Aura Calon Pengantin

1498 Words

Setelah empat puluh menit perjalanan yang tenang, mobil Elvan akhirnya berhenti di depan rumah Cindera. Hujan sudah benar-benar reda, menyisakan aroma tanah basah dan embun yang menempel di dedaunan. Lampu teras rumah menyala lembut, memberikan kehangatan di tengah malam yang dingin. Elvan turun lebih dulu, membuka payung, lalu bergegas ke sisi penumpang. Ia membukakan pintu untuk Cindera yang tampak lelah, tapi sedikit tersenyum melihat perhatian itu. “Hati-hati melangkah, jalannya masih licin,” ujar Elvan pelan. Cindera mengangguk, memegang payung yang Elvan pegang bersamaan. Langkah mereka beriringan menuju pintu rumah. Dari jendela, tampak Tuan Brama dan Nyonya Ratih yang rupanya belum tidur. Mereka segera keluar begitu melihat anak gadis mereka datang bersama Elvan. "Nak Elvan? Ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD