Edgar tersenyum bahagia karena Ara tidak menolak genggaman tangannya, ia yakin Ara juga memiliki perasaan yang sama padanya tapi ia belum bisa mengungkapkan perasaannya. Mereka seperti ABG yang belum berani mengungkapkan perasaannya dan hanya bergenggaman tangan saja, namun bagi Edgar ini adalah angin segar setelah pernyataannya di rumah sakit waktu itu yang tak ditanggapi oleh Ara. Mobil berhenti di bandara, Ara yang sejak tadi hanyut dalam pemikirannya sendiri menoleh pada Edgar. "Airport??" "Iya, aku ada urusan ke Surabaya. Wanto tolong antarkan Ara pulang ya." "Apa perlu saya bawakan kopernya masuk bos?" "Tidak usah," Edgar membuka pintu mobil, ia seperti tak rela melepaskan genggaman tangannya pada Ara, ia menatap Ara dalam, Ara tersenyum dan mengangguk, Edgar melepaskan genggama

