14. Seribu Dua Ratus Hari Penderitaan

1254 Words

“Akhir-akhir ini, tiap kali kita membahas tentang Rayya, kamu menjadi bersemangat, antusias. Matamu berapi-api, terlihat sekali kamu sangat emosional. Itu suatu hal yang tidak pernah terlihat sejak saat itu. Aku suka melihatmu yang seperti ini, Bhi. Artinya, kamu memang masih hidup, bukan menjadi robot papa dan mama.” senyum Jesse jadi terlihat tulus di mata Abhi setelah perempuan cantik ini berucap hal yang melegakan hatinya. Kepalan tangannya perlahan mengendur, membuat buku jari yang semula memutih berangsur tidak memucat. Abhi mendesah lega, “hufft… aku peringatkan kalian, jangan sentuh Rayya. Dia hidupku, nafasku, duniaku. Semua yang telah kalian renggut dariku, sekarang sudah kembali.” “Jangan khawatir, Bhi, aku tidak akan apa-apakan Rayya. Tapi entah mama kan?” Jesse kedikkan ba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD