BAB 3

672 Words
​Bab 3: Tarik Ulur di Penthouse Lok. Penthouse Acara Amal, Jantung Kota ​Kaelen Thorne berdiri begitu dekat sehingga Rhea bisa mencium aroma cologne mahal yang bercampur dengan sedikit aroma asap tembakau. Jarak yang sangat tipis itu menguji semua pelatihan yang telah dilalui Bella. Instingnya berteriak untuk mundur, tetapi Rhea harus maju. ​"Aku di sini untuk mendapatkan sesuatu yang kumau," ulang Rhea, mempertahankan tatapan menantang. Dia membiarkan senyumnya sedikit memudar, menciptakan kesan keseriusan yang menarik. ​Kaelen tersenyum puas. "Ketulusan. Menarik. Kebanyakan orang datang dengan topeng keramahan palsu. Katakan padaku, Rhea, apa yang kau inginkan yang tidak bisa kau beli?" ​Rhea menyandarkan berat badannya sedikit ke samping, mengubah postur menjadi lebih santai, seolah Kaelen Thorne hanyalah salah satu pengagumnya. Taktik untuk meremehkan kekuasaannya. ​"Akses," jawab Rhea tegas. "Aku tidak tertarik dengan uangmu, Tuan Thorne. Aku tertarik pada dunia yang kau kuasai. Aku ingin menjadi wajah dari industri ini, bukan hanya model yang lewat. Dan aku tahu, jika kau menginginkannya, aku bisa mencapai puncak dalam semalam." ​Kaelen memiringkan kepalanya, matanya yang tajam menyapu Rhea dari atas ke bawah, menilai. Bukan secara seksual, melainkan secara taktis. ​"Ambisi yang menyenangkan. Tapi ambisi bisa berbahaya di dunia ini, Rhea. Terutama ketika kau mencoba menggapai tangan yang terlalu tinggi." ​"Tanganmu?" tantang Rhea, suaranya mengandung nada ejekan yang sangat halus. "Tanganmu dihiasi permata, Tuan Thorne. Dan permata selalu memiliki harga." ​Kaelen mendengus, tawa pendek yang tidak mencapai matanya. "Kau berani, nona. Aku suka keberanian. Tapi keberanianmu bisa menjadi beban." Dia mengangkat tangannya, dan seorang pelayan segera muncul dengan dua gelas sampanye. Kaelen mengambil satu, dan menawarkan yang lain pada Rhea. ​"Anggap saja ini sebagai biaya konsultasi," katanya, matanya memancarkan peringatan. "Di duniaku, kau harus selalu menengok ke belakang. Kecantikan menarik perhatian, Rhea, tapi itu juga menarik predator." ​Rhea mengambil gelas itu, ujung jari mereka bersentuhan sebentar. Sentuhan itu seperti percikan listrik. Jantung Bella bergetar, tetapi Rhea menguasai diri. ​"Aku sudah terbiasa berurusan dengan predator," balas Rhea sambil menyesap sampanye, mempertahankan kontak mata. Di sana, di antara kilauan kaca dan gemerlap cahaya, sebuah perang psikologis diam-diam terjadi. ​Kaelen tidak menanggapi ucapannya. Dia hanya menyesap minumannya dan mengamati kerumunan. ​"Aku punya jadwal yang padat," kata Kaelen tiba-tiba, beralih dari percakapan. "Datanglah ke label rekamanku besok, pukul dua siang. Aku ingin melihat portofoliomu. Dan aku akan mempertimbangkan apakah 'wajah baru' sepertimu layak dipertaruhkan." ​Itu adalah kemenangan kecil. Misi sukses. Akses telah terbuka. ​Namun, saat Kaelen hendak melangkah pergi, Rhea merasakan dorongan impulsif. Bukan dorongan agen yang terlatih, melainkan dorongan dari perempuan yang terjerat oleh aura berbahaya. ​"Tuan Thorne," panggil Rhea. Kaelen berbalik. ​Rhea meletakkan gelasnya di nampan kosong pelayan yang lewat. Ia melangkah maju, kembali menipiskan jarak di antara mereka. Matanya kini tidak lagi menantang, melainkan penuh hasrat yang berani. ​"Sebelum aku pergi," bisik Rhea, suaranya turun satu oktaf, terdengar lebih intim dan gelap. "Kau sudah tahu apa yang aku inginkan. Tapi kau belum memberitahuku apa yang kau inginkan dariku." ​Kaelen memandanginya. Untuk pertama kalinya malam itu, topeng ketenangannya sedikit bergeser. Dia tersenyum lagi, tetapi kali ini, senyum itu sangat personal dan mematikan. ​Dia membungkuk, bibirnya mendekat ke telinga Rhea. "Aku suka gadis yang tahu cara bermain," bisiknya, suaranya dalam dan penuh janji dosa. ​"Tapi yang paling aku suka, Rhea, adalah wanita yang bersedia meninggalkan jiwanya di pintu, hanya untuk masuk ke duniaku." ​Rhea merasakan napasnya tertahan. Itu bukan ancaman—itu adalah perjanjian. Sebuah penawaran untuk bergabung dengan kegelapan. ​Saat Kaelen menarik diri, dia menyentuh pinggul Rhea sekilas, sentuhan yang dingin namun menguasai, lalu berjalan menjauh, kembali menjadi pusat perhatian. ​Rhea berdiri membeku, tangannya tanpa sadar menyentuh titik di pinggulnya yang disentuh Kaelen. ​Dia tahu. Sebuah suara kecil di kepala Bella berbisik. Dia tahu kau lebih dari sekadar model. Dia tertarik karena kau menantangnya. ​Rhea tersenyum tipis. Akses didapat, tetapi biaya yang harus dibayar mungkin jauh lebih mahal dari yang dia perkirakan. Permainan sudah dimulai, dan dia baru saja meneken kontraknya dengan Iblis. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD