Trotoar depan pasar malam, sore itu sudah dipenuhi lalu lalang ibu-ibu yang akan healing akan mungkin sekedar mengantar anaknya main sambil belanja. Tukang gorengan sibuk melayani pembeli, tukang parkir sibuk bersiul sambil mengatur motor, aroma gorengan bercampur harum maratbak dan sejenisnya mulai membumbung di udara. Saat melewati sudut jalan dekat warung kopi yang baru mulai buka, langkah Zahra terhenti. Sebelah tangannya bahkan masih mengelus-elus perutnya, iseng. “Eh… kamu Zahra ya?” teriak seseorang. Suara nyaring itu membuat Zahra menoleh. Seorang wanita dengan lipstik merah menyala, celana jeans ketat, dan atasan warna kuning terang berdiri sambil menggendong anak balita. Wajahnya tak berubah, masih sama seperti dulu, meski kini lebih dewasa. Tetap cerewet, tetapan tajam, dan

