Rasanya begitu nyata. Aku bertemu dengan kakek dan nenekku, juga almarhum bapak yang sudah sangat lama aku rindukan hadir dalam mimpiku.
Iya. Bapakku meninggal sejak aku berusia sepuluh tahun, dan selang beberapa tahun setelah bapakku meninggal, ibu menikah dengan laki-laki lain dan menjalani kehidupan rumah tangganya yang baru, sementara aku di asuh oleh kakek dan nenekku. Namun setelah kakek dan nenekku meninggal, aku mulai mandiri, kuliah , hingga kerja, dan sekarang aku sudah menikahi wanita yang sangat aku cintai.
Namun dilema ku kini beralih pada ketidakmampuan ku memberikan kepuasan pada wanita yang merupakan istriku itu, dan rasanya memang sangat wow, saat akhirnya aku bisa melihat sosok bapak lagi , meski itu hanya dalam mimpi, dan iya... karena bapak lah, aku akhirnya bangkit dari dudukku, bersiap untuk mengikutinya, akan tetapi detik berikutnya, suara nyaring benda jatuh justru menyadarkan aku dari tidurku, dan saat aku membuka mata, ternyata hari sudah pagi.
Aku duduk sebentar, meremas kepalaku yang mendadak pusing juga tengkukku yang terasa keras, menggerakkannya ke kiri dan ke kanan berharap tubuhku bisa segera mendapatkan rasa rileks setelah semalaman hanya tidur meringkuk di kursi kayu.
Aku buru-buru bergegas dari tidurnya, bersiap mandi dan berangkat ke tempat kerja. Namun pintu kamar yang aku dan Emma tempati masih tertutup rapat.
Aku berjalan ke arah kamar, mengetuk pintu, berharap kemarahan Emma sudah selesai, dan senyum manis itu akan segera aku lihat kembali. Namun lebih dari tiga kali aku mengetuk pintu itu , tapi Emma tidak kunjung membukanya.
"Sayang... Ayo buka pintunya. Aku harus mandi. Harus berangkat ke tempat kerja. Jangan sampai aku terlambat!" Aku berseru sembari terus megetuk pintu kamar , akan tetapi Emma tidak juga membukanya. Namun aku mendengar suara gerasak gerusuk dari arah dalam kamar itu, seperti langkah kaki atau pintu lemari yang di buka lalu di tutup.
"Emma sayang. Buka pintunya sayang. Aku harus mandi, dan berangkat ke tempat kerja!" aku kembali memanggil istriku sambil kembali mengetuk pintu.
"Iya, sebentar!" Emma menyaut, dan aku menghela nafas lega, seperti mendapat sebuah pengampunan maaf atau kesempatan kedua karena dari intonasi suaranya, sepertinya perasaan Emma sudah baik-baik saja.
"Aku sudah hampir terlambat, Sayang...!" aku kembali berseru, dan Emma kembali menjawab.
"Iya iya... Sebentar dulu!" ucapnya , dan menit berikutnya pintu terbuka.
Emma hanya menggunakan handuk pink, dengan rambut yang juga di bungkus handuk. Sepertinya dia habis keramas , tapi gerak-geriknya seperti orang ketakutan, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku melihat ke sekeliling kamar itu, ranjang yang berantakan, khas ranjang yang baru di tiduri dan belum di bereskan. Baju tidur yang Emma gunakan untuk menggodaku semalam terlihat terowoh di bibir ranjang, lengkap dengan setelan celana dalamnya yang bahkan tidak bisa dikatakan celana dalam, karena itu tidak cukup untuk menutupi organ terpenting dari tubuh yang memang ditujukan untuk ditutupi.
Kedua kain merah itu sama-sama terongoh di sisi ranjang, akan tetapi tidak di tempat yang sama. Bajunya ada di dekat nakas, sementara celana dalamnya ada di bawah kaki ranjang.
Emma berdiri di depan lemari, menahan handuk yang membebat tubuhnya seolah takut handuk itu jatuh dan aku melihat tubuhnya.
"Kamu mau mandi kan. Ya udah, mandi gih, dan ini handuk mu!" Emma menyerah handuk putih padaku sambil tersenyum. Senyum yang begitu manis. Saking manisnya, pabrik gula terancam gulung tikar karena semua yang manis-manis sudah di borong habis olehnya.
Aku membalas senyum itu lalu membuka pakaianku, menggantinya dengan handuk, dan melepaskan di bibir ranjang untuk di cuci.
Untuk sesaat pandangan mataku tertuju pada celana hitam di sisi lemari, celana bahan yang sangat aku kenali. Aku ingin meraihnya, tapi buru-buru di hentikan oleh Emma.
"Udah, kamu mandi yang cepat gih. Katanya takut terlambat ke kantor. Kok malah bengong kek gini sih!" ucap Emma.
Dia menahan tanganku yang ingin meraih celana itu dan buru-buru mendorongku untuk segera masuk ke dalam kamar mandi. Aku berusaha menahannya, akan tetapi tubuhku tetap bergerak maju ke arah pintu kamar mandi , meskipun kepala dan pandanganku seperti tidak ingin lepas dari celana itu.
"Sayang... Aku...!" Aku ingin mengatakan sesuatu , akan tetapi Emma justru menggeleng dan terus memaksaku untuk segera masuk ke kamar mandi.
"Iya... Gak apa-apa. Biar nanti aku yang bereskan. Kamu mandi aja dulu yang bersih, yang harum , biar tambah ganteng!" ucapnya lembut dan iya, aku merasa berbunga-bunga.
Dugaanku tidak pernah meleset, meskipun semalam kami bertengkar hebat perkara terong ku yang tidak mau bangun, nyatanya pagi berikutnya Emma kembali bersikap manis, seolah melupakan perdebatan kami semalam... dan hal itu justru membuat aku merasa semakin mencintai istriku.
Dia sangat cantik, pengertian, sabar, meskipun sesekali dia juga bisa menjadi sangat marah. Namun aku juga harus memahami kemarahannya itu selalu disebabkan karena ketidakmampuan aku.
Aku benar-benar masuk ke kamar mandi, dan buru-buru menyelesaikan mandiku, dan saat aku keluar dari kamar mandi, kamar itu sudah cukup rapi. Pakaian Emma yang sebelumnya tergeletak di lantai kini sudah tidak ada, begitu juga dengan celana hitam yang sebelumnya ingin aku ambil di sisi lemari. Sprei di atas ranjang itu juga sudah rapi, meski demikian, Emma masih hanya menggunakan handuk.
"Mana celana yang tadi ada di sini, Sayang?!" aku bertanya dengan nada lembut pada istriku, dan Emma yang sedang berjongkok langsung menoleh ke arahku.
"Ce___ celana yang mana...?!" tanya dia dengan nada suara terputus-putus
"Celana hitam yang tadi di sini!" Aku menunjuk ke arah sisi bawah lemari, dan dia langsung mendekati ku.
"Oooh itu. Aku sudah melipatnya, memasukkannya kembali ke dalam lemari!" jawabnya canggung, tapi aku justru mengerutkan alisku.
"Sudah kamu masukkan ke dalam lemari lagi...?!" aku mengutip sepenggal kalimatnya dan dia langsung mengangguk.
"Iya. Apa kamu mau aku ambilkan lagi?!" tanya dia yang sudah kembali bergegas ke arah lemari, lalu mengeluarkan satu celana hitam yang terlihat sangat rapi , dengan garis setrikaan yang masih bagus, bahkan aroma pengharum setrika pun masih kuat tercium di sana.
Aku menerimanya dengan perasaan aneh, kosong dan hampa. Namun detik berikutnya aku melirik jam di sisi dinding kamar itu, dan ternyata waktu sudah menunjukan jam tujuh tiga puluh menit.
Aku tidak sempat berpikir apapun lagi. Aku buru-buru memakai pakaianku, begitu juga dengan Emma yang langsung memakai pakaiannya dengan gerakan cepat.
Aku duduk di kursi ruang tengah, menunggu kopi pagi ku sebelum aku benar-benar berangkat ke tempat kerja, dan saat Emma meletakkan cangkir kopi ku, terdengar suara klakson motor dari arah luar.
Tin... Tin...
Tin... Tin...
Aku mengenali suara klakson itu, dan aku meminta Emma membuat dua cangkir kopi. Satu untukku, dan satu untuk Ardi, orang yang baru saja membunyikan klakson motornya.
Aku menenteng kopiku ke teras depan, dan senyum Ardi terbit saat melihat aku sudah siap berangkat kerja.
Penampilannya sangat rapi, celana hitam, dan kemeja biru langit.
Ardi duduk di kursi sebelah ku, dan Emma keluar menyuguhkan kopi untuk Ardi.
Ardi memang sering datang sepagi ini ke rumahku, dan kami sering berangkat kerja bareng. Aku menumpang pake motor Ardi, karena menggunakan motor jauh lebih cepat sampai ke kantor dari pada menggunakan mobil.
Menggunakan motor bisa nyelip sana nyelip sini, jadi pagi ini aku tidak akan menggunakan mobilku, tapi akan ikut pakai motor Ardi.
Selama di tempat kerja, pikiranku benar-benar tidak bisa tenang. Isi kepalaku terus saja di penuhi oleh bayangan mimpi aku semalam.
Gudang tua di belakang rumah kakek, dan setelah aku benar-benar pulang dari tempat kerja, aku akhirnya memberanikan diri untuk benar-benar ke gudang itu, meskipun sebenarnya aku juga merasa tidak yakin dengan mimpi itu.
Dengan perasaan takut dan kaku, aku melangkah ke gudang itu, membuka pintu kayu usang yang hampir merapuh terkena hujan dan panas.
Suara deritan pintu memecah keheningan malam, senter di tanganku terus menyorot setiap sudut tempat itu, gelap dan hanya barang-barang usang yang tidak lagi terpakai memenuhi tempat itu.
Bisikan-bisikan aneh pun mulai terdengar sangat kecil, di ikuti langkah kecil yang samar-samar senyap karena suara motor yang sesekali melintas di jalan depan sana.
Kakiku melangkah pelan, bias cahaya senter masih menjadi titik fokusku.
Dalam mimpiku, jelas kakek memintaku untuk mencari kotak kayu jati di gudang belakang rumah, tapi tidak mengatakan dengan pasti di sudut mana kotak itu dia letakkan.
Aku masih menajamkan pandanganku kemana arah senter tertuju, akan tetapi aku sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan kotak itu.
Suasana semakin terasa sunyi, dan perlahan rasa dingin merayap begitu saja menyelinap menyelimuti tubuhku dan detik berikutnya rasa meremang seketika memenuhi tengkuk dan punggungku.
Rasa dingin itu terasa semakin sunyi, dan entah kenapa aku justru merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku, dengan tangan yang ingin menyentuh bahuku.
Aku memegang tengkukku sendiri, menghalau rasa ngeri yang tiba-tiba memenuhi pikiranku. Aku melihat ada lemari kayu dengan kaca yang sudah pecah di sudut ruangan, dan entah kenapa aku merasa sesuatu mendorongku untuk berjalan ke arah lemari itu.
Aku merasa sinar lampu senterku semakin meredup, padahal jelas senter itu sudah aku ganti baterainya dengan yang baru, dan perlahan tanganku membuka pintu lemari itu, akan tetapi detik berikutnya, aku merasa sebuah tangan menyentuh bahuku.
Aku diam sejenak, detak jantungku seperti ikut berhenti berdetak, dan perlahan aku menoleh ke arah bahuku. Aku semakin membeku di tempatku saat menyadari jika tangan itu adalah.........