cepat, ia menekan tombol panggil di ponselnya. Nomor Jessica. Telepon langsung tersambung. “Mel? Gimana? Udah ketemu—” “Kamu bener, Jess!” teriak Melinda, suaranya pecah. “Kamu bener… dia bawa perempuan ke hotel itu! Aku liat sendiri! Mereka satu kamar… ada gelas wine, ada sepatunya… dia bahkan—” suaranya tersendat oleh isak. “Mel, tenang dulu… kamu di mana sekarang?” suara Jessica terdengar cemas. “Aku nyetir! Aku nggak mau dengar alasan apapun lagi! Dia penghianat!” Melinda memukul setir, air matanya makin deras. Ditengah kemarahannya, matanya tidak fokus pada jalan. Tangannya mencengkeram setir terlalu kencang, pikirannya hanya berputar pada wajah Reiner dan perempuan itu. Tiba-tiba— Seekor kucing oranye meloncat dari trotoar, berlari menyeberang tepat di depannya. Melinda baru tersadar dan menginjak rem mendadak. Ban berdecit keras, tubuhnya terdorong ke depan, ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Jantungnya berdegup kencang. Kucing itu berhenti di tengah jalan, menatapnya sebentar, lalu berlari pergi ke arah seberang. “Mel?! Kamu kenapa?!” suara Jessica terdengar panik dari ponsel. Melinda memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas. “Aku… aku hampir nabrak,” ucapnya lirih, suaranya masih bergetar. Namun dibalik itu, rasa marah dan sakit hati terhadap Reiner belum surut—bahkan terasa semakin menghantam. Melinda kembali menyalakan mesin mobilnya setelah memutuskan panggilannya dengan Jessica. Malam sudah sangat larut, jalanan mulai sepi, dan lampu kota berpendar redup di kejauhan. Kepalanya terasa berat—perpaduan antara amarah, tangis, dan rasa kantuk yang mulai menyerang. Hawa AC mobil yang dingin membuat matanya semakin berat. Ia memaksa untuk tetap fokus, tapi pikirannya melayang-layang pada Reiner, ucapan Jessica, dan pemandangan yang ia lihat di hotel tadi. Hingga— BRAAAK! Tubuhnya tersentak ke depan. Suara benturan logam bergema di telinga. Melinda langsung melebarkan matanya, panik. Dia baru sadar mobilnya menabrak bagian belakang sebuah mobil lain di depannya. Namun yang membuatnya terperangah adalah… mobil itu sangat mewah, cat hitamnya berkilau sempurna meski di bawah lampu jalan yang redup. Jelas ini bukan mobil biasa. Belum sempat ia berpikir, pintu mobil mewah itu terbuka. Seorang lelaki keluar dengan langkah mantap. Dari kejauhan, posturnya tinggi dan tegap. Saat cahaya lampu jalan menimpa wajahnya, Melinda bisa melihat jelas—pria itu sudah cukup umur, mungkin sebaya dengan ayahnya. Melinda menelan ludah. Ada sesuatu pada wajah pria itu yang membuat nafasnya tercekat—Pria itu sangat tampan. Pria itu berjalan mendekat, mengetuk kaca mobil Melinda keras-keras. “Turun sekarang.” Suaranya dalam dan tegas, tanpa sedikit pun nada basa-basi. Melinda menggeleng, tubuhnya menempel ke kursi, jemarinya mencengkram setir. “Aku takut—” Ketukan berubah menjadi hentakan keras. “Jangan paksa saya memecahkan kaca mobilmu, Nona.” Nada ancamannya begitu dingin, membuat bulu kuduk Melinda meremang. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia menekan tombol untuk membuka kunci pintu, lalu mendorongnya perlahan. Udara malam langsung menerpa wajahnya saat ia melangkah keluar. Tatapan Melinda bertemu dengan mata pria itu. Tatapan yang tajam, penuh wibawa, namun entah kenapa menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Dan di kepalanya, hanya satu hal yang terlintas—kenapa pria ini sangat tampan? Pria itu berdiri tegak di depan Melinda, menatap mobilnya yang penyok di bagian belakang. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya tajam. “Mobil saya rusak parah di bagian belakang,” ucapnya datar. “Kamu mau ganti rugi atau saya datangi rumahmu?” Melinda yang masih shock spontan menjawab, “Mobil saya juga rusak, Tuan…” suaranya terdengar ragu, nyaris seperti alasan yang ia tahu tak akan diterima. Pria itu menyipitkan mata, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Saya tidak peduli. Jadi bagaimana? Ganti rugi… atau saya langsung cari alamat rumahmu sekarang?” Jantung Melinda berdegup kencang. Kata-kata mencari alamat rumah langsung membuatnya panik. Ia tak mau ayahnya tahu soal ini. Selama ini ia sudah terlalu banyak membuat masalah—ayahnya sering keluar uang untuk menutupi kebodohannya. “Oke… oke! Aku akan ganti rugi,” jawab Melinda cepat. “Kita tukeran nomor ponsel dulu. Setelah itu kita bisa komunikasi. Kalau untuk sekarang… dompet saya ketinggalan di rumah.” Pria itu menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Baik. Tapi ingat… kalau kamu lari, aku bisa mencarimu kemanapun kamu sembunyi.” Nada suaranya dingin tapi penuh keyakinan, seperti ancaman yang tak main-main. Mereka pun bertukar nomor ponsel. Melinda berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, padahal jantungnya berdebar kencang. Setelah itu, pria penuh kharisma itu berbalik, masuk ke mobil mewahnya, dan menutup pintu dengan gerakan mantap. Mesin menderu halus sebelum mobil itu melaju meninggalkan Melinda sendirian di pinggir jalan. Melinda berdiri mematung beberapa detik, lalu menghela nafas panjang. “Ah, sial sekali aku…” gumamnya lirih, menatap bodi mobilnya yang penyok dan dompet yang benar-benar tertinggal di rumah. Malam itu semakin terasa panjang dan melelahkan. “Semoga aku ga ketemu lagi sama dia, cukup lewat telepon saja!” ucap Melinda menatap mewah yang ia tabrak. Di sisi lain Zico masuk ke dalam mobil mewahnya dan berkata, “cantik juga. Selamanya tak akan aku lepaskan!” Zico melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba ponsel Melinda berdering. Melinda melihat layar ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD