Dua tangan Rayya mendorong d**a Abhi sekuat tenaga yang dia bisa. Sayang, tentu saja tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Abhi yang kaum adam dan dalam pengaruh pikiran ingin mencicipi bibir Rayya. Abhi menyeringai kemudian tertawa kecil saat melihat Rayya nekat menatapnya dengan tatapan setajam laser. “Kenapa menolakku Aya? Biasanya kan kamu yang pertama kali memintaku untuk berikan kecupan.” bisik Abhi, jemari tangan kanannya membelai pipi Rayya dengan lembut, seakan itu adalah jade mahal yang rentan retak jika disentuh. Tatapan mata Rayya yang semula penuh kemarahan sekarang berubah menjadi kesedihan, matanya berkaca-kaca mendengar apa yang Abhi ucapkan. Dia merasa sungguh hina, seperti seorang perempuan yang menyodorkan diri untuk mendapatkan belaian seorang lelaki. Rayya menu

