Bab 1 Paman Pacar

971 Words
“Perfect,” ucap Sisil Maynisa setelah mengoleskan liptink berwarna nude ke bibirnya sambil tersenyum dan mengedipkan matanya di depan cermin. Sesekali, dia juga merapikan blouse cokelat dan celana kulot yang dipakainya. Dari atas kasur, Dhea mengamati dengan ekspresi curiga. “Mau ke mana lo dandannya niat banget gitu?” Dhea dan Sisil adalah teman dari SMA sampai sekarang. Mereka memutuskan mengontrak satu rumah setelah mendapatkan pekerjaan untuk menghemat pengeluaran. "Mau ke mana?" tanya Dhea lagi. Sisil tidak menjawab. Ia meraih tas kecilnya, menyemprotkan parfum sekali lagi, lalu menoleh sambil mengangkat bahu santai. “Ada deh.” “Mau ke rumah pacar lo yang konglomerat itu?” tebak Dhea. Sisil tidak menjawab, hanya memamerkan senyuman lebar sampai giginya kelihatan. Dhea melempar bantal kecil ke arahnya. “Kalau kalian nikah, jangan lupain gue ya. Gue saksi sejarah dari zaman lo cuma bisa liat dia dari Instagram.” Sisil tertawa. “Tenang. Undangan plus voucher makan 10% gue kasih khusus buat lo.” “Dih apaan! Pelit amat lo! Minimal diskon 50%, dong!” Sisil hanya tertawa lalu kabur. Gadis itu sangat bersemangat. Dengan mengendarai mobilnya yang.delapan bulan lagi cicilan lunas. Sisil tersenyum, hatinya berdebar-debar karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan orang yang istimewa baginya. --- Sisil tiba di mansion berlantai empat. Mansion yang terlalu besar buatnya. Empat lantai menjulang dengan dinding kaca tinggi. Lampu gantung kristal di ruang tengah memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengilap. Sisil sudah tiga tahun datang ke sini. Tiga tahun merasa kagum sekaligus merasa asing. Namun ada satu alasan yang membuatnya tetap datang. Alasan yang bahkan mungkin akan membuat orang lain menghujatnya jika tahu bahwa kadang, ia datang bukan sepenuhnya demi Kristian. “Kristian belum pulang, Non Sisil.” Sisil tersenyum tipis saat mendengar informasi dari kepala pelayan rumah itu. Itu bukan kabar baru. Alasan seperti masih rapat, masih di kantor atau masih ada meeting mendadak, sudah tidak lagi menyakitkan. Hanya membuatnya hatinya terbiasa. “Tidak apa-apa, Pak. Aku tunggu saja,” jawabnya lembut. Ia berjalan ke ruang keluarga. Televisi menyala dengan volume rendah, tapi ruangan tetap terasa sunyi. Terlalu luas untuk satu orang. Langkah lain terdengar dari arah tangga. Suara kakinya sangat familiar baginya. Sisil tidak perlu menoleh untuk tahu siapa. “Kris belum pulang.” Suara bariton itu masih terdengar dalam dan menyenangkan di telinga Sisil. Sisil berbalik. Seperti dugaannya, Lucas berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu memakai kemeja abu-abu dengan lengan digulung sampai siku, dasi sudah dilepas. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin baru pulang dari rumah sakit. Sisil terpukau saat melihat ketampanan Lucas. “Halo, Om,” sapa Sisil pelan. Tatapan Lucas berhenti di wajahnya sepersekian detik lebih lama dari yang sewajarnya. “Kamu sudah makan? Ayo makan bareng. Barusan aku minta pelayan menyiapkan makan malam.” Bukan basa-basi. Lebih seperti pemeriksaan. Sisil terkekeh kecil. “Om ini cenayang ya? Tahu aja aku lapar.” Lucas melangkah mendekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Sisil mencium aroma sabun antiseptik bercampur wangi parfum lembut yang khas miliknya. “Kamu selalu lupa makan kalau ke sini.” Kalimat itu sederhana, tapi terasa personal. Sisil tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum, mencoba menyembunyikan debar aneh di dadanya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di meja makan panjang yang sebenarnya bisa menampung belasan orang. Namun malam itu, hanya dua kursi yang terisi. “Gimana kerjaanmu?” tanya Lucas pelan. Sisil mengangguk. “Tutup buku akhir bulan. Lagi chaos, Om.” “Kalau sudah tidak worth it, kamu bisa pindah ke perusahaan kami. Posisi lebih baik dan gaji lebih tinggi.” Nada bicaranya tetap datar seolah membahas investasi, bukan hidup seseorang. Sisil tertawa ringan. “Nanti dibilang numpang hidup sama pacar dan keluarganya.” Lucas berhenti menggerakkan sendoknya. Tatapannya terangkat. “Siapa yang berani bilang begitu ke kamu?” Sisil tersentak kecil. Ada kemarahan di nada suaranya. “Itu cuma pikiranku aja, Om,” jelasnya. Hening sesaat. Lucas kembali makan, tapi rahangnya masih sedikit menegang. “Jangan biasakan merendahkan diri sendiri.” Kalimat itu terdengar seperti perintah. Sisil menunduk, pura-pura fokus pada piringnya. Kalau terlalu lama menatap Lucas, ia takut sesuatu dalam dirinya terbaca jelas. Setelah makan malam, mereka kembali ke ruang keluarga. Televisi masih menyala, tapi tak satu pun benar-benar menontonnya. “Hubungan kamu sama Kristian gimana?” tanya Lucas tiba-tiba. Pertanyaan yang terdengar biasa, tapi terasa berat. “Baik, Om,” jawab Sisil singkat. Lucas mengangguk pelan, tapi terlihat tidak sepenuhnya yakin. Suara mobil memasuki halaman memecah suasana. Sisil spontan berdiri. Ia hafal suara itu. “Darling!” panggilnya ceria saat Kristian turun dari mobil. Namun ekspresi pria itu tidak membalas semangatnya. “Gue datang,” kata Sisil cepat, mencoba mendahului kemungkinan pertanyaan. Kristian mendesah. “Lo nggak ada kerjaan lain ya? Ngapain ke sini?” Senyum Sisil membeku. “Oh… gue kira lo kangen. Udah tiga hari kita nggak ketemu soalnya.” “Kalau mau ke sini, bilang dulu. Gue capek.” Nada itu bukan sekadar lelah. Lebih seperti terganggu. Sisil berusaha meraih lengannya. “Darling…” Kristian menepis tangan itu ringan tapi tegas. “Jangan drama.” Ia masuk tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup. Untuk sesaat, rumah sebesar itu terasa semakin sunyi. “Jangan nangis.” Suara Lucas terdengar di belakangnya. Sisil menoleh. Ia tidak sadar matanya sudah memanas. Lucas mengulurkan cokelat kecil ke arahnya. Gerakan sederhana, hampir canggung. “Kamu lebih cocok tersenyum,” katanya pelan. “Lebih cantik.” Jantung Sisil berdetak tidak wajar. Ia menerima cokelat itu. “Makasih, Om.” “Hati-hati pulangnya.” Sisil tertawa kecil untuk menutupi getar di dadanya. “Siap, Om.” Lucas mengangguk, lalu berbalik naik ke tangga. Langkahnya tetap tenang seperti biasa. Sisil menatap punggung pria itu sampai menghilang di lantai atas. Rumah ini terlalu besar, dingin dan terasa salah untuk perasaan yang mulai tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. “Andai pacar gue lo, Om…” bisiknya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD