.... Kaelen menembak lagi. Tapi bukan ke Rhea. Ke langit-langit. Tembakan peringatan yang menggelegar. “Aku tahu segalanya, Rhea,” suara Kaelen rendah, mengerikan, pengakuan yang sudah lama disimpan. “Aku tahu sejak dulu. Tapi malam ini, kita selesaikan semua ini. Bersama.” Ia menoleh ke Aurora. “Bebaskan Rafael. Bawa dia pulang.” Lalu ia menatap Rafiel yang berdiri diam di sudut, seperti arwah yang baru dilepaskan. Luka bakar di wajahnya berkilau karena air mata yang tak pernah jatuh, hanya uap dari jiwa yang terkunci. “Dan kamu… kamu boleh ikut, kalau mau. Keluarga ini sudah cukup besar untuk satu bayangan lagi.” Rafiel menunduk. Penerimaan yang tak terduga. Lalu mengangguk pelan. Aurora berlutut di depan Rafael, membuka rantai dengan kunci yang diambil dari mayat Vasco ya

