Jatuh Dalam Hasrat

1742 Words
“Sa-saya bisa jelaskan, Pak,” ucap Marsha pelan, hampir tercekik oleh rasa gugupnya sendiri ketika Kalandra melangkah maju. Tubuh pria itu bagaikan bayangan besar yang menutup seluruh cahaya ruang briefing. “Waktu itu saya panik… ada seseorang yang saya hindari dan sa—” “Kamu mencium seseorang sebagai bentuk pelarian?” Kalandra memotong. “Itu pelecehan.” Marsha membeku. “Sa-saya tidak bermaksud begitu, Pak.” “Pasal 289 KUHP,” lanjutnya tanpa jeda. “Perbuatan c***l yang dilakukan dengan paksaan atau tanpa persetujuan. Ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.” Dia mendekat satu langkah lagi. “Kamu sadar? Kamu tidak meminta izin saya. Kamu memegang kerah pakaian saya. Kamu memaksa kontak fisik.” “Saya tidak bermaksud… saya tidak tahu Bapak siapa… saya benar-benar panik waktu itu, saya cuma—” “Panikkah yang membuatmu mengabaikan hukum?” Kalandra menyipitkan mata. “Atau kamu pikir semua lelaki bisa kamu jadikan alat pelarianmu?” Marsha terdiam, napasnya pendek, hampir putus. Dia mundur lagi, jantungnya berdentum terlalu cepat. Tangannya gemetar tak bisa disembunyikan. “Kamu beruntung saya tidak menahanmu waktu itu,” lanjutnya pelan, namun justru membuat bulu kuduk berdiri. “Tapi sekarang kamu ada di wilayah militer. Di bawah pengawasan saya. Tidak ada tempat untuk tingkah sembarangan. Mengerti?” “Saya… bisa jelaskan,” Marsha tersandung kata-katanya sendiri. Dia mundur lagi tanpa menyadari bahwa ruangan itu memiliki satu pijakan tangga kecil dekat dinding. Marsha tersentak mundur dan kakinya tidak menemukan lantai. “Akhhh—!” Dia tersandung pijakan yang menjorok rendah, tumitnya terpeleset. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dalam sekejap. Tangannya terulur spontan, meraih ujung rak buku kayu di dinding, rak lama yang sudah rapuh dan dimakan usia. BRUK! BRAK! Rak itu patah dan jatuh menghantam tubuh Marsha. Hardik kayu, debu, dan buku-buku tebal berhamburan menghantam lantai. Tubuh Marsha terhempas keras, kepalanya membentur lantai marmer dan semuanya menjadi gelap dalam sekejap. Kalandra terkejut, wajahnya berubah. “Marsha?!” Dia langsung berlutut, memindahkan pecahan kayu dengan satu tangan, lalu mengangkat kepala Marsha dengan tangan lain. “Hey… buka matamu.” Dia menepuk pipi Marsha perlahan. Tidak ada respons. “Sial.” *** Cahaya putih lembut menyelinap lewat tirai tipis ketika Marsha membuka mata. Aroma antiseptik memenuhi udara. Klinik internal Markas Besar Angkatan Laut. Dia mengedarkan pandangan dan langsung membeku. Di sofa panjang dekat jendela, Kalandra Galuhpati duduk dengan tubuh tegak, tangan terlipat di d**a, seragam dinasnya masih rapi, dan tatapannya… tajam. Marsha tersentak dan segera duduk tegak di tengah ranjang. “P-pak Kalandra… saya… saya minta maaf. Saya bener-bener nggak bermaksud bikin masalah. Saya ingin menyelesaikan ini dengan cara paling damai dan—” “Program Marine Public Insight saya hentikan.” Ucapan itu memotong kalimat Marsha seperti pisau dingin. “A-apa…?” “Saya tidak akan menuntut,” lanjutnya datar. “Tapi program itu harus selesai.” “Tidak bisa,” seru Marsha spontan, suara meninggi karena panik. “Itu program yang dibangun susah payah, Pak! Perusahaan saya, tim saya, kami sudah bekerja keras. Masyarakat juga terbantu dengan edukasi itu. Dan—” “Program itu mengganggu cuti saya.” Kalandra masih duduk tanpa bergerak. “Dan lebih parah, tim kalian membuat opini keliru soal TNI AL.” “Tapi… justru dengan kerja sama langsung, kita bisa membuktikan kalau laut baik-baik saja! Kalau kerusakan bukan semata akibat operasi TNI AL! Ini bisa menaikkan citra institusi, Pak. Ini—” “Kamu tidak mengerti struktur kami,” potong Kalandra lagi. “Yang harus kamu dan perusahaanmu lakukan hanyalah meminta maaf atas pemberitaan tidak akurat itu. Tidak perlu program bersama. Selesai.” “Pak… jangan begitu,” Marsha memohon, suaranya bergetar. “Tolong… pertimbangkan ulang. Marine Public Insight adalah—” “Kamu bahkan belum mampu menjaga dirimu,” sahut Kalandra dingin. “Dan kamu mau saya percayakan laut Nusantara untuk kamu dokumentasikan?” Marsha menelan ludah. Tangannya gemetar. Kepalanya panas karena tekanan. Dia tidak tahu harus berkata apa, panik menyerangnya seperti gelombang tinggi. Tanpa sadar, tangannya meraih mangkuk kecil di nakas. Di dalamnya ada anggur segar. Dia mengambil satu dan langsung memasukkannya ke mulut, mengunyah cepat bahkan terlalu cepat. Kalandra menatapnya lama, satu alis terangkat. “Kamu sedang saya kritik, dan kamu malah makan?” “S-saya… kalau panik, saya harus makan sesuatu. Sebentar, Pak, kasih saya waktu…” Sudut bibir Kalandra terangkat, seperti menahan tawa. “Jadi itu alasanmu mendorong mulutmu ke mulut saya waktu di koridor? Kamu panik dan butuh makan?” “A-apa sih maks—” Marsha berhenti. Matanya membesar. Dia merasakan sesuatu tersangkut di tenggorokan. “U-uhuk—uhuk! UHU—! Uhuk! Pak…! Uh—!” Dia memukul dadanya sendiri, wajahnya memerah, napasnya tersendat. Panik. Sangat panik. Kalandra langsung berdiri, wajahnya berubah serius. “Kamu kenapa lagi?” Marsha tidak bisa bicara. Anggur utuh itu tersangkut. Kalandra maju dua langkah lebar, naik ke ranjang tanpa menunggu izin. “Jangan panik.” Dia menyentuh bahu Marsha, memiringkan tubuh perempuan itu sedikit ke depan. “Aku—uhuk! S-sesak—!” Kalandra membungkus pinggang Marsha dengan satu lengan, menariknya hingga punggung Marsha menempel ke dadanya. “Tarik napas lewat hidung.” Dengan gerakan cepat dan kuat, Kalandra menekan ulu hati Marsha dari belakang, melakukan abdominal thrust. Satu. Dua. Tiga kali hentakan. “Ugh—UHUK!” Anggur utuh itu terpental keluar dari mulut Marsha, memantul ke dinding dengan suara pletak kecil. Marsha terkulai lemas langsung berbaring, terengah keras. Dadanya naik turun cepat. Kalandra juga terdiam, bahunya naik turun karena intensitas situasi barusan. Tanpa sadar, karena kelelahan, dia duduk di tepi ranjang lalu perlahan merebahkan dirinya di samping Marsha. Keduanya berbaring sejajar, sama-sama masih mengatur napas. Keduanya diam selama beberapa menit, menatap langit-langit yang sama. Sebelum Kalandra berucap, tiba-tiba terdengar bisikan dari celah pintu. “Beneran deh, Bu, yang itu cewek yang cium abang kemarin.” “Udah disimpen rekaman barusan? Buat bukti ke Bapakmu.” “Udah ini, aman.” Seketika Kalandra dan Marsha menoleh ke arah pintu. Dua orang yang mengintip lewat celah itu begitu panik hingga tersandung kaki sendiri dan… BRAK! Mereka malah jatuh tengkurap menindih satu sama lain. “Ibu ih, kaki aku kejepit. Ibu minggir.” **** “Kalandra, kamu dengar saya bukan?” Suara berat itu menggema di ruangan komandan. “Iya, Pak. Saya dengar.” “Dengarkan baik-baik,” ujarnya sang atasan. “Kehadiran jurnalis dalam program Marine Public Insight ini bukan hanya tentang laut. Bukan hanya ekologi. Ini juga kesempatan untuk memperlihatkan profesionalisme TNI AL ke publik.” Kalandra tidak bergerak. “Atas nama instansi, kita butuh itu,” lanjut Dirgantara. “Kamu harus memanfaatkan kesempatan ini, bukan membuangnya.” “…Baik, Pak.” “Saya tahu kamu tidak suka diganggu saat cuti,” ucapnya menambahkan sambil menghela napas. “Tapi negara memanggil lewat cara berbeda. Kamu ditugaskan, bukan diminta. Mengerti?” “Siap, Pak.” “Nah.” Sang atasan menepuk bahunya. “Kembalilah membimbing Mbak Jurnalis itu. Dan berterima kasihlah padanya nanti. Program ini baik untuk kita.” Keluar dari ruangan dengan menghela napas berat, namun dalam hati berputar satu kalimat, Perempuan gila itu… semoga tidak membuat kekacauan lagi. Dia berjalan cepat menuju klinik. Tadi, sebelum dia sempat menjelaskan pada Ibu dan Kinar tentang apa yang sebenarnya terjadi, dia dipanggil ke ruang atasan. Jadi entah apa yang sedang berlangsung di dalam klinik sekarang. Begitu pintu terbuka, Kalandra langsung terhenti. Ibunya, tengah duduk manis di kursi samping ranjang sambil tertawa lembut, mengupaskan apel untuk Marsha. Marsha duduk di ranjang, wajah merah, tangan rapi di pangkuan, dan terlihat… akrab? Akrab sekali. “Nah, Bang,” suara Ibu Rindiani riang, “Akhirnya Ibu paham kenapa kalian menyembunyikan hal ini.” “Hah?” alis “Iya. Ternyata baru dua bulan jalan ya?” Rindiani tersenyum bangga. “Tapi Ibu dukung kok. Mana Marsha anaknya cantik begini. Muda juga. Jarang banget anak muda ada yang mau sama pria bangkotan kayak kamu.” Kalandra memicingkan mata. Apa sih? “Adekmu harus ke Rumah Sakit katanya ada jadwal operasi,” lanjut Rindiani santai. “Jadi tadi Ibu ngobrol dari hati ke hati sama pacarmu ini.” “Pac—apa?” Kalandra benar-benar bingung. Tepat saat dia hendak membuka mulut, ponsel ibunya berbunyi nyaring. “Ck, bapakmu telpon lagi,” gumam Rindiani. Dia berdiri, menyodorkan pisau pengupas dan apel yang belum selesai dipotong kepada Marsha. “Nih, jadi pacar yang baik, ya. Kalian ngobrol dulu. Ibu mau angkat telpon.” Pintu tertutup. Dan Sunyi. Perlahan, kalandra menoleh. Tatapannya berubah menjadi tatapan komando siap tempur. Marsha tahu. Dia tahu sekaranglah hari pembalasan idenya sendiri. “Jelaskan,” ujar Kalandra pendek, datar, tapi mematikan. Marsha spontan turun dari ranjang, duduk bersimpuh di atas karpet. “P-p-pak Kalandra, mohon jangan marah dulu… saya bisa jelaskan… saya mohon.” Kalandra memijat pelipis. “Kamu bilang apa pada Ibu saya?” Marsha mengambil napas dalam seperti mau menyelam, sebelum berucap, “Jadi begini Pak, tadi Ibu nanya-tanya kenapa saya ada di klinik, kenapa saya pusing, kenapa saya panik, terus beliau menanyakan apakah saya pacar Bapak yang disembunyiin, terus beliau bilang kalau Bapak nggak segera ngenalin pacar nanti dijodohkan sama anak rekan beliau, dan saya panik Pak. Apalagi kalau programnya dibatalin saya bisa dipecat, perusahaan saya jatuh, tim saya sedih, dan— dan Bapak sudah mau menghentikan program dan saya takut dituntut dan—” “Stop.” “—jadi saya ngaku pacar Bapak supaya Bapak gak tertekan lagi karena perjodohan. Bapak tenang saja, saya akan memerankan peran dengan baik, nggak bakal ganggu hidup Bapak, nggak bakal bikin Bapak marah, saya nggak bakal cium Bapak lagi, sumpah, saya mohon… apa saja akan saya lakukan asal Bapak jangan batalkan program dan jangan tuntut saya, saya rela, saya janji—” “Marsha diam.” Nada Kalandra berubah lebih dalam. “Menurutmu, kita sedang main sinetron jam tujuh malam?” Sudut bibirnya terangkat sinis. “Pacar pura-pura?” “Pak, saya mohon. Saya sungguh-sungguh. Saya akan lakukan apa pun. Saya dengar dari Ibu kalau Bapak menolak perjodohan terus, artinya tidak mau ‘kan? Jadi saya akan membantu Bapak sebisa mungkin, tapi Bapak juga harus membantu saya, saya mohon, Pak.” Dia semakin dekat, terlalu dekat, sampai kepalanya sejajar dengan paha Kalandra. Kalandra menegang. “Marsha, mundur.” “Tolong, Pak…” “Marsha.” Dia semakin maju. Lalu— “Akhhh!” Marsha tersandung lututnya sendiri. Dan… HUMPH! Kepalanya tersungkur tepat ke perut bawah Kalandra. Tepat. Sasaran sangat tidak strategis. Kalandra tersentak, menegang seperti patung. Dan seketika— “YA TUHAN! ASTAGA! KALIAN!!!” Teriakan Ibu Rindiani memecah ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD