Ch.01 Desah Dan Resah

1628 Words
BAB 1 Desah Dan Resah “Uuuh, Daddy Dantheo, teruskan. Aku menyukainya … jangan berhenti, feels so good.” Hentakan demi hentakan di bagian bawah perutnya membuat wanita berambut pirang tersebut meracau nikmat. Sang lelaki memang terkenal begitu liar di atas ranjang. Cahaya lampu tidur yang berpendar keemasan di salah satu kamar utama Yan’s Mansion seolah menciptakan semesta tersendiri bagi Dantheo dan Zalma, sepasang suami istri yang tengah tenggelam dalam keindahan cinta berbalut gairah. Di luar sana, angin Eropa mungkin berembus dingin, tetapi di dalam ruangan ini, suhu udara terasa memanas secara perlahan seiring dengan gesekan kulit yang kian intens. Dantheo menatap istrinya dengan tatapan yang b*******h, penuh dengan kepemilikan mutlak yang hanya ia tunjukkan pada wanita ini. “Jangan menahannya, Princess!” Sang Tuan Muda berbisik tajam sambil terus menghentak ke dalam raga basah berkeringat sang istri. “Aku ingin mendengar desahmu, ingin mendengar bagaimana aku menghancurkan semua kendalimu malam ini!” Dantheo mulai menelusuri lekuk leher Zalma dengan ujung lidahnya, seolah sedang menghafal setiap inci mahakarya di bawah wajahnya tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tubuh sang istri yang selalu membuatnya kehilangan kewarasan. Tanpa banyak bicara, mendadak Dantheo berhenti menghujam dan justru bergerak turun ke ujung ranjang. Lalu, dengan kasar ia menarik kedua kaki jenjang berkulit mulus agar terbuka lebar di hadapannya. "Daddy Da-Dantheo ... apa yang kamu lakukan?" bisik Zalma dengan napas yang mulai tersengal. Tentu saja dia tahu apa yang suaminya akan lakukan, dia hanya reflek saja bertanya begitu untuk mempersiapkan apa yang bakal terjadi setelah ini. Dantheo tidak menjawab. Ia justru membenamkan kepalanya di antara kedua kaki istrinya, memberikan sentuhan yang sangat intim dan berani. Zalma tersentak hebat, kepalanya mendongak ke belakang hingga urat lehernya terlihat jelas. Ia meremas seprai sutra di bawahnya dengan sangat kuat saat merasakan lidah Dantheo bekerja dengan sangat lihai di titik paling membuatnya gila. “God …kamu …!” Erangan demi erangan dikeluarkan oleh bibir merah muda tersebut saat diserang gila-gilaan seperti ini. Momen bercinta mereka tidak pernah tidak panas. Suami istri ini begitu senang mengeksplorasi tubuh satu sama lain dan membangkitkan gairah hingga di titik paling atas. Pernikahan mereka selalu diguyur dengan hasrat membara dan itu yang membuat mereka kian jatuh cinta setiap harinya. Setelah membuat istrinya hampir kehilangan kesadaran karena kenikmatan, Dantheo kembali naik ke atas. Kini giliran Zalma yang ingin memberikan pengabdiannya. Dengan gerakan yang sangat berani, Zalma mendorong tubuh suaminya hingga telentang. Rambut pirangnya terurai menutupi wajah Dantheo saat ia merangkak turun. Ibu dua anak itu mulai mengulum milik sang suami dengan sangat perlahan, memainkan setiap saraf suaminya dengan cara yang sangat nakal. Desah berat keluar dari tenggorokan Dantheo. Ia mencengkeram rambut Zalma, bukan untuk menghentikannya, melainkan untuk memandu gerakan istrinya agar semakin dalam. "f**k ... Princess ... kamu benar-benar ingin membunuhku malam ini dengan aksi liarmu, hah?" Permainan itu mencapai puncaknya saat Dantheo membalik tubuh Zalma hingga kini istrinya itu berada dalam posisi merangkak di tengah ranjang besar mereka. Sang mafia tampan berlutut di belakangnya, menatap punggung mulus Zalma yang berkeringat sebelum ia mencengkeram pinggang ramping itu dengan kedua tangan yang kuat. Tanpa ragu, Dantheo menghentak dari belakang, menyatukan tubuh mereka dalam satu gerakan perkasa yang membuat istrinya berteriak kecil. "Love you, Daddy!" Zalma memejamkan matanya rapat-rapat, tangan bertumpu pada bantal untuk menahan setiap dorongan