bc

Tuan Muda Dalam Fantasi Terlarangku

book_age18+
7
FOLLOW
1K
READ
dark
age gap
playboy
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
city
like
intro-logo
Blurb

"Aku menulis fantasi terliarku tentang dia. Tapi aku tidak pernah membayangkan dia akan membacanya, dan menuntutku untuk memerankannya."

******

Anjani diam-diam menjadikan Antares Barata, tuan muda tampan yang dikenal playboy, sebagai pemeran utama dalam novel rahasianya.

.

Di dalam tulisannya, ia berani menggambarkan segala sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan, sentuhan, desahan, dan malam-malam yang seharusnya hanya milik imajinasinya.

.

Sampai buku catatan itu hilang.

.

Dan malam itu, saat hujan deras mengguyur, Antares menguncinya di kamar. Satu per satu, ia membacakan adegan-adegan dalam buku itu dengan suara berat yang menggetarkan. Lalu ia tersenyum.

.

"Kau menulis semua ini. Sekarang kita buktikan."

Antares tidak ingin Anjani hanya menjadi penulis. Ia ingin Anjani menjadi heroin sungguhan dalam adegan yang sama persis seperti yang tertulis.

.

Halaman demi halaman. Sentuhan demi sentuhan. Tanpa ampun, tanpa jeda, tanpa kesempatan untuk mundur.

.

Dan Anjani sadar, ia mungkin telah menciptakan monster. Tapi monster itu adalah pria yang paling ia inginkan, dan sekarang, ia tidak bisa lagi membedakan mana cerita fiksi, mana kenyataan.

chap-preview
Free preview
Bab 1
Tangannya gemetar. Bukan karena dingin, meskipun AC kamar menyemburkan udara yang cukup keras, tapi karena cara lelaki itu menatapnya. Antares berdiri terlalu dekat. Hanya sejengkal, mungkin kurang. Anjani bisa mencium aroma tubuhnya, campuran parfum sandalwood dan sesuatu yang hangat, maskulin, membuat kepalanya sedikit pusing. Atau mungkin itu hanya napasnya yang tertahan terlalu lama. Antares tidak berbicara. Matanya menjelajahi wajahnya, dari dahi, turun ke mata, lalu berhenti beberapa detik terlalu lama di bibirnya. Seolah sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis. Jarak di antara mereka bukan lagi jarak, itu adalah kesalahan yang sengaja dibiarkan. Jari Antares menyentuh pergelangan tangannya. Sentuhan itu ringan. Hampir seperti kapas. Tapi cukup untuk membuat seluruh bulu kuduk Anjani meremang. Ia merasa denyut nadinya berpacu di bawah ujung jari pria itu, seperti pengakuan bodoh yang tak bisa ia sembunyikan. "Kenapa diam?" Suara Antares rendah, sedikit serak, dan terlalu dekat. Getarannya terasa sampai ke tulang dadanya. Anjani menelan ludah. Susah payah. Kerongkongannya terasa kering seperti gurun. Di dunia yang ia ciptakan sendiri, ia berani. Di dalam tulisannya, ia adalah heroin yang tak pernah ragu, yang membalas setiap sentuhan dengan keberanian yang sama. Tapi di sini, di hadapan Antares yang nyata, ia merasa seperti kertas kosong. Rapuh. Siap terbakar oleh satu kata saja. Dengan gerakan yang terasa sangat lambat, Antares menggeser sentuhannya dari pergelangan tangan, naik ke lengan bawah, lalu berhenti di tulang selangkanya. Bukan kasar. Justru terlalu lembut. Kelembutan yang menyiksa, yang membuatnya ingin menjerit karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana. "Kamu suka ini?" tanya Antares. Suaranya serak, basah, seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi basah. Anjani membuka mulut. Namun kata-katanya seperti tersedak di tenggorokan. "Ya," bisiknya akhirnya susah payah. Suaranya pecah di akhir kata. Antares tersenyum. Bukan senyum mengejek, ini lebih berbahaya. Senyum kepuasan. Seolah ia sudah tahu jawabannya sejak awal dan hanya ingin mendengarnya diucapkan. Ia semakin mendekat. Wajahnya kini berada tepat di samping pipi Anjani. Embusan napasnya menyapu kulitnya yang pasti sudah memerah. Anjani bisa merasakan ujung hidung Antares hampir menyentuh pelipisnya. Dan untuk sesaat, ia berhenti bernapas. "Kalau begitu," bisik Antares di telinganya, "buktikan." Tangan Anjani gemetar hebat saat Antares menarik pergelangan tangannya, membimbingnya ke dadanya. Perlahan. Jari-jemarinya menyentuh permukaan kulit yang keras dan hangat di balik kemeja putih yang kancingnya sudah terlepas sebagian. Ia menahan napas. Selama ini, pria itu hanya ada di angan-angannya. Hanya di halaman-halaman dokumen yang ia buka setiap malam. Tapi kini, di bawah ujung jarinya ia bisa merasakan detak jantung Antares. Stabil. Tenang. Sangat berbeda dengan detak jantungnya yang kacau balau. Anjani ingin menarik tangannya. Tapi tubuhnya tidak patuh. Jari-jarinya justru membiarkan diri mereka tenggelam lebih dalam, merasakan kontur otot di bawah kulit itu, hangat yang menjalar ke ujung sarafnya seperti api kecil. "Anjani." Suaranya berubah. Bukan suara Antares di kepalanya. "Anjani!" Ia tersentak. Udara kamar terasa tiba-tiba lebih panas. Laptop di depannya masih menyala, layar biru pucat menerangi wajahnya yang pasti pucat pasi. Kursor berkedip-kedip di akhir kalimat yang belum selesai, menunggu kelanjutan yang tidak akan pernah ia tulis malam ini. Tangannya masih di atas keyboard. Jari-jarinya kaku. Napasnya tidak beraturan, dadanya naik turun seperti baru saja lari maraton. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia bisa mendengarnya sendiri, seperti genderang peringatan bahwa ia baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang sangat rahasia. "Anjani, kamu dengar tidak?!" Suara ibunya dari balik pintu terdengar sedikit kesal. "Tuan muda sudah pulang. Ibu suruh kamu antar kopi ke ruang tamu!" Darah terasa surut dari wajahnya dalam sekejap. Tuan muda. Nama yang sama persis dengan pria yang barusan ia telanjangi dalam pikirannya. Yang tangannya barusan ia rasakan di d**a bidang pria itu. Yang suaranya masih bergema di telinganya, basah dan menggoda. Perlahan, Anjani menutup laptop. Jemarinya dingin sekarang. Bukan karena udara AC, tapi karena satu kenyataan yang tiba-tiba menghantamnya seperti pukulan di ulu hati. Ia baru saja menulis adegan panas tentang seseorang yang benar-benar ada. Seseorang yang berjarak hanya beberapa meter darinya saat ini. Dan lelaki itu ... kini berada di rumah yang sama dengannya. Anjani menatap pantulan dirinya di layar laptop yang gelap. Wajahnya masih merah. Bibirnya sedikit mengembang. Dan matanya, terlihat seperti milik orang asing. Orang yang lapar. "Tenang," bisiknya pada dirinya sendiri. "Itu hanya tulisan. Hanya imajinasi, tidak akan ada yang tahu." Tapi tangannya tidak berhenti gemetar. Karena ia tahu, di dalam hatinya yang paling dalam, itu tidak pernah hanya tulisan. *** Anjani berdiri di depan cermin selama tiga menit penuh, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih seperti drum band. Wajahnya masih merah. Ia menepuk-nepuk pipinya dengan air dingin, berharap kemerahan itu hilang sebelum ia turun. Tapi bayangan Antares, versi Antares dari tulisannya, masih melekat di pelupuk matanya. Tangan imajiner itu masih terasa di dadanya. Suara basah itu masih bergema di telinganya. "Tidak apa-apa," bisiknya sekali lagi, kali ini lebih keras. "Kamu hanya mengantarkan kopi. Tidak ada yang tahu." Ia menghela napas panjang, merapikan rambutnya, dan mengambil nampan berisi cangkir kopi yang sudah disiapkan ibunya di meja dapur. Langkah kakinya menuju ruang tamu terasa berat. Setiap langkah seperti menuju medan perang. Dan ketika ia membuka melangkah ke ruang tamu .... Dunia seakan berhenti. Antares duduk di sofa utama, satu kaki disilangkan di atas lutut lainnya, satu tangan memegang ponsel, tangan lainnya bersandar santai di sandaran sofa. Kemeja putihnya sama persis dengan yang ia bayangkan tadi. Dua kancing atas terbuka, memperlihatkan sedikit lekuk tulang selangka dan permukaan dadanya. Anjani hampir menjatuhkan nampan. Ia menghentikan langkahnya begitu mendadak hingga sandal rumahannya berdecit pelan di lantai marmer. Dan Antares mengangkat kepalanya. Mata mereka bertemu. Tatapan Antares tajam, menyelidik, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat. Bibirnya, bibir yang sama yang tadi berbisik di telinga Anjani dalam imajinasinya, tertarik membentuk senyum kecil. Tidak ramah. Tidak dingin. Sesuatu di antara keduanya. Seolah-olah ia tahu. Anjani merasa seluruh wajahnya terbakar. Dadanya sesak. Tangannya yang memegang nampan mulai gemetar lagi, kali ini lebih parah. Kopi di dalam cangkir bergoyang, hampir tumpah. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa bernapas. Dan Antares masih menatapnya. Tatapan yang lambat, yang turun dari matanya ke bibirnya yang mengerucut karena gugup, lalu turun lagi ke tangannya yang gemetar, sebelum akhirnya naik kembali ke matanya. Senyum Antares melebar. Tipis. Berbahaya. "Kau tidak apa-apa, Anjani?" tanyanya. Suara itu rendah. Terlalu santai. Tapi ada nada di dalamnya, nada yang sama persis dengan suara dalam tulisannya tadi. Anjani membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar. Ia hanya bisa berdiri di sana, kaku, dengan nampan di tangan yang kini bergetar hebat, dan satu pikiran mengerikan melintas di kepalanya, Dia tahu. Dia pasti tahu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.2M
bc

The Silver Wolf

read
479.9K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.0M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
861.7K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.1M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.2M
bc

Unscentable

read
2.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook