Suami atau Kakak Tingkat?

1104 Words
“Hah? Suami?” pekik Rima dan Zena secara bersamaan, kedua mata gadis itu terbuka lebar dan menatap ke arah Aurora yang malah terlihat santai. “Iya, ini Mas Gama, suamiku,” jawab Aurora sambil menunjuk ke arah Gama yang berdiri di hadapannya sambil mengerutkan kening. “Stres!” ucap pria itu singkat, setelah berkata seperti tadi, Gama berjalan meninggalkan Aurora yang terdiam melongo. Namun, sorot mata gadis itu mengikuti punggung Gama yang berjalan semakin menjauh meninggalkannya. “Kok Mas Gama tega banget sih bilang aku stres?” Aurora menggaruk kepalanya sendiri, wajah gadis itu terlihat sendu. Tapi, hal tersebut tidak membuat Rima dan Zena merasa iba padanya, kedua gadis itu malah menertawakan Aurora yang dikatakan stres oleh Gama. “Ya jelas lah lo dibilang stres sama Kak Gama, masa tiba-tiba lo bilang kalau Kak Gama itu suami lo. Sadar, Ra!” Zena menempelkan punggung tangannya pada kening Aurora yang masih terlihat murung. “Lagian, lo berani banget ngomong kayak gitu sama Kak Gama, tar kedengeran sama ceweknya bisa berabe lo,” timpal Rima yang membuat Aurora seketika menatap ke arahnya. “Pacar Mas Gama? Siapa perempuan yang berani memacari suamiku?” sergah Aurora dengan mata yang menatap tajam. “Husssstttt … mulut lo ya, Ra! Emang lo gak tahu atau pura-pura gak tahu kalau pacarnya Kak Gama itu Kimberly, kakak tingkat kita yang cakep dan kaya,” jawab Rima yang membuat kedua mata Aurora semakin terbuka lebar. Ia akan berbicara kencang, namun Aurora segera mengatupkan kedua mulutnya kembali saat ia melihat tiga orang gadis melintas di hadapannya. Sorot matanya tertuju pada seorang gadis bertubuh tinggi, berkulit putih, dan berwarna rambut pirang. Sekarang Aurora baru ingat, kalau gadis itu bernama Kimberly yang menjadi mahasiswi favorit di sana. Dan ya, memang Kimberly dan juga Gama menjalin hubungan kekasih, Aurora perlahan mulai mengingat kalau nanti Kimberly dan Gama akan putus. Namun, ia tetap saja merasa tak rela jika Gama berpacaran dengan Kimberly, karena ia merasa kalau Gama adalah suaminya. “Kak Kim!” panggil Rima dan Zena sambil melambaikan tangannya ke arah Kimberly yang berjalan seolah seorang model. Kimberly hanya membalas dengan senyuman tipis, setelah itu ia memalingkan wajahnya ke arah lain. “Kayak akrab banget kalian berdua,” protes Aurora dengan wajah kesal. “Lo gak say hai sama Kak Kim?” tanya Zena sambil menatap ke arah sahabatnya. “Ogah, gak sudi gue.” Aurora melanjutkan langkahnya, gadis itu berjalan dengan cepat meninggalkan Rima dan Zena. Ia berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Aurora berusaha mengingat-ingat kampus itu, karena rasanya sudah sangat lama ia tidak berada di sana. Bahkan, ada beberapa bangunan yang berbeda dengan bangunan kampus di masa depan. “Ini jam berapa sih?” Aurora mengambil ponselnya dari dalam tas, ia terkejut ketika melihat ponselnya memiliki merk yang berbeda dengan ponselnya di masa depan. “Loh, hp ku jadul banget, ini pasti kameranya blur,” gumannya sendiri. Namun, ada yang lebih mengejutkan dari itu, Aurora benar-benar merasa terkejut ketika ia melihat tanggal dan tahun yang tertera pada ponselnya. “Ya ampun, i-ini beneran tahun segini? ….” Aurora hampir saja melemparkan ponselnya. Bagaimana tidak terkejut, ia melihat tanggal dan tahun pada benda canggih itu yang menunjukkan empat tahun yang lalu jika dihitung dari ingatan terakhirnya di masa depan. “I-ini beneran aku kembali ke masa empat tahun yang lalu? Gak … hp ini pasti eror ….” Aurora membuka dan mengotak-atik benda