Hari pernikahan Kanaya dan Andika tiba, senyum manis dan senyuman kebahagiaan tak lepas dari bibir gadis cantik itu, karena pada akhirnya hari yang ia tunggu sudah tiba.
" Sayang udah make up nya? " Tanya Vina mama Kanaya.
Naya menoleh saat mendengar suara sang mama.
" Sudah ma, tapi aku gugup " ucap Naya.
" Sayang, ya ampuun kamu cantik banget nak " ucap mama Vina dengan tatapan kagum pada putrinya.
" Mama,,, Naya malu " ucap Naya, wajahnya tersipu mendengar pujian dari sang mama.
" Anak mama beneran udah besar " ucap mama Vina seraya menatap wajah putrinya di pantulan cermin.
" Naya sayang, berbahagia lah setelah ini nak..semoga suami kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk mu melebihi kebahagiaan yang kami berikan " ucap mama Vina lagi.
" Ma.." ucap Naya manja.
Mama Vina perlahan memeluk putrinya dari belakang, tanpa sadar air matanya menetes, mengingat ia harus melepas putrinya pada orang lain setelah ini.
" Ma,, jangan nangis, Naya kayak jadi orang jahat " ucap Kanaya.
" hus! kamu ini ngomongnya Nay " protes sang mama.
Naya tertawa pelan mendengar protes sang mama.
" Aku belum ketemu papa sama sekali dari pagi ma " ucap Kanaya.
" Sebentar lagi pasti ketemu, papa kamu lagi galau itu sama seperti mama karena setelah ini harus menyerahkan putri kesayangan kami, permata hati kami pada Andika " jelas mama Vina.
" Mama...papa...Naya mau nangis " ucap Naya mendengar penjelasan sang mama.
" Naya tetap anak mama sama papa, Naya nggak mau kemana - mana juga " ucap Naya yang kini sudah ikut menangis.
" Kok nangis, make up nya luntur loh dek " ucap mama Vina pada putri kesayangan nya itu.
Kanaya Amelia Hartono, anak kedua dari pasangan Bagas Hartono dan Vina Hartono, keluarga mapan dan penyayang keluarga, Kanaya memiliki seorang kakak laki - laki bernama Gionino Hartono.
Gio anak laki - laki Papa Bagas dan Mama Vina, seorang pengusaha yang sudah berkeluarga, istrinya bernama Najwa dan putri cantik mereka bernama Cika yang kini sudah menginjak usia empat tahun.
" Mama, Naya " ucap Najwa yang tiba - tiba membuka pintu kamar Naya.
" Ya nak " ucap mama Vina.
" Pak penghulu sama papa sudah siap, tapi Andika belum tiba, keluarga nya sudah berusaha menghubungi Andika tapi nggak di angkat " ucap Najwa pelan.
" Loh, masih belum datang, dijalan mungkin ya jadi nggak sempat angkat telepon " ucap Mama Vina.
Karena tadi sebelum ke kamar putrinya Mama Vina sempat menyapa keluarga calon besannya atau orang tua Andika dan bertanya keberadaan Andika karena tidak ikut serta, dan jawaban keluarga Andika, Andika akan menyusul setelah ini.
" Iya ya, di jalan mungkin ya ma " ucap Najwa.
Kini istri Gio itu mendekat bergabung dengan Mama Vina dan Kanaya adik iparnya.
" Dek, coba kamu yang hubungi Andika, tanya sudah sampai mana " ucap Najwa pada Naya.
Naya mengangguk lalu meraih ponselnya.
" Gugup amat dek, sampe pucat gitu wajahnya " ucap Najwa pada Kanaya.
" Kakak...Naya gugup, takut juga " ucap Naya pada kakak iparnya.
Najwa tertawa pelan lalu memeluk adik iparnya dari samping.
" Nggak usah gugup apalagi takut, ini hari bahagia kamu, kami semua berbahagia untuk kamu, dan kamu juga harus bahagia hari ini, nggak hari ini aja tapi seterusnya kamu juga harus bahagia " ucap Najwa pada Naya.
Naya membalas pelukan kakak iparnya.
" Makasih kak, Kak Najwa emang yang terbaik " ucap Kanaya seraya memeluk kakak iparnya itu.
Mama Vina yang melihat pemandangan di hadapan nya tersenyum, ia merasa beruntung mendapatkan menantu seperti Najwa, karena Najwa selalu ada untuk Kanaya bahkan selalu menjadi garda terdepan jika Kanaya mengalami kesulitan.
Sungguh seorang menantu sekaligus seorang ipar yang banyak ingin di miliki oleh setiap orang.
" Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, mohon periksa kembali nomor tujuan anda "
" Dek, kenapa? " tanya Najwa saat melihat wajah gusar Kanaya.
" Kak, nomor Dika nggak bisa di hubungi " ucap Naya pelan.
" Hah? Sinyal kali dek, coba, di hubungi lagi " ucap Najwa memberi saran.
Naya mengangguk lalu mencoba menghubungi Andika, tapi lagi - lagi bukan suara Andika yang terdengar melainkan suara operator yang mengatakan nomor Andika tidak bisa di hubungi.
" Bentar, biar mama yang coba hubungi " ucap mama Vina.
Terlihat mama Vina mencoba menghubungi Andika, tapi hasilnya sama seperti Kanaya, tidak bisa menghubungi nomor Andika.
" Ini ada apa sih " ucap Naya panik sekaligus kesal.
" Aku cek di luar ya, mungkin Andika sudah di depan " ucap Najwa yang di angguki oleh Naya dan mama Vina.
Najwa segere keluar dari kamar Kanaya untuk memastikan keberadaan calon adik iparnya.
--------
Tak lama kemudian Najwa masuk ke dalam kamar Naya, kali ini bukan seorang diri, tapi bersama papa Bagas, Gio dan Cika.
" Sayang " ucap papa Bagas, ia langsung merengkuh tubuh putri kesayangan nya itu dan memeluk nya dengan erat.
" Papa, dari tadi kemana aja " protes Kanaya pada sang papa.
" Papa di depan nak, kamu tenang ya, ada papa di sini " ucap papa Bagas.
---------------
Sebelumnya di lantai bawah,
Najwa dengan tergesa menghampiri kedua orang tua Andika, Roby Winata dan Dina Winata.
" Ada apa Nak? " tanya Bu Dina mama Andika.
Najwa berbisik di telinga Bu Dina mengatakan jika Andika tidak bisa di hubungi.
Wajah Bu Dina menegang saat mendengar bisikan dari Najwa, terlihat Bu Dina mendekat ke arah Pak Roby yang saat ini tengah berbincang dengan papa Bagas, kemudian membisikkan apa yang di katakan Najwa tadi.
Wajah Pak Roby menegang, tangannya terkepal kuat.
" Ada apa ini? " tanya papa Bagas.
" Pa " ucap Najwa.
" Papa tenang dulu " ucap Najwa.
" Sayang? " ucap Gio saat melihat istrinya yang kini wajahnya panik.
Gio mendekat, dan Najwa langsung membisikkan apa yang sedang terjadi.
Wajah Gio berubah datar saat mendengar bisikan dari sang istri, lalu Gio mendekat pada sang papa dan menyampaikan apa yang di katakan istri nya pelan.
Papa Bagas menatap tajam ke arah orang tua Andika.
" Kalian bisa jelaskan sesuatu padaku " ucap papa Bagas dingin.
" Pak Bagas, kami juga tidak tau apa - apa, kami benar - benar tidak tau " ucap Pak Roby.
" Mohon maaf menyela, apa pengantin prianya masih lama? satu jam lagi saya harus pergi ke tempat lain " ucap penghulu yang sudah tidak sabar menunggu.
" Ma maaf pak, kami susul anak kami dulu ya " ucap pak Roby.
" Iya benar, kami hubungi Andika dulu " ucap Bu Dina.
Terlihat pasangan paruh baya itu panik, karena juga tidak menyangka jika akan seperti ini.
Tanpa berkata apapun Papa Bagas, dan Gio langsung pergi dari sana di ikuti oleh Najwa yang sebelumnya sudah menyampaikan apa yang terjadi pada pak penghulu.
-------------
Kanaya terduduk dengan lemah di ranjangnya dengan tatapan kosong setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
Pakaian pengantin masih melekat dengan indah di tubuhnya, namun sayang suasana hati Kanaya tak seindah gaun pengantin yang tengah di kenakannya.
Mama Vina, papa Bagas, Gio dan Najwa bergantian menenangkan dan menguatkan Naya, tapi sayang keluarganya yang sibuk menenangkannya seolah hanya sebuah angin lalu oleh Naya.
" Calon suami yang tiba - tiba menghilang tepat di hari pernikahan mereka, nama baik keluarga pun di pertaruhkan " itu yang ada di pikiran Naya saat ini.
" Apa yang harus Naya lakukan? Apa dia melakukan kesalahan? Apa Andika marah padanya? " tanya Naya dalam hati nya, tapi ia tak mampu mengungkapkan pertanyaan - pertanyaan itu, mulutnya seolah terkunci untuk mengucapkan sepatah kata saja.
" Ceklek! " Pintu kamar Naya tiba - tiba di buka dengan pelan, terlihat seorang wanita paruh baya masuk.
" Permisi, maaf sebelumnya jika saya lancang sudah ikut campur, tapi saya ingin menawarkan putra saya untuk di jadikan pengantin pria pengganti " ucap seorang wanita paruh baya yang tiba - tiba masuk ke dalam kamar Kanaya, sehingga membuat suasana di kamar itu yang tadinya sedikit gaduh menjadi hening.
" Saya tidak sengaja dengar pembicaraan kalian tadi saat di bawah, saya kerabat jauh keluarga Winata " ucap wanita paruh baya itu lagi.
" Putra saya masih di perjalanan, dari luar negeri, barusan saya hubungi katanya sudah dekat " ucap wanita paruh baya itu.