Jejak yang Tertinggal

1428 Words
Cahaya matahari pagi menusuk tirai tipis kamar suite, menyelinap seperti pisau cahaya ke kelopak mata Aryan. Ia tersentak bangun, jantungnya langsung berdegup kencang. Jam tangan Rolex di pergelangan kirinya menunjukkan pukul 09.02. Sialan. Tiga jam terlambat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai CEO Wiratama Group, ia terlambat. Rapat direksi pukul enam pagi pasti sudah berlangsung tanpa dirinya. Semua gara-gara malam itu. Gara-gara gadis itu. Ruangan terasa terlalu hening. Terlalu kosong. Aryan menoleh ke samping. Seprai putih di sisi ranjang king size itu sudah dingin, lipatannya rapi seperti tak pernah disentuh. Tak ada lagi aroma manis samar bunga melati yang menempel di rambut Ghea. Tak ada lagi jejak tubuh kecil yang meringkuk di pelukannya sampai larut. Dia sudah pergi. Aryan bangkit perlahan, telanjang kaki menyentuh lantai marmer yang dingin. Ia berjalan menyusuri kamar, matanya mencari-cari seperti orang yang kehilangan sesuatu yang tak bisa ia akui pentingnya. Tas selempang denim kecil yang semalam tergantung di kursi hilang. Sepatu kets putih lusuh yang tergeletak sembarangan di karpet ... juga lenyap. Lalu pandangannya tertumbuk pada tempat sampah kamar mandi yang sedikit terbuka. Di dalamnya, teronggok selembar kartu nama putih yang sudah diremas-remas sampai kusut, sudut-sudutnya melengkung seperti menangis. Kartu nama Aryan Wiratama, CEO Wiratama Group. Ghea tak hanya menolak bantuannya. Ia membuang identitasnya seperti sampah. Aryan mengambil kartu itu. Ia merapikannya perlahan, seolah sedang merapikan harga dirinya yang remuk. Lalu ia masukkan kartu kusut itu ke dalam dompet kulit di saku celana dalam jasnya. Ia menutup mata. Jempolnya tanpa sadar menyentuh bibir bawahnya sendiri. Ciuman itu masih terasa. Lembut, panas, liar, dan… memohon. Bibir Ghea yang gemetar saat akhirnya menyerah, lidahnya yang menari putus asa, seperti orang tenggelam yang mencari udara. Aryan sudah bertahun-tahun hidup tanpa gairah, hanya angka, rapat, dan target. Tapi semalam, gadis itu membuka gerbang yang sudah ia kunci rapat-rapat. Dan yang paling menyakitkan—ia membiarkan dirinya terhanyut. Ia menarik napas panjang, pahit. “Pergi saja,” gumamnya pada ruangan kosong. “Aku juga akan melupakannya.” *** _Kampus DKV, pukul 10.32_ “Hei, cepat! Dosen Kiki pasti sudah mulai ngoceh tentang Kandinsky lagi!” Ghea berlari kecil di koridor fakultas, tas ranselnya bergoyang-goyang di punggung, napasnya tersengal. Claudia menarik lengannya keras hingga Ghea hampir tersungkur di depan pintu kelas 304. “Stop dulu, Ghe!” suara Claudia rendah tapi tajam seperti pisau. Matanya merah, kantung matanya membengkak. “Aku begadang semalaman, panik setengah mati karena shareloc-mu mati jam dua pagi, lalu harus nunggu di lobi hotel sampe subuh kayak orang gila! Dan kamu sekarang santai aja mau masuk kelas?!” Ghea menggigit bibir bawahnya, rasa bersalah menyelinap. “Clau, aku janji nanti aku jelasin” “Kapan ‘nanti’ itu, hah?” Claudia mendengus, tangannya masih mencengkeram lengan Ghea. “Setelah kamu tidur nyenyak sama sugar daddy misteriusmu itu?” Ghea langsung menutup mulut Claudia dengan telapak tangan, matanya melotot panik. “Sssst! Gila apa ngomong gitu di koridor!” Claudia menepis tangan Ghea, tapi suaranya sudah lebih pelan, meski tetap penuh tuduhan. “Pokoknya habis kelas ini, kamu cerita semuanya. Dari A sampai Z. Aku serius, Ghea.” Ghea hanya mengangguk kecil, jantungnya kembali berdegup kencang bukan karena lari, tapi karena ingatan malam itu yang tiba-tiba menerjang lagi. Pintu kelas terbuka. Dosen Kiki menoleh dengan alis terangkat. “Nona-nona terlambat, silakan masuk. Tapi jangan harap saya ulang penjelasan tentang Bauhaus.” Ghea dan Claudia buru-buru melesat ke bangku belakang, tapi sepanjang kuliah itu, pikiran Ghea tak pernah benar-benar ada di ruangan itu. Ia masih bisa merasakan hangatnya tangan pria itu di pinggangnya. Dan rasa dingin saat ia meninggalkan kartu nama itu di tempat sampah seperti meninggalkan sebagian dari dirinya sendiri. *** Kuliah Sejarah Seni Rupa Modern terasa seperti satu dekade bagi Ghea. Setiap kata yang Dosen Kiki ucapkan seolah merambat lambat, menunda momen mengerikan di mana ia harus menghadapi tatapan menuntut Claudia. Begitu bel berbunyi, Claudia tidak memberinya waktu bernapas. Ia langsung mencengkeram lengan Ghea. "Kantin. Sekarang. Semua." Mereka menuju kantin fakultas yang ramai, mencari meja di sudut yang relatif tersembunyi. Claudia memesan dua porsi nasi goreng gila—makanan pelampiasan mereka saat sedang stres—namun Ghea hanya menyentuh air mineralnya. "Baiklah, aku siap," kata Ghea, suaranya pelan. Ia menunduk, tidak sanggup menatap mata Claudia. Claudia menghentikan kunyahannya. "Aku tidak mau dengar alasan. Aku mau fakta. Dari detik kau masuk mobil silver itu." Ghea mulai bercerita. Ia menceritakan rasa cemasnya saat mobil Reza berbelok ke area SCBD, bukannya Senopati. Ia menceritakan gemerlap Klub Eclipse, rasa risihnya, dan betapa cepat Reza mendesaknya untuk minum. "Rasanya enak, Cla. Manis, tapi panas. Dan setelah gelas kedua, aku tidak lagi merasa pusing, tapi... gila. Aku merasa sangat berenergi, dan tubuhku seperti... menuntut sentuhan." Ghea berhenti, kesulitan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan efek obat perangsang itu. Claudia mendengarkan dengan wajah yang semakin mengeras. Tangannya mengepal di bawah meja. "Aku ingat kami di mobil lagi. Aku merengek, aku memeluknya. Dia membawaku ke Hotel Regenza. Di lift, kami bertemu Om-Om itu ....." "Lalu?" desak Claudia. Ghea menceritakan adegan kunci jatuh, Reza meninggalkannya, dan Aryan yang datang. "Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi saat aku di kamar Om itu," bisik Ghea, air mata menggenang. "Aku hanya ingat aku menariknya, memohon padanya untuk... untuk menghentikan rasa sakit itu. Dan aku ingat dia menciumku balik." Ghea menutup wajahnya dengan kedua tangan. "aku hanya ingat, dia bilang akan menyelamatkanku. Tapi... Cla, siapa yang akan percaya?" Claudia berdiri, wajahnya merah padam. Ia tidak marah pada Ghea, tetapi pada sistem, pada Reza, dan pada Ayahnya yang kini dicurigai sebagai predator oleh sahabatnya sendiri. "Si b******k itu!" geram Claudia. Ia mengambil ponsel Ghea yang tergeletak di meja, membuka aplikasi Tinder. "Apa yang kau lakukan?" tanya Ghea. Claudia menekan lama ikon aplikasi hijau itu. "Kita hapus sampah ini. Kau tidak butuh monster-monster bersembunyi di balik foto selfie tampan." Hapus. Ikon Tinder lenyap dari layar ponsel Ghea. "Reza itu tidak akan lolos. Kita akan cari dia. Kita harus melapor," kata Claudia. "Aku takut, Cla," Ghea merengek. "Kita akan cari Om-Om itu juga. Kita akan tahu kebenarannya. Dia CEO perusahaan besar, tidak sulit mencarinya." Saat Claudia sedang merencanakan balas dendam, sebuah suara riang memotong ketegangan mereka. "Wah, wah, sepertinya aku tidak sengaja mengganggu rapat darurat." Ghea dan Claudia mendongak. Di sana, berdiri tegak seorang pria muda, tampan dengan gaya rapi, tetapi tatapan matanya sedikit clingy dan mengganggu. Kelvin. Kelvin adalah mahasiswa tingkat akhir dari Fakultas Ekonomi, pemilik akun i********: dengan ribuan pengikut, dan yang paling penting, ia sudah mengejar cinta Claudia sejak semester pertama. Claudia langsung menarik lengan Ghea, bersiap untuk pergi. "Kelvin. Menyingkir. Kami sibuk." Kelvin, seperti biasa, tidak terpengaruh. "Sibuk apa? Sibuk membahas menu makan malam mewah di Regenza Hotel? Aku dengar Ghea baru saja kencan dengan Om-Om kaya." Wajah Claudia memucat. "Jaga mulutmu, Kelvin!" "Aku hanya bercanda, My Queen," kata Kelvin, tersenyum sinis. "Tapi serius, Cla. Kau terlalu kaku. Sekali-kali santai lah. Kenapa tidak makan siang denganku saja? Aku akan traktir. Kau tidak akan menolak tawaranku, kan?" Claudia berdiri, menarik Ghea untuk berdiri juga. "Kami menolak. Ayo, Ghea." Ghea, yang lelah dengan drama emosional, dan secara naluriah tidak menyukai cara Claudia memperlakukan Kelvin, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke Kelvin, memberinya senyum yang sedikit dipaksakan. "Sabar ya, Vin," teriak Ghea, suaranya agak keras. Ia ingin Kelvin mendengar, dan lebih penting, ia ingin Claudia mendengar. "Ntar lama-lama ratu es ini juga mencair. Dia hanya butuh waktu." Kelvin tertawa terbahak-bahak. "Nah! Itu baru sahabat yang baik! Aku pegang janjimu, Ghea!" Claudia mendesis, marah bercampur malu. Ia mencengkeram lengan Ghea dan menyeretnya keluar dari kantin. "Apa-apaan kau, Ghea?" bisik Claudia, begitu mereka berada di luar. "Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," jawab Ghea defensif. "Kau tidak pernah memberinya kesempatan, Cla. Dia menyukaimu." "Aku tidak butuh dia menyukaiku! Aku tidak suka dia! Dan ingat, kau membuat urusan kita jadi rumit!" Claudia melepaskan cengkeramannya, dan untuk pertama kalinya, Ghea melihat amarah murni di mata sahabatnya. Urusan kita jadi rumit, kata Claudia. Ghea tahu itu ada hubungannya dengan Om-Om di hotel itu. "Aku tidak tahu kenapa kau marah padaku. Aku korban, Cla," Ghea membalas, merasa harga dirinya terluka. "Aku tidak marah padamu!" Claudia berteriak pelan, berusaha mengendalikan suaranya. Ia menarik napas. "Aku marah pada pria b******k itu. Keduanya. Aku akan mencari Reza. Dan kau, kau harus memberiku kartu nama pria di hotel itu. Kita butuh namanya." "Aku membuangnya di tempat sampah kamar mandi hotel," jawab Ghea jujur. Claudia membeku. "Kau membuangnya? Setelah semua yang terjadi, kau membuang satu-satunya bukti yang kita punya?" Wajah Claudia kini menunjukkan kombinasi antara keputusasaan dan rencana yang baru terbentuk. "Oke," kata Claudia, suaranya kembali tenang, yang justru membuat Ghea lebih takut. "Kita akan kembali ke Regenza Hotel."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD