Lucas duduk di ruang istirahat dokter, tangan masih memegang gelas kopi hangat. Pikirannya ke mana-mana. Dia masih memikirkan tentang Sisil dan betapa dekatnya jarak mereka tadi.
Ini bukannya saat yang tepat buat ciuman, Om?
Perkataan Sisil masih terbenam di otaknya. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Bukan waktunya. Lagipula, dia tidak mau begitu saja goyah karena seorang gadis kecil berusia dua puluh enam tahun yang juga merupakan mantan pacar keponakannya. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri, dia sempat goyah saat melihat bibir merah muda milik Sisil. Meski sekilas, tapi rasa malu hinggap di hatinya membuat pipinya merona sampai terasa panas.
Lucas menatap kopi di gelasnya, menggoyangkannya pelan dengan sudut bibir yang terangkat. Jujur saja, ada perasaan aneh yang membuatnya merasa perlu memperpanjang semuanya. Bukan karena dia merasa ragu, tetapi karena melihat Sisil berusaha keras untuknya, itu membuatnya bahagia.
Lucas juga tidak mengerti kenapa dia bisa menjadi seperti ini. Akan tetapi, semua terasa sempurna. Wajahnya, senyumannya dan segala hal konyol yang dibuat olehnya, membuat Lucas merasa terhibur dan merasa dikejar. Perasaan ini adalah hal baru yang tidak ingin dibiarkannya cepat berlalu.
Lucas membuka lacinya, melihat sapu tangan berinisial S.M yang masih tertata rapi di dalamnya. Untuk sesaat, sapu tangan itu hampir ketahuan. Namun, untungnya, dia bisa mengjhentikannya tepat waktu. Dia tidak mau kehilangan sapu tangannya, juga perhatian dari Sisil. Oleh karena itu, mulai sekarang, dia tidak akan lengah dan harus memastikan laci itu terkunci mulai dari sekarang.
Lucas menyesap kembali kopinya lalu menatap ponselnya. Tidak ada pesan baru dari Sisil. Itu cukup membuatnya cemas. Padahal, dia sudah memastikan Sisil menyimpan nomernya di kontak ponsel wanita muda itu.
Beberapa saat dia masih asyik menimbang meskipun matanya tak lepas dari layar ponsel. Tiba-tiba sebuah pesan notifikasi masuk. Dia pikir itu Sisil, ternyata bukan. Saat membaca pengirimnya, dia berdecak pelan. Namun, dia semakin kesal saat membaca pesannya meski sekilas. Pesan itu membuat dadanya sesak sedikit. Kristian mengirimkan pesan menyebalkan.
KRISTIAN : Om, kalau aku langsung ketemu Sisil buat balikan, dia bakal mau nggak ya?
Lucas hampir melempar ponselnya ke meja. Napasnya tercekat, jantungnya berdetak lebih cepat. Seketika ia merasakan rasa posesif yang biasanya ia tahan rapat-rapat, tapi sekarang… susah dikontrol. Dia tahu Sisil bukan benda, tapi melihatnya kembali memungut sampah yang sudah dibuang, tentu itu berbeda.
“Apa-apaan ini…” gumamnya pelan, suara rendah tapi tegang. Tangan yang memegang kopi gemetar sedikit.
Ia tahu, Kristian baru saja mencoba mengukur perasaan Sisil, tapi Lucas—meskipun sadar ini agak konyol—merasakan rasa cemburu yang menusuk tulang.
Ia menatap layar ponsel, menahan dorongan untuk langsung menjemput Sisil, bahkan membayangkan bagaimana wajah Sisil kalau tiba-tiba dia muncul di teras kontrakan. Membawanya pergi, meletakkannya di dalam kotak atau... tidak, itu pemikiran yang salah. Dia tidak boleh melakukan itu. Sisil adalah manusia.
Lucas menelan ludah, mencoba menenangkan diri. “Santai… santai… jangan lebay,” batinnya.
Namun saat ia menatap sapu tangan putih yang ia simpan rapi di laci meja, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Sapu tangan itu tiba-tiba terasa seperti simbol kecil miliknya. Sapu tangan yang merupakan simbol dari hati yang sudah terenggut sejak lama.
Lucas tidak pernah percaya takdir, tetapi untuk Sisil, dia mulai mempercayainya.
Lucas meraih sapu tangan itu, merasakan teksturnya, melipatnya lagi, dan menatap ponsel.
“Dia milikku. Biar Kristian mikir apapun, Sisil tetap akan memilihku.”
Lucas menghela napas panjang.
"Pak, jam istirahat selesai."
Suara perawat terdengar dari luar.
Ia harus tetap profesional. Ada antrean pasien menunggu, dan dia tak bisa seenaknya kabur dari rumah sakit. Meski pikirannya tetap di Sisil dan Kristian, untuk sekarang dia akan mengabaikannya.
"Baik, suruh pasien berikutnya masuk."
"Baik, Pak."
Lucas menatap ponselnya. Pesan Kristian itu tetap berputar di kepala, membuatnya kesal sekaligus… geli.
Bayangan Sisil yang duduk santai, menatap Kristian dengan mata tengil tapi polos, muncul begitu jelas. Lucas menekuk tubuh, menutup mata sebentar. “Gila. Aku pengen cepet-cepet liat dia, tapi… harus sabar. Jangan bikin diri sendiri keliatan gila.”
Ia membuka aplikasi chat dan menulis pesan singkat untuk Sisil:
“Mari kita bertemu nanti. Aku akan menjemputmu setelah bekerja”
Namun jari-jarinya berhenti di atas layar. Ia menahan diri, sadar itu terlalu posesif. Ia menghapus pesan itu. Kemudian mencoba menulis ulang:
“Semoga hari ini menyenangkan.”
Hanya empat kata, tapi Lucas menatap layar ponsel, merasa empat kata itu tidak cukup untuk mengekspresikan perasaan campur aduknya.
“Gila, ini sudah bisa dibilang parah banget,” batinnya, menahan senyum. Namun di dalam hatinya, Lucas tahu—ia nggak peduli. Kalau ini artinya ia harus tetap sabar dan sedikit menyiksa diri, biarlah.
Beberapa menit kemudian, Lucas kembali menatap sapu tangan putih itu. Ia memeluknya sebentar di tangan, rasanya seperti simbol kecil dari masa lalu mereka—kenangan yang membuatnya sadar bahwa Sisil bukan sekadar cewek yang bikin deg-degan, tapi cewek yang… dia mau jaga dengan caranya sendiri.
Lucas menarik napas panjang, lalu menaruh sapu tangan itu di laci lagi, rapat. Ia harus tetap menahan diri, menunggu saat yang tepat. Meski ia tahu, begitu ia melihat Sisil, ia mungkin akan kehilangan kendali.
Di sana, di balik rasa posesifnya, Lucas tersenyum tipis—campuran rasa geli, cemburu, dan keinginan yang belum bisa ia ungkapkan.
Tal lama kemudian, pasien mulai berdatangan. Lucas tersenyum tipis pada beberapa pasien, bercanda ringan, tapi pikirannya tetap melayang ke Sisil.
Setiap kali pintu ruang praktik terbuka, Lucas menoleh, seolah berharap itu Sisil yang datang. Setiap bunyi notifikasi di ponsel membuatnya menegang, menunggu kemungkinan pesan dari Sisil. Namun, dia berusaha tetap bertahan, setidaknya, sampai seluruh pasien yang datang berhasil ditangani.
Lucas menyingkirkannya ponselnya. Mematikannya sementara adalah hal terbaik sekarang. Akan tetapi, satu pesan dari Kristian tadi menyadarkannya kalau dia sudah lama menyimpan perasaan berbeda pada Sisil. Bukan sebagai seseorang yang kagum pada mantan pacar kekasihnya, bukan pula rasa posesif pada penyelamatnya, melainkan perasaaan seorang pria pada wanita.
"Hm,,, bocah kecil itu membuatku cemburu," bisiknya lirih lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Tak lama, semua selesai. Tidak ada pasien yang tersisa hari itu. Lucas menimbang, apa yang harus dilakukannya.
Namun, Lucas tidak melakukan apapun. Dia sedang menunggu bahwa takdir akan selalu memberikan jawaban sekalipun dia tidak melakukan apapun. Itulah yang dia percaya.