Bab 25: Sutra Malam dan Kontrak Keheningan Porto, Apartemen Rafael di Ribeira – Sabtu Malam, Pukul 23.12 Di luar jendela besar, Porto menangis. Hujan Portugal menderu dengan suara yang tak teredam, memukuli panel kaca seolah-olah rentetan peluru baja yang ditembakkan. Di dalam, udara dianyam dari kepura-puraan yang hangat. Lampu meja tunggal, dengan cahaya kuningnya yang kuno, menciptakan sebuah pulau kenyamanan yang rapuh di tengah samudra apartemen mewah yang dingin. Sofa-sofa empuk menampung bantal-bantal seperti awan, televisi mati, dan yang terdengar hanyalah simfoni hujan yang menderu, berpadu dengan alunan lo-fi yang nyaris tak terdengar, sebuah bisikan melankolis. Aurora duduk bersila di tengah pulau itu. Ia mengenakan hoodie hitam kebesaran milik Rafael—sebuah bendera putih y

