"Bu Erna... aku tuh sampai sekarang masih suka mikir," ujar Bu Hilma sambil mengaduk tehnya perlahan. "Gimana bisa Zahra… yang udah lima tahun nikah sama Fadlan… malah keduluan sama Ferlin? Padahal Ferlin itu baru juga lulus kuliah kemarin sore." Bu Erna tersenyum kaku. Ia sudah menduga arah pembicaraan ini. Bu Hilma memang selalu punya cara untuk menyelipkan topik-topik “berbobot” dalam balutan nada prihatin. "Iya, saya juga bingung, Bu," jawab Bu Erna pelan, matanya memandangi taman dari balik jendela. "Kadang tuh saya ngerasa… Zahra itu keras kepala. Dibilangin susah. Hidupnya juga maunya serba sederhana. Katanya sih, biar nggak ngerepotin. Tapi kadang saya mikir, apa iya semua itu bener-bener karena prinsip? Atau jangan-jangan... memang dia nggak terlalu serius." Bu Hilma mengangg

