"Saya ... saya baik-baik saja, Pak." Evelyn menjawab cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik. Dia menyembunyikan tangannya di balik saku hoodie yang kebesaran, berusaha meredam rasa gatal yang mulai menjalar hebat. Damian tidak lantas masuk ke kamarnya. Instingnya sebagai seseorang yang terbiasa mengobservasi karyawan di tempat usaha dan mahasiswa di kelas, mendadak tajam. Ada nada yang tidak selaras dari jawaban Evelyn. Damian melangkah mendekati Evelyn kembali, mata pria itu tertuju pada mug cokelat di atas meja yang isinya hampir tidak berkurang sama sekali, lalu beralih pada wajah gadis itu yang kini mulai tampak berbintik merah di kedua pipinya. "Evelyn, lihat saya," perintah Damian tegas, tapi tak membentak. Evelyn menggeleng, menunduk semakin dalam. "Bapak istirahat saja