suaminya yang bertenaga. "Katakan namaku, Princess ... katakan siapa pemilikmu," bisik Dantheo tepat di telinga istrinya sembari terus bergerak dalam irama yang kian panas. "K-kamu ... hanya kamu ... Dantheo ... Dantheo Lycenzo adalah pemilikku!” rintih Zalma dengan suara yang semakin tidak beraturan. Setiap hentakan sang suami terasa sangat dalam, mengenai titik-titik yang membuat seluruh sarafnya seolah tersengat listrik. Keduanya terjebak dalam badai gairah yang liar, tidak peduli dengan waktu yang terus berjalan hingga akhirnya mereka mencapai puncak dunia bersama dalam sebuah ledakan yang menguras seluruh tenaga. “f**k!” erang Tuan Muda Lycenzo, suaranya memenuhi kamar tidur mereka yang luas dan mewah. Lalu, setelahnya hening dan hanya ada deru napas bersahutan bersama kepuasan yang telah tercapai. *** Beberapa saat kemudian, setelah napas mereka mulai kembali normal, Zalma menyandarkan kepalanya di d**a bidang Dantheo. Ia masih bisa merasakan detak jantung suaminya yang sangat kencang, sama kencangnya dengan miliknya. "Hubby, setelah melihat kedua anak lelaki kembar kita, aku benar-benar ingin memiliki seorang anak perempuan," bisik Zalma dengan nada suara yang manja, membayangkan punya seorang anak perempuan. Dantheo tertawa kecil, lalu mengecup kening istrinya yang masih basah oleh keringat. “Lelaki atau perempuan bagiku sama saja. Yang penting mereka sehat dan kamu juga sehat, Princess.” Zalma memeluk kian erat dan kembali berkata, "Aku membayangkan betapa cantiknya dia nanti, mengenakan gaun merah muda dan memiliki rambut yang bisa aku kepang. Aku ingin dia lahir secepatnya agar rumah ini semakin ramai." Dantheo menghela napas panjang, lalu membelai rambut pirang istrinya dengan lembut. "Aku juga sangat menginginkan seorang putri yang mirip denganmu, Princess.” “Tapi kamu harus ingat apa yang dikatakan dokter pasca operasi cesar-mu kemarin. Dokter menyarankan agar kita menunggu setidaknya dua tahun lagi supaya jahitan operasi di rahimmu menutup dengan sempurna dan tubuhmu benar-benar kuat kembali. Aku tidak mau kamu dalam bahaya hanya karena terburu-buru hamil lagi." "Tapi dua tahun itu terasa sangat lama, Dantheo. Aku merasa tubuhku sudah pulih sepenuhnya," bantah Zalma seraya mengecup d**a suaminya. Namun, Dantheo menggeleng. “Turuti saja saran dokter tersebut dan baru hamil lagi dua tahun dari sekarang.” “Untuk saat ini, mari kita curahkan seluruh perhatian kita untuk Draco dan Draven, kedua anak lelaki kita," jawab Dantheo dengan nada final, menolak keinginan sang istri untuk segera hamil lagi. Zalma hanya bisa mengangguk pasrah, meskipun ia sangat mendambakan kehadiran seorang putri kecil di antara mereka. *** Sementara itu, di belahan bumi New York yang lain, ketenangan yang dirasakan pasangan itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh seorang wanita bernama Riana Maxwin. Di koridor Unit Gawat Darurat rumah sakit Metropolitan Hospital New York yang dingin dan ramai, Riana berdiri dengan tubuh lemas. Di depannya, seorang dokter jaga menatapnya dengan raut wajah yang suram, seolah sedang memikul beban seluruh dunia hanya untuk menyampaikan sebuah berita duka. "Nyonya Maxwin, mohon kuatkan hatimu. Hasil pemeriksaan menyeluruh dan pemindaian yang baru saja selesai menunjukkan kondisi yang sangat serius pada putri Anda, Daniela," ujar dokter jaga itu dengan nada suara prihatin. "Menurut diagnosa kami, putri Anda menderita penyakit yang disebut Neuroblastoma. Ini adalah jenis kanker yang sangat ganas dan menyerang sel-sel saraf pada anak-anak.” Riana terbelalak dan seluruh dunianya membeku detik itu juga. Ia terlalu syok hingga tak bisa berkata-kata dan hanya membuka bibir sangat lebar. Dokter jaga lanjut menjelaskan, “Gejala demam dan nyeri perut yang dialaminya ternyata adalah tanda dari massa tumor yang sudah berkembang di dalam perutnya." Riana merasa seolah seluruh semestanya runtuh seketika. Nama penyakit itu terdengar sangat asing dan sekaligus sangat menakutkan bagi seorang ibu. "Ka-kanker? Ti-tidak mungkin!” Wajah cantik mantan foto model itu menggeleng cepat. Air mata menetes tanpa bisa dikondisikan. “Di-dia … Daniela … anakku baru berusia dua setengah tahun! Bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa terena kanker!” “Ini tidak mungkin! Hasil diagnosa kalian salah! Hasil USG itu salah! Dokter anak dua minggu lalu mengatakan dia hanya kelelahan setelah sakit flu atau batuk!” Bahkan, saking syok-nya Riana sampai mendorong d**a sang dokter dan membentak kencang, “Jangan membohongiku! Akan kututuntut rumah sakit ini dengan salah diagnosa!” Dokter jaga itu menatap lirih, dia tidak marah karena tahu sehancur apa hati wanita di depannya tersebut. Ia justru meraih jemari Riana yang mendorong-dorong dadanya dan menggenggam erat seakan memberi kekuatan. “Nyonya, saya tahu ini pasti sungguh membuat Anda syok dan hancur. Apa yang Anda perlihatkan saat ini adalah reakis yang wajar,” ucapnya tersenyum sedih. Lalu, dia lanjut menjelaskan. "Neuroblastoma memang penyakit yang sangat kompleks, Nyonya. Tidak selalu terdeteksi sejak awal hingga mulai terasa menyakitkan seperti sekaang.” “Penyakit ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa sembuh total, melibatkan rangkaian kemoterapi, radiasi intensif, dan kemungkinan besar tindakan operasi besar untuk mengangkat tumornya," jelas sang dokter dengan penuh simpati. "Dan saya harus menyampaikan hal ini secara jujur. Biaya untuk prosedur medis tingkat tinggi ini sangatlah besar. Bisa mencapai jutaan dollar hingga seluruh proses pemulihan Daniela selesai nanti." Riana menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit yang kaku, merasa kakinya tidak lagi sanggup menopang berat tubuhnya sendiri yang mendadak terasa lebih berat daripada sebuah gunung. Jutaan dollar? Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu saat karir modelingnya sudah nyaris berhenti? Pekerjaannya sebagai manajer klub malam di tempat sahabatnya memang memberikan gaji yang lumayan, tetapi tidak akan pernah cukup untuk menutupi biaya kanker yang setinggi langit itu. "Malam ini Daniela harus menjalani rawat inap untuk pemantauan ketat terhadap stabilitas kondisinya," lanjut dokter jaga tersebut. "Besok pagi, tim dokter ahli yang terdiri dari dokter spesialis onkologi anak, spesialis bedah pediatrik, dan hematologi akan menemui Nyonya di kamar perawatan.” “Mereka akan menjelaskan rencana tindakan medis yang harus segera diambil dan rincian prosedur yang harus segera dijalani Daniela." Riana hanya bisa mengangguk lemah, butiran air mata yang sejak tadi tumpah membasahi pipinya kian deras mengalir. Pikirannya benar-benar buntu, dihantui oleh bayangan masa depan anaknya yang sedang berada di ujung tanduk. Di tengah keputusasaan yang melanda, tiba-tiba satu wajah lelaki muncul dengan sangat jelas di dalam benaknya. Ia meremas jemarinya sendiri yang terasa sedingin es, memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi jika ia membuka rahasia yang selama ini telah dikunci rapat. Hatinya tahu pria itu memiliki segala kekuasaan dan kekayaan yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Daniela, tetapi ia juga sangat sadar bahwa pria itu sudah memiliki keluarga yang tampak sangat bahagia bersama istri pilihannya. Riana menatap ke arah pintu bilik tempat Daniela terbaring lemah dengan selang infus menempel di tangannya yang mungil, terlihat sangat tidak berdaya. "Haruskah aku mengatakannya sekarang? Haruskah aku menghancurkan ketenangan hidupnya demi nyawa anakku?" gumam sang wanita di dalam batinnya yang paling dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD