Lantai dua puluh delapan gedung pencakar langit di kawasan SCBD itu seolah terisolasi dari dunia luar. Di balik dinding kaca tebal yang menampilkan panorama gemerlap Jakarta malam hari, suasana ruangan lounge privat berornamen marmer hitam itu terasa amat dingin. Pencahayaan yang temaram dipadukan dengan aroma pekat cerutu mahal menciptakan suasana eksklusif, namun terselubung ketegangan yang pekat. Dion Setiadji duduk menyandarkan punggungnya di sofa kulit berwarna cokelat gelap. Satu kakinya terangkat santai menumpu di atas lutut yang lain. Tangan kanannya memutar-mutar gelas berkaki pendek berisi wiski dengan es batu yang mulai mencair. Seulas senyum tipis yang sarat meremehkan terpancar dari wajahnya saat memandangi sosok pria yang kini duduk di hadapannya. Kalandra. Pria itu dud

