Saat Helena terbangun, hari sudah terang. Mengingat apa yang terjadi semalam, ia langsung bangkit dari tempat tidur dan, luar biasanya, mendapati kamar sudah bersih dari pecahan barang yang hancur semalam. Ia begitu lelah sampai tidak mendengar saat Stefano membereskan semuanya.
Sekarang ketika pikirannya sedikit jernih, ia tidak tahu dari mana datangnya keberanian untuk menyerang Stefano. Ia menampar wajahnya. Kalau itu terjadi pada Otávio, bukan hanya dibalas, ia pasti sudah dibuat menyesal seumur hidup. Meski begitu, mempercayai seorang pria—siapa pun, termasuk Stefano—tetap mustahil baginya. Ia tenggelam dalam pikirannya ketika Stefano masuk ke kamar. Seketika tubuhnya menegang.
"Istri bos bilang kau harus menghubunginya. Kurasa dia khawatir."
"Ya."
"Ya apa, Helena?"
Namanya terdengar berbeda ketika diucapkan oleh pria itu.
"Dan… apakah aku harus menghubunginya?"
"Itu terserah kau. Karena dia istri bos, kau bebas bicara dengannya; bahkan bisa bertemu di sini atau di rumah mereka."
Sekali lagi, Stefano berlutut di depan Helena. Helena, yang duduk di pinggir ranjang, merapat sejauh mungkin dari mantan prajurit itu. Ia tak tahan kedekatan Stefano. Ia memang bersyukur semalam Stefano tidak memaksanya menerima sentuhan seorang pria lagi, tetapi kebencian dan ketakutannya pada Stefano terlalu besar. Ia telah dipaksa menjadi ‘wanita’ miliknya setelah bertahun-tahun disiksa Otávio.
"Aku mau kau duduk di tepi ranjang sekarang, Helena."
Dengan terpaksa, Helena mendekat. Ia benci dirinya sendiri karena menurut. Ia ingin bisa berkata tidak, tapi tiga tahun hidup dalam kekerasan telah memaksa tubuhnya untuk patuh. Dipukul tanpa henti, dipaksa melakukan hal-hal yang masih membuatnya mual ketika mengingatnya—ia tak tahu bagaimana bisa ia bertahan selama itu.
Begitu Helena merasakan tangan Stefano menyentuh kakinya, ia langsung memejamkan mata. Ia bisa merasakan Stefano mencium paha bagian dalamnya, dan ia hanya bisa berdoa agar semuanya cepat selesai—agar wakil bos mafia itu menuntaskan nafsunya dan meninggalkannya dalam damai.
"Helena?"
Jawaban Helena hanya diam. Stefano bisa mencium ketakutan itu—lebih dari itu. Berpengalaman menyiksa orang, ia tahu persis bagaimana bau ketakutan seseorang. Dan perempuan di depannya sedang dilumpuhkan oleh teror. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan diri. Ia harus bekerja hari ini, menjalankan perintah bos, tapi sebelum itu ia ingin setidaknya mencicipinya sedikit, atau ia bisa gila. Ia punya hak itu. Ia suaminya.
"Jawab kalau aku bicara, Helena."
Helena tersentak, seolah baru saja ditampar.
Duduk di tepi ranjang hanya dengan kaos, ia ingin lari—ke mana pun, bahkan ke tengah jalan raya. Tapi ia tak bisa.
"Biarkan aku merasakanmu, Helena. Aku janji setelah itu aku akan membiarkanmu tenang. Aku bisa gila kalau kau menolak."
Helena memandangnya tanpa mengerti maksudnya. Sesaat Stefano mengira ia menolak, tapi ketika diperhatikan lebih dekat, ia sadar akan sesuatu.
"Helena, kau bahkan tidak tahu apa yang kumaksud, kan? Jawab."
"Aku tidak tahu… merasakan apa?"
"Ya Tuhan… laki-laki macam apa si bodoh Otávio itu?"
Mendengar nama mendiang suaminya, Helena langsung menangis lagi. Setiap kali mendengar nama itu, rasanya seperti tubuhnya dibakar hidup-hidup. Namun ia masih bersyukur—entah kenapa—bahwa Otávio selalu memakai pelindung. Setidaknya ia tidak harus menanggung kehamilan akibat pernikahan penuh horor itu.
Ia tersentak saat Stefano bergerak. Ia menundukkan kepalanya ke antara kedua paha Helena dan mencoba membuka kakinya perlahan. Tapi Helena tetap mengatupkannya rapat-rapat.
"Helena, kumohon?"
"A… apa yang akan kau lakukan?"
"Aku ingin menyentuhmu… merasakanmu dengan mulutku. Boleh, sayang?"
"Kalau aku bilang tidak… apa yang akan terjadi?"
Stefano menghela napas panjang.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Sial, sudah kukatakan aku tidak memaksa wanita."
Stefano berdiri dan menjauh ke dinding.
"Keluar dari sini, Helena. Jangan biarkan aku melihatmu sampai aku pergi bekerja."
Helena langsung lari meninggalkan kamar itu. Lagi-lagi ia luput dari sentuhan pria itu. Ia bersyukur pada langit. Ia lebih memilih mati daripada disentuh intim oleh pria mana pun.
Stefano memukul dinding, membuat tangannya berdarah. Ia sangat menginginkannya, tetapi ia tidak sanggup memaksanya. Tidak setelah tahu apa yang dialaminya. Ia belajar sekejam apa hal yang dilakukan pria seperti Otávio pada seorang wanita.
Dengan tangan berlumur darah, Stefano meninggalkan rumah. Ia punya urusan mafia yang harus ditangani. Tapi membawa Helena pulang dan tidak bisa menyentuhnya membuatnya hampir kehilangan akal.