Kenan melirik jam tangan, lalu buru-buru meraih jasnya yang terlipat di balik kursi.
Langkahnya cepat meninggalkan ruang kerja. Pintu lift belum sepenuhnya tertutup saat Alex muncul dari arah seberang, menggigit biskuit coklat sambil membawa map.
“Eh, bro! Lo mau ke mana?” serunya.
Kenan tak menjawab. Hanya berjalan terus menuju lobi.
Alex mengejarnya.
“Lu mau hangout tanpa gue? atau mau meeting rahasia sama Jessica?.”
Kenan berhenti sejenak, menoleh dengan ekspresi datar.
Alex tersenyum setengah menggoda.
“Gue liat dia tadi. Asli sih, cantiknya nggak kayak di TV. Di dunia nyata malah lebih… hidup. Pinter juga keliatannya.”
Kenan memutar bola matanya.
“Gue ada urusan. Nggak ada hubungannya sama dia.”
Alex menautkan alis. “Marsha, ya?”
Kenan terdiam. Jawaban yang tidak keluar itu justru mengonfirmasi semuanya.
Alex menghela napas.
“Lu tahu nggak sih, udah tiga bulan, Ken. Tiga bulan, dan dia bakal Lamaran. Lo harus berhenti ngejar bayangan.”
Kenan tak menanggapi. Ia hanya menatap layar ponsel dan mengetik cepat,
> “Aku lagi dijalan. Tolong jangan pergi duluan.”
Lalu berjalan lagi, meninggalkan Alex yang hanya bisa menggeleng pelan.
Baru saja ia hampir masuk ke mobil, Bella muncul dari arah belakang. Tangan satu memegang ponsel, satu lagi memegang botol air. Ia menghampiri dengan langkah cepat.
“Kenan,” sapanya pelan.
Kenan menoleh. Sedikit jengkel, tapi tetap menghentikan langkahnya.
Bella berdiri di depannya, tidak menghakimi. Wajahnya… lebih ke arah khawatir daripada galak.
“Kakak tahu kamu lagi kacau. Tapi terus-terusan ribut sama Papa, itu bikin Mama sedih, Ken.”
Kenan menarik napas. “Aku nggak sengaja marah. Tapi dia juga—”
Suara Kenan meninggi sedikit.
“Dia yang ikut campur. Dia yang rusak semuanya. Bahkan... bahkan Marsha ninggalin aku juga karena Papa.”
Bella menunduk, suaranya pelan.
“Kakak ngerti. Tapi kita bukan anak kecil lagi. Kita nggak bisa terus hidup kayak korban.”
Kenan mendesah, kesal.
“Terus kenapa juga aku harus ikut proyek Seazon Food itu? Kakak aja cukup. Kenapa harus aku yang terlibat? Bukannya itu proyek kakak?”
Bella menatapnya dalam.
“Karena kamu butuh ini, Ken.”
Kenan mengernyit.
“Butuh? Buat apa? Biar Papa bisa atur aku lebih jauh?”
Bella menggeleng.
“Nggak. Karena kamu bisa. Karena kamu paham brand, paham tim, dan kamu punya cara mikir yang beda dari kita. Proyek ini butuh pendekatan baru. Kakak tahu kamu masih patah hati, tapi kerjaan tetep harus jalan ken.."
Kenan terdiam. Untuk sesaat, ia tak bisa membantah.
“Kakak tahu kamu suka naik ke rooftop buat ngerokok,” lanjut Bella pelan. “Bahkan seminggu lalu kamu mabuk sampai larut malam di atas sana.”
Kenan menatapnya, kaget.
"Kakak tahu dari mana?”
Bella hanya mengangkat bahu ringan.
“Aku kakak kamu, Ken. Kakak tahu kamu berubah, meskipun kamu pikir kamu pinter sembunyiinnya”
Suara Bella melembut.
“Tapi Ken, Mama juga sakit. Udah makin sering ke rumah sakit belakang ini. Jangan bikin dia tambah kepikiran.”
Ucapan itu menusuk lebih dari yang Kenan kira.
Mereka diam sejenak. Lalu Bella menepuk bahunya pelan dan melangkah mundur.
“Pikirin baik-baik, ya. Kadang… yang kamu pikir sakit hari ini, mungkin malah jalan sembuh kamu yang sebenarnya.”
Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Kenan hanya berdiri di tempat, tangan menggenggam ponsel dan pandangan kosong ke jalanan.
Hatinya campur aduk — marah, bingung, tertekan.
Tapi satu hal jelas…
Dia tetap akan bertemu Marsha malam ini.
To be continued...