tersebut, namun sayangnya kenyataan tidak bisa diubah, ia memang sedang berada di masa lalu. “Aduh, ini gimana caranya kembali ke masa depan ya? Aku kasihan sama Ganda, dia pasti mau mimi,” ucap Aurora, ia menyebut nama anak laki-laki mereka hasil pernikahannya dengan Gama. Aurora panik sendiri, ia menengadahkan kepala ke arah langit yang terlihat mulai menghitam, sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Semuanya terasa nyata, ia benar-benar kembali ke masa lalu. Aurora terdiam dengan kepala yang masih menengadah ke atas langit. Ia berpikir keras, jika ini adalah kehidupan yang ia jalani sekarang, berarti ia dagang tidak ada di masa depan atau mungkin masa depan itu belum terjadi dan ia hanya diberi gambaran bahwa kehidupan mereka ke depannya seperti itu. “Mas Gama … Ganda, aku kangen kalian,” ucap Aurora kembali dengan nada lirih. Tak terasa, air matanya menetes dengan perlahan, ia merasa sudut matanya basah oleh buliran bening yang kini mulai mengalir pada pipinya. Akan tetapi, tangis hanya sebagai tanda kesedihan, air mata tak dapat memutar waktu dan mengembalikannya ke masa depan. “Apakah aku harus tetap menjalani kehidupan ini sampai aku tiba di masa itu? Tapi, kenapa ingatanku soal masa depan hanya berhenti di ….” Aurora menghentikan ucapannya, ia merasa kepalanya sakit seperti sedang ditekan. Gadis itu segera menunduk, ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ia melihat sebuah adegan mengerikan, dia melihat dengan jelas tubuh Gama berlumuran darah dengan nafas yang terhenti. Aurora melihat Gama terkapar di atas lantai kotor yang dipenuhi oleh darah segar dari luka pada tubuh Gama. Kedua mata pria itu terpejam sempurna, denyut nadinya sudah terputus, hidup Gama sudah berakhir. Tak hanya itu, sekitar berjarak sepuluh meter dari tempat Gama terkapar, Aurora melihat seorang pria brjas hitam yang sudah mengacungkan pistol ke arah Gama. Sayangnya, peluru pada pistol itu sudah terbang dan melukai tubuh Gama sampai membuat pria itu tak berdaya. Sorot kedua mata pria tersebut menatap tajam ke arah jadas Gama, bibirnya tersenyum devil penuh kemenangan. Ia merentangkan kedua tangannya dan menengadahkan kepala, pria itu lalu berkata “akulah pemenangnya, akulah yang paling berkuasa, hidupmu sudah berakhir, Gama. Selamat tinggal adik tiriku, aku akan mengabarkan kematianmu pada semua anggota keluarga, aku akan mengatakan pada semua orang kalau kamu mati ditangan musuh besar keluarga kita. Selamat tinggal, Gama.” Pria itu tertawa puas dengan penuh kemenangan. “Arrgghhhh … tidakkkk!!!!” Aurora berteriak kencang sambil membuka kedua matanya. Ia merasa lega karena dirinya masih berada di tempat yang sama. Gadis itu memegangi dadanya sendiri, dekat jantungnya berdebar begitu kencang. Bahkan keringat dingin bercucuran dari kening dan pelipisnya. “Ra, lo kenapa?” Zena menepuk bahu Aurora yang membuat gadis itu merasa terkejut. Ia langsung menoleh ke arah Zena yang datang bersama dengan Rima. “E-enggak papa, aku pulang duluan ya. Ini kayaknya mau hujan, aku pulang dulu, bay!” Aurora melambaikan tangannya, gadis itu berlari seperti orang ketakutan. Namun, sepertinya Aurora salah jalan, ia bukan berlari ke arah parkiran kampus, melainkan berlari ke arah lorong belakang. Ia tidak menyadari kalau dirinya salah arah sampai tiba-tiba …. Bruk! Aurora menabrak seseorang yang muncul dari arah depan. “Ma-maaf, aku gak sengaja ….” Ucapannya langsung terhenti setelah ia melihat wajah pria yang ia tabrak tadi. “Ini kan orang yang ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD