Langkah Vivian terasa berat saat ia pulang sore itu. Matahari hampir tenggelam, menyisakan cahaya keemasan di halaman depan rumah. Ia menatap garasi yang setengah terbuka. Kosong. Mobil Hans tidak ada di tempat biasanya. Padahal, di hari seperti ini, Hans biasanya pulang lebih cepat karena bekerja setengah hari.
Vivian mengerutkan kening. “Aneh…”
Ia menutup pintu pagar perlahan dan baru hendak masuk ketika suara heels terdengar dari pintu gerbang samping. Deliana muncul dengan pakaian rapi, baru pulang kerja, namun wajahnya tampak gugup sesaat saat melihat Vivian ada di depan pintu.
“Oh, kamu sudah pulang?” tanya Deliana sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Iya, Tante. Tapi… kok Tante ada di rumah jam segini? Kan biasanya pulang malam?”
Deliana tersenyum kaku. “Sebenarnya aku masih ada banyak pekerjaan. Tapi om kamu minta makan malam bersama hari ini. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Dan… entah kenapa dia bilang ketemuan langsung di restoran.” Ia mendengus kecil. “Aneh memang, tapi ya sudahlah. Aku mau mandi dulu.”
Vivian mengangguk pelan, menatap punggung Deliana yang menghilang di koridor kamar. Ada sesuatu yang tidak beres. Deliana terlihat gelisah. Dan Hans… seharusnya ada di rumah, bukan entah di mana.
Lalu sebuah kesadaran menghantam Vivian. Hari ini, Hans sudah mempersiapkan kejutan besar. Pesta kecil ulang tahun pernikahan mereka yang ke-sepuluh. Hans membicarakannya dengan penuh harapan. Paket liburan ke Paris. Makan malam di restoran Rose. Semua demi membuat Deliana tersenyum lagi.
Vivian menutup mata, menghela napas panjang yang penuh frustrasi. “Om Hans… bagaimana kalau Tante tidak pantas untuk itu?”
Belum sempat ia meresapi isi hatinya, bel pintu berbunyi.
Ting-tong!
Vivian berjalan cepat ke arah pintu depan. Seorang kurir berdiri dengan sebuah kotak besar berbalut kertas coklat elegan.
“Paket untuk Bu Deliana Anggarta.”
“Oh, iya. Saya terima.” Vivian menandatanganinya.
Kotak itu terasa ringan di tangannya. Ia membawanya dengan hati-hati menuju kamar Deliana. Di depan pintu, ia mengetuk pelan.
“Tante?” panggilnya. “Ada paket.”
Tidak ada jawaban.
Vivian mengetuk sekali lagi. Masih hening. Ia ragu sejenak sebelum mendorong pintu. Tidak dikunci. Begitu masuk, suara air terdengar jelas dari kamar mandi dalam. Deliana sedang mandi.
“Baik… kutaruh saja,” gumam Vivian.
Ia meletakkan kotak paket di atas meja rias. Vivian hendak keluar ketika getaran halus terdengar dari meja sisi ranjang.
Ponsel Deliana menyala.
Layar menampilkan nama Presdir.
Vivian refleks mengambil ponsel itu, hendak menyampaikannya. “Tante, telepon—” Tetapi panggilan itu terputus sebelum ia sempat mengetuk pintu kamar mandi.
Ia menunduk melihat notifikasi yang terus bermunculan.
Dan dunia Vivian berhenti.
Pertama sebuah pesan.
[Sayang, aku sudah booking kamar seperti biasa. Aku merindukanmu. Jangan telat malam ini.]
Vivian menelan ludah, tangannya bergetar. Belum sempat ia memproses isi pesan itu, notifikasi kedua masuk.
Transfer berhasil: Rp 250.000.000.
Vivian menutup mulutnya. “Tante Deliana… menerima uang sebanyak itu?”
Dan yang ketiga…
Sebuah foto yang langsung menusuknya. Foto bundel kunci hotel dengan nomor kamar yang terlihat jelas, kamar mewah yang sering digunakan untuk affair publik figur. Nama hotelnya sama dengan hotel yang dipakai Hans untuk makan malam. Hotel Rose. Kunci itu dipotret di atas ranjang dengan seprai putih, dan caption-nya seolah merobek d**a Vivian.
[Untuk kita malam ini. Aku sudah menunggu lama.]
Vivian membeku.
Tubuhnya terasa dingin, jari-jarinya gemetar tak terkendali. Napasnya pendek-pendek, seperti paru-parunya menolak bekerja. Ponsel itu semakin berat di tangannya, seakan memaksanya menerima kenyataan pahit yang selama ini ia cemaskan, tetapi tidak pernah siap untuk menghadapinya.
“Aku benar. Tante selingkuh. Bukan sekadar selingkuh… tapi dijaga seperti kekasih mahal.”
Vivian mundur selangkah, lalu selangkah lagi. Otaknya kosong, namun hatinya penuh dengan suara-suara yang tumpang tindih.
“Om Hans… tidak pantas mendapatkan ini. Dia mencintai Tante. Terlalu mencintai.”
Air mata Vivian menggenang, namun ia menahannya, menelan semua yang hendak pecah.
***
Vivian berdiri di tengah kamarnya, jari-jarinya gelisah meremas ujung bajunya sendiri. Ia berjalan maju–mundur, pikirannya berkecamuk seperti badai yang tak tahu harus merusak apa terlebih dahulu. Vivian menutup wajahnya, napasnya memburu.
“Apa yang harus kulakukan?” bisiknya lirih.
Otaknya mencoba membantah apa yang dilihatnya, seolah mungkin saja ia salah membaca. Tapi semuanya nyata. Dan lebih buruknya lagi, ini adalah akhir pekan di mana Hans sudah mempersiapkan kejutan besar untuk ulang tahun pernikahan mereka.
Lalu…
Apakah Deliana akan tetap menghadiri makan malam kejutan Hans… dan setelah itu pergi menemui lelaki lain?
Vivian menelan ludah, dadanya terasa sesak.
“Aku harus bilang ke Om Hans? Tapi kalau aku bilang, apa aku akan menghancurkan semuanya? Bagaimana kalau aku salah? Bagaimana kalau ini sebenarnya urusan orang dewasa yang nggak seharusnya aku campuri, seperti kata Rachel?”
Tiba-tiba, dari luar jendela, terdengar suara pagar otomatis terbuka. Vivian berdiri refleks dan melongok dari balik tirai.
Deliana keluar rumah dengan pakaian rapi, rambut masih basah tapi sudah tertata. Vivian mengacak rambutnya frustrasi.
“Kenapa harus aku yang tahu hal ini?” gumamnya.
Ia mengambil tasnya, berjalan ke ruang tamu sambil terus berpikir keras.
“Aku ngak bisa diam saja,” katanya akhirnya.
Vivian keluar rumah lalu mengangkat tangan, menghentikan taksi yang lewat.
“Ke mana, Nona?” tanya sopirnya.
“Ke hotel Rose,” jawabnya.
**
Ketika taksi akhirnya berhenti di depan hotel Rose, Vivian tersentak kembali pada kenyataan. Bangunan mewah itu berdiri menjulang, pintu lobi berputar dengan elegan. Tempat yang terlalu glamor untuk sesuatu yang begitu menyakitkan.
Sopir menoleh. “Sudah sampai, Nona.”
Vivian mengangguk, membayar, lalu turun. Kakinya terasa berat. Lobi hotel dipenuhi orang-orang berpakaian rapi.
Vivian menelan ludah. Ia melangkah masuk. Matanya mencari… apa saja. Seseorang. Sebuah petunjuk. Deliana mungkin sudah naik ke kamar.
Atau… mungkin belum.
Vivian berdiri di tengah lobi, berusaha melihat ke segala arah. Dan saat itulah dadanya mengencang, karena ia melihat sosok yang sangat ia kenal.
Deliana. Berjalan cepat menuju lift. Dengan pakaian elegan… dan dengan seseorang di belakangnya.
Vivian tidak bisa melihat wajah pria itu. Tapi dari postur dan setelan mahalnya, ia tahu… itu bukan Hans.
Tanpa pikir panjang, Vivian menarik napas dalam-dalam, dan mulai mengikuti mereka dari kejauhan. Perasaannya campur aduk antara ngeri, marah, dan takut.
Langkahnya semakin cepat. Tangannya mengepal. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Yang ia tahu… Ia tidak bisa mundur sekarang.
Vivian melangkah masuk ke dalam lift tepat sebelum pintunya menutup. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia merasa seluruh tubuhnya ikut bergetar. Angka-angka di panel lift naik perlahan, tiap lantai terasa seperti menit tambahan untuk menyiapkan diri atau justru membuatnya semakin ingin mundur.
“Aku harus lihat sendiri… hanya memastikan,” bisiknya lirih, mencoba menenangkan dirinya.
Pintu lift terbuka.
Lorong lantai itu sunyi, lampunya redup dan elegan. Vivian menelan ludah, mencoba mengingat nomor kamar yang ia lihat dari foto kunci. Kakinya terasa ringan sekaligus berat saat ia melangkah maju.
Namun baru beberapa langkah, Vivian tiba-tiba berhenti.
Ada seseorang berdiri di ujung lorong. Seseorang yang tak mungkin ada di sini.
Mata Vivian membesar. “Bagaimana bisa?”