.Bab 16: Melodi Kelahiran Aurora Pantai Utara Portugal – 4 Januari, Pukul 23.47 Angin musim dingin, utusan dingin dari Samudra Atlantik, menerjang tebing curam, membawa aroma garam dan es yang menggigit. Ia menghantam jendela kaca rumah sewa kecil itu seolah-olah ribuan peluru es yang berdesing. Di bawah jurang, ombak mengamuk liar, gemuruhnya serupa genderang perang kuno yang tahu persis bahwa malam ini, benteng kecil di atasnya akan menjadi medan pertempuran suci yang baru. Di lantai ruang tamu, di atas hamparan selimut tebal, Rhea duduk bersila. Kaus kebesaran milik Kaelen yang ia kenakan kini basah kuyup oleh keringat; kain itu menempel di kulitnya seperti kain kafan yang menyerap penderitaan. Ia hanya mengenakan pakaian paling dasar, memamerkan perut yang agung, memantulkan cahaya

