Bab 02

1495 Words
Keesokan harinya Pukul 06.00 Zoya melihat penampilannya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Ia tersenyum manis menatap kecantikannya. “Perfect!” gumamnya Hari ini adalah hari pertama Zoya masuk kampus. Sebagai anak baru ia harus tampil secantik mungkin agar terlihat sempurna di mata seniornya. Ia yakin banyak laki-laki yang akan tertarik dengannya. Kemeja serta dipadukan dengan rok di atas lutut menambah kesan cantik bagi Zoya. Penampilannya terlihat simple dan elegan. Namun Zoya tidak mengetahui jika saat ini ia tinggal di lingkungan pesantren yang pastinya dituntut untuk menggunakan pakaian tertutup. “Selesai! Saatnya ke kampus.” ujar Zoya Tok.. tok.. tok Baru akan memegang knop pintu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dan… Ceklek “Iya!” “Astagfirullah’haladzim.” Zeo langsung berbalik badan. Jantungnya berdetak cepat karena terkejut. Ia tidak menyangka Zoya keluar memakai pakaian seperti itu. Zeo merasakan tubuhnya panas dingin setelah melihat pakaian Zoya. Selama ini santri di Pesantren Al-Falah tidak ada yang menggunakan pakaian terbuka. Jika hal itu terjadi dia akan mendapat peringatan keras, atau langsung dipulangkan ke rumah orang tuanya. “Kok balik badan? Kenapa?” tanya Zoya Wajah Zoya terlihat semakin sumringah setelah melihat kedatangan Zeo, apalagi hari masih pagi. “Apa yang telah kamu lakukan?” ujar Zeo tanpa berbalik badan Zoya menautkan kedua alisnya bingung. Ia tidak mengerti maksud perkataan Zeo. “Memangnya apa yang aku lakukan?” “Pakaian kamu!” Zoya menunduk menatap penampilannya. Ia merasa tidak ada yang aneh dengan penampilannya. Lalu di mana letak kesalahannya? “Memangnya ada apa dengan pakaianku? Bukankah ini cocok!?” “Astagfirullah.” Zeo panik karena takut ada yang melihat mereka dan terjadi salah paham. Ia sedang berpikir keras untuk memberitahu Zoya jika pakaian yang dia kenakan tidak pantas. “Ganti pakaianmu sekarang juga!” ucapnya dengan penuh penekanan “—“ Zoya bergeming. Ia mengangkat bahunya acuh tidak peduli dengan perkataan Zeo. Ia merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya, bahkan ia terlihat sangat cantik. Zoya tersenyum smirk melihat punggung Zeo. Zeo merasa heran karena tidak ada jawaban ataupun suara dari Zoya. Karena merasa penasaran ia memberanikan diri menoleh ke belakang dengan mata yang menyipit. Dan bertepatan di saat itu Zoya beralih ke arah depan membuat Zeo tidak melihat keberadaannya. Zeo membuka mata sepenuhnya karena tidak melihat keberadaan Zoya. “Apa dia berganti pakaian?” gumamnya bertanya-tanya “Tapi kenapa tidak ada suara sama sekali?” “Huhh.. sudahlah! Mungkin aku tidak mendengarnya.” Zeo kembali berbalik badan, dan… “Hai!” Deg “ASTAGFIRULLAH.” Zeo terlonjak kaget karena Zoya tiba-tiba berada tepat di hadapannya. Zeo kembali menutup mata membuat Zoya berdecak kesal. “Ck, kenapa tutup mata sih? Buka nggak!?” ujar Zoya “Kenapa kamu bisa di hadapan saya? Bukankah saya menyuruh kamu ganti pakaian.” ujar Zeo masih dengan menutup mata “Nggak mau!” Zoya menolak mentah-mentah perintah Zeo padahal peraturan pesantren sudah cukup jelas. Ia justru bersendekap d**a menunggu Zeo membuka mata. Zoya merasa heran padahal tidak ada yang salah dengan pakaiannya. “Astagfirullah’haladzim. Apa yang harus aku lakukan?” batin Zeo berucap Zeo tidak bisa terus bertahan di dekat Zoya karena akan berakibat fatal. Lebih baik ia mengalah untuk pergi. Ketika Zeo ingin pergi Zoya menghalanginya. Zoya merentangkan kedua tangannya menghadang Zeo. “Apa yang kamu lakukan?” ujar Zeo dengan nada panik “Kamu mau kemana?” “Saya mau pergi!” “Nggak boleh!” “Awas!” “Enggak. Aku nggak akan kasih jalan sebelum kamu membuka mata.” “Astagfirullah.” Zeo benar-benar panik karena takut ada yang melihat keberadaan mereka. Apalagai Zoya semakin mendekatinya. “Tolong jaga sikap kamu sebagai santri di sini! Kamu harus mengikuti aturan di pesantren ini. Cepat ganti pakaian kamu jika tidak ingin saya pergi.” “Ck,” decak Zoya “Memangnya kenapa dengan pakaian ini? Bagus kok.” “Cepat ganti atau saya tinggal kamu di sini!” “Ck, iya-iya.” Zoya menghentakkan kakinya kesal lalu masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. “JANGAN LUPA PAKAI GAMIS DAN HIJAB!” teriak Zeo tanpa berbalik badan “Jingin lipi piki gimis din hijib.” ujar Zoya menirukan suara Zeo dengan nada menye-menye. Beberapa menit kemudian. Ceklek Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Zoya keluar kamar dengan menggunakan gamis serta hijab yang melilit kepalanya. Namun sayangnya hijab yang ia kenakan tidak terpakai dengan sempurna. Rambut Zoya masih sangat terlihat seperti tidak menggunakan hijab. “Dah, ayo!” ujar Zoya dengan nada sedikit kesal Zeo menoleh ke samping dan seketika menghela nafas lelah. “Huhh.. Astagfirullah’haladzim.” lirihnya “Kenapa lagi, sih?” “Pakaian tertutup kan? Ini sudah tertutup.” ujar Zoya “Hijab kamu benerin!” “Benerin gimana?” “Ck, ribet banget sih! Udah ah, yang terpenting sudah tertutup.” Zoya melangkah lebih dulu meninggalkan Zeo. Menurutnya laki-laki itu banyak aturan yang membuatnya kesal. Baru dua langkah tiba-tiba Zeo menarik lengan bajunya membuat Zoya tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Tubuh Zoya tertarik ke belakang. “Aakkhh..” teriak Zoya karena ingin terjatuh Dan… Hap Reflek Zeo menangkap tubuh Zoya membuat gadis itu jatuh ke pelukannya. Dalam hitungan detik keduanya saling menatap. Jantung Zoya berdetak cepat ketika melihat wajah tampan Zeo dari jarak yang begitu dekat. Rasa ingin memilikinya semakin kuat. Deg.. deg.. deg “MasyaAllah, tampan sekali! Jauh lebih tampan dilihat dari jarak dekat.” ujar Zoya dalam hati “Astagfirullah.” Zeo menegakkan tubuh Zoya dan melangkah mundur sedikit menjauh dari gadis itu. Berada di dekat Zoya membuat Zeo banyak-banyak istigfar. Tanpa mengatakan apapun Zeo melangkah lebih dulu meninggalkan Zoya yang masih terbengong. Ia sudah cukup lelah menasehati gadis itu. “Hei, tunggu!” teriak Zoya “Ish.. ngeselin! Kok ditinggal sih!?” Zoya berlari kecil menyusul langkah Zeo. Wajahnya terlihat cemberut padahal baru saja jantungnya berdebar kencang karena bahagia. “Rasa untuk memilikinya semakin kuat.” gumam Zoya sembari tersenyum tipis Kampus Baru menginjakkan kaki di kampus Zoya menerima berbagai macam tatapan dari mahasiswi lain. Ia menatap dirinya sendiri sembari menaikkan sebelah alisnya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan pakaiannya. “Kenapa mereka menatapku seperti itu? Menurutku nggak ada yang salah.” gumamnya “Assalamualaikum.” salam seseorang “Waalaikumsalam.” Zoya menatap ke arah seorang perempuan cantik yang tiba-tiba menghampirinya. Ia menatap penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Bajunya begitu longgar disertai hijab panjang yang menutup kepalanya dengan indah. Hal tersebut membuat Zoya merasa gerah melihatnya. “Iya. Ada apa?” tanya Zoya “Em.. kamu mahasiswi baru di sini?” Zoya mengangguk sebagai jawaban. “Iya. Aku juga santri di Pesantren Al-Falah.” “Ooh..” perempuan itu tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya berniat berkenalan dengan Zoya. Zoya menatap tangan tersebut dengan tatapan bingung. “Kenalin nama aku Bella Aurelia!” ucapnya memperkenalkan diri “Ah, aku Zoya!” ucapnya sembari menerima uluran tangan Bella Keduanya saling melempar senyuman hangat. Baru pertama kali bertemu Zoya merasa bisa berteman baik dengan Bella. Dari sekian banyaknya mahasiswi yang menatapnya aneh, tapi tidak dengan Bella. Perempuan itu justru mengenalkan diri padanya. “Em.. mau duduk sebentar?” ujar Bella “Boleh!” Bella mengajak Zoya duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari mereka saat ini. Ia ingin memberikan sedikit arahan tentang hijab yang dikenakan Zoya. Bella tidak bermaksud sombong, tapi ia tidak ingin Zoya menjadi pusat perhatian mahasiswa yang lain. “Em.. boleh aku bicara sesuatu? Tapi aku harap kamu tidak tersinggung dengan perkataanku.” ujar Bella “Boleh! Mau bicara soal apa?” Bella mengulurkan tangannya lalu mengatakan, “Sebaiknya rambut ini ditutup sempurna oleh hijab.” ucapnya sembari merapikan hijab Zoya Zoya menatap Bella ketika perempuan itu merapikan hijabnya dengan telaten. Tidak ada tatapan kebencian ataupun keanehan, yang ada hanya tatapan tulus darinya. Mereka baru pertama kali mengenal namun Bella begitu baik padanya. “Nah, selesai! Kalau seperti ini kelihatan tambah cantik.” ujar Bella sembari tersenyum “Oh, ya?” Bella mengangguk sebagai jawaban. “Sebentar! Aku bawa kaca kamu bisa melihatnya langsung.” Bella memberikan kaca kecil pada Zoya. Dan benar saja hijab yang Zoya kenakan saat ini terlihat lebih rapi dan pastinya lebih tertutup. “Bagaimana? Jadi lebih cantik yang sekarang, bukan?!” ujar Bella “Iya. Lebih rapi juga.” “Seterusnya pakai hijab seperti ini, ya! Jangan seperti tadi yang kelihatan rambutnya.” “Memangnya kenapa?” Bella meraih kedua tangan Zoya lalu menggenggamnya dengan lembut. Ia akan memberikan nasehat sedikit padanya. “Sehelai rambut bisa membawa kamu dan orang tua kamu ke api neraka. Karena hal itu kamu harus sempurna dalam menutup aurat.” “Tapi aku belum terbiasa.” Bella tersenyum kecil mendengarnya. “Tidak harus terburu-buru, yang terpenting tetap istiqomah. Lakukan perlahan, nanti juga akan terbiasa.” “Hmm.. baiklah! Aku akan mencobanya.” “Terima kasih sudah menasehatiku!” ujar Zoya Bella tersenyum sebagai jawaban. “Ya sudah, kita ke kelas, yuk! Kamu mahasiswi baru, kan!? Takutnya nanti terlambat.” “Iya.” Bella dan Zoya jalan beriringan menuju kelas. Dan kebetulan mereka satu kelas. Keduanya bisa berteman baik. Thank U All:)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD