"Jadi ... sekarang kau tidak lagi tertarik pada Lord Cedric?" Mata Sir aldric membelalak, menatap putri semata wayangnya dengan wajah tak percaya, di dalam kereta mewah milik keluarganya yang membawa mereka ke Istana Brighton.
Elena menanggapinya dengan tersenyum kecut, "Yah, aku tahu kalau selama ini aku telah menyusahkan Ayah dengan sikapku yang kekanakan," ujarnya sambil meraih lengan ayahnya lalu bergelayut manja di sana. Mengacuhkan tatapan bingung yang ditujukan ayahnya padanya dengan membuang muka ke samping. "Sekarang ... aku sudah sadar, Yah. Gara-gara mimpi buruk itu."
"Mimpi? Mimpi apa?" Kini Sir Aldric menumpukan siku tangan kirinya yang bebas ke atas lututnya. "Nak, bukankah selama ini kau selalu memuja Lord Cedric?"
Elena terdiam, bayangan dirinya yang berlutut di tengah hujan deras dengan rantai besi melilit tangannya, memohon pada Cedric agar tidak menghukum ayahnya—berkelebat di dalam benaknya. Ia bahkan masih bisa mendengar suara rantai itu yang bergesekan dengan lantai, merasakan nyeri di pergelangan tangannya dan darah sampai ke jemarinya.
Saat itu, keluarganya sama sekali tak bersalah. Namun keluarganya hancur oleh keegoisan dirinya yang memaksa ingin menikahi Cedric.
Demi dirinya, ayahnya dan seluruh pelayannya harus menerima hukuman. Termasuk ia sendiri. Elena berpaling ke ayahnya, memperhatikan wajah sang ayah yang pernah menenangkannya dan tersenyum lembut padanya meski tali gantungan telah melilit di lehernya.
"Ayah tidak menyesal, Nak. Ayah percaya kau tidak mungkin meracuni Putra Mahkota."
Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya bak pantulan gema yang takkan pernah berakhir. Kata-kata yang berhasil membuatnya menangis keras.
"Saat ini aku tidak bisa mengatakan alasanku pada Ayah. Tapi ... suatu hari nanti, Ayah pasti akan mengerti mengapa aku melakukan semua ini." Sebelum itu, ia tentu saja harus menyelamatkan Putra Mahkota terlebih dahulu dari rencana buruk Cedric. Dengan begitu ia juga bisa menyelamatkan keluarganya.
Tak lama kemudian, kereta berhenti tepat di halaman utama Istana Brighton. Musik berdentang mengalun dari aula besar, lantunan biola dan harpa mengisi udara dengan harmoni lembut. Kilau ratusan lilin dari chandelier memantulkan cahaya ke lantai marmer putih.
Semua mata tertuju pada Elena saat ia melangkah masuk bersama ayahnya. Bisikan-bisikan kecil terdengar di antara para tamu bangsawan.
"Dia putri penyembuh dari keluarga Light, bukan?"
"Cantik sekali ... tak heran kalau Lord Cedric menerimanya."
"Tapi kudengar, wanita itulah yang mengejar-ngejar Lord Cedric."
Elena mendengar semuanya, namun tetap melangkahkan kakinya. Lagipula ia sudah hafal wajah-wajah itu. Beberapa di antaranya kelak akan berpihak pada Cedric, berkhianat pada ayahnya.
Dengan tenang dan dagu terangkat naik, ia melangkah menuju tangga besar. Sesaat kemudian, langkahnya sontak terhenti saat matanya menangkap sosok tinggi berbalut seragam istana tengah berdiri tak jauh dari tangga.
Pria itu, tampak jauh berbeda dari para bangsawan lain. Tatapannya tegas, dipenuhi aura Raja. Tubuhnya tegap, namun gerakannya terlihat sopan. Rambut hitam pekatnya tertata rapi, membingkai wajah dengan rahang keras dan sorot mata gelap yang seolah mampu menembus isi hati siapa pun yang berani menatap matanya itu terlalu lama.
Ini pertama kalinya Elena kembali melihatnya.
Adam Brighton, Putra Mahkota yang mangkat di tangan Cedric. Satu-satunya orang yang tetap memercayainya selain ayahnya hingga akhir hidupnya.
Dan kini, takdir mempertemukan mereka kembali.
Adam tersenyum lembut saat melihat dirinya, Elena membalasnya dengan menundukkan kepalanya.
"Lady Light," sapa pria itu. Suaranya dalam dan terdengar sedikit serak, tapi tetap lembut. "Atas nama pihak Istana Brighton, izinkan aku mengucapkan selamat datang." Adam mengulurkan tangannya.
Sembari tersenyum tipis, Elena menyambut uluran tangan itu, membiarkan Adam mengecup punggung tangannya. "Bagaimana kondisi Anda hari ini, Putra Mahkota?"
"Adam Brighton."
Nama itu menusuk ingatan Elena—nama yang dulu ia bisikkan dengan air mata di saat tubuh pria ini sekarat karena racun dari Cedric.
"Maaf, saya tidak memiliki keberanian itu, Yang Mulia," selorohnya, seraya kembali tersenyum pada Adam.
Di hadapannya, bibir Adam tampak berkerut. Meski hanya sesaat, namun hal itu tak lepas dari tatapan Elena. Adam bahkan menatapnya dengan raut sedikit heran, seolah ada sesuatu yang aneh di wajahnya.
"Mengapa aku merasa seharusnya kita lebih akrab? Bukan justru terjebak di suasana canggung seperti saat ini?"
Jantung Elena berdegup kencang. Ia menelan ludah untuk menenangkan degup jantungnya itu yang seakan sedang memukul-mukul dadanya.
Entah mengapa, ia merasa sedikit terusik dengan pertanyaan itu, padahal seharusnya saat ini ia tidak terlalu akrab dengan Adam. Karena seharusnya mereka baru bertemu tiga kali. Dua kali ketika ia mengobati Adam, dan kali ketiga adalah hari ini. Ia lalu tersenyum samar, menahan getir di dadanya. "Mungkin dalam mimpi, Yang Mulia."
Adam melepaskan tangan Elena, namun tatapan matanya tetap terpaku pada wajahnya bahkan setelah Elena pergi usai berpamitan padanya. Apakah ini hanya perasaannya saja? Tapi mengapa ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Elena malam ini terutama tatapannya yang seolah bukan milik gadis muda yang sedang menantikan pesta dansa melainkan seorang wanita yang tampak menyimpan dendam?
"Mungkinkah dia—" Pertanyaan itu hanya menggantung di udara tanpa ada kelanjutannya.
Sementara itu, Elena melangkah mantap ke arah ayahnya yang sengaja melepaskan tangannya dan pergi menyapa bangsawan lain ketika Adam menegurnya beberapa saat yang lalu.
Dari tempatnya berdiri, Adam hanya diam, memperhatikan Elena dengan netra tajamnya yang sekelam langit malam. Mengepalkan kedua tangannya dengan keras di kedua sisi tubuhnya tanpa tahu alasan mengapa jantungnya berdetak begitu kencang saat ia bersama Elena tadi.
"Hmm, Lady Light. Kau sangat menarik. Andai saja kau tidak tertarik pada sepupuku, Cedric, maka aku—" Lamunan Adam langsung buyar ketika ia mendengar suara seorang pria menegur dirinya. Ia memalingkan wajahnya, menemukan Cedric Draven sedang tersenyum padanya. Senyum cerah yang selalu sepupunya itu sunggingkan di wajahnya yang tampan. Senyum yang mampu merontokkan hati para wanita bangsawan, termasuk Elena, wanita yang ia kagumi secara diam-diam selama ini.
"Wanita mana yang telah berhasil membuatmu memperlihatkan wajah itu, Sepupu?"
Adam mengangkat salah satu alisnya. Jika dulu ... ia mungkin akan melayani ucapan Cedric itu. Sebab hanya Cedric yang sangat dekat dengannya. Namun sekarang, semua telah berbeda setelah ia berhasil merangkak keluar dari lubang kematian.
"Adam Brighton, kau dianugrahkan kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupmu. Dan sebagai gantinya, kau harus melindungi seorang wanita. Elena Light."
Ucapan itu bergema di benak Adam. Membuatnya sadar bahwa keberadaan Elena yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Kau melamun lagi, Sepupu? Ada apa? Apa kau sedang memikirkan tahta?"
Adam tersenyum smirk, "Mengapa aku harus memikirkannya, Cedric. Singgasana yang seharusnya menjadi milikku, mungkinkah bisa semudah itu direbut oleh orang lain?" sindirnya, netra Adam berkilat samar saat ia mengucapkan kata-katanya itu.
Cedric terdiam sepersekian detik sebelum kembali tersenyum seolah ucapan Adam tadi hanyalah gurauan semata. Tapi ada kilat dingin di matanya.
"Kau benar, Sepupu. Siapa yang berani bersaing denganmu?" Ia lalu terkekeh. 'Lagipula kelak, tahta itu akan menjadi milikku,' bisiknya dalam hati, sembari melemparkan pandangannya ke arah Elena. Menatap tajam pada Elena yang tanpa sengaja menatap balik dirinya.