Ara menatap lekat wajah Edgar, pria itu dengan wajah harap harap cemas menunggu jawaban darinya, Ara menghirup nafas dalam dalam mengisi paru parunya dengan udara sebanyak banyaknya, sisi hatinya ragu untuk menjawab iya, tapi sisi hatinya yang lain merasa Edgar adalah sosok yang bertanggung jawab dan tidak mungkin menyakiti hatinya. "Aku mau..." jawab Ara mantap. Wajah Edgar yang cemas berubah bahagia saat mendengar jawaban Ara, ia seperti mendapat suatu keajaiban saat dua kata tersebut keluar dari mulut Ara, Edgar segera menyematkan cincin ke jari manis Ara. "Gar, cincin yang waktu itu kan masih di aku, kenapa beli lagi?" "Its okay, Anggap saja itu cincin hadiah, bukan cincin tunangan." "Lalu mama kamu bagaimana? Alila?" "Untuk soal mama, kamu jangan khawatir sayang, dia pasti aka

