Mobil melaju semakin jauh dari pusat kota, meninggalkan lampu gedung, kemacetan, dan kemungkinan bertemu Kristian di setiap lampu merah. Sisil baru sadar ia masih menahan napas. Saat Lucas berbelok ke jalan yang lebih sepi, barulah ia menghembuskannya pelan. Hatinya lega dan bahagia. “Huft…” Lucas melirik sekilas. “Kamu tegang? Kayak ketemu zombie aja,” ledeknya. “Wajar dong. Tadi rasanya kayak habis merampok bank dan nyaris ketahuan intel, Om.” Sisil mengerucutkan bibirnya sedikit. Lucas hampir tersenyum melihat itu. Baginya, Sisil sekarang terlihat menggemaskan. “Kita nggak akan ketahuan. Kalaupun iya, kamu perampok yang diam aja, pasti dikejar,” katanya membuat Sisil nyaris batuk karena tidak menyangka Lucas akan segombal itu. “Ih, perumpamaannya bikin perut aku sakit, deh. Lagian

