Kamar Khusus.

1035 Words
​Kendrick melangkah menuju ruang tengah, matanya melirik ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai dua, tempat di mana kamar-kamar anggota keluarga berada. "Di mana Julian? Apakah dia sudah pulang?" ​Albert sempat tertegun sejenak, matanya bergerak gelisah sebelum kembali menunduk, mencoba menyembunyikan rasa cemasnya dari tatapan tajam sang majikan. "Tuan Muda Julian ... beliau baru saja memberi kabar dalam perjalanan pulang, Tuan. Beliau mengatakan bahwa aktivitas di kampus ekonominya sangat padat belakangan ini, sehingga beliau harus sering pulang larut malam karena menyelesaikan tugas kelompok bersama teman-temannya." ​Kendrick menghentikan langkah kakinya tepat di depan perapian besar yang menyala, membalikkan tubuh besarnya menghadap Albert dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya. "Tugas kelompok sampai larut malam secara berturut-turut, Albert? Jam kuliah biasa tidak akan pernah berjalan sekonyol itu, kecuali dia adalah mahasiswa eksklusif yang paginya harus bekerja membanting tulang di pabrik. Apakah kamu mempercayai alibi bodohnya itu?" ​"Saya ... saya hanya menyampaikan apa yang Tuan Muda katakan kepada saya, Tuan Kendrick," jawab Albert dengan nada suara yang mulai bergetar. Dia tahu betul bahwa sekecil apa pun kebohongan yang diucapkan di depan Kendrick, pria itu akan selalu bisa menciumnya dengan insting predatornya yang tajam. ​"Aku tahu anak itu berbohong," ucap Kendrick dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh dengan penekanan yang mengintimidasi. "Dia pasti menghabiskan waktunya di kelab malam, menghamburkan uang bulanan yang kuberikan bersama teman-teman gengnya yang tidak berguna itu, atau mengendarai mobil sport barunya ugal-ugalan di jalanan kota. Dia mengira dengan membawa nama belakang Valerius, dia bisa bertindak sesuka hatinya tanpa perlu memikirkan konsekuensi." ​"Tuan Muda Julian masih sangat muda, Tuan. Mungkin beliau hanya sedang mencari jati dirinya di lingkungan kampus," Albert mencoba membela Julian dengan hati-hati, karena dia tahu hubungan antara ayah dan anak ini selalu mendingin dari tahun ke tahun. ​"Dia bukan lagi anak kecil, Albert. Usianya sudah dua puluh lima tahun, usia di mana aku sudah harus memegang senjata dan mengeksekusi musuh klan di lapangan," potong Kendrick dengan mata abu-abunya yang mendadak berkilat tajam. "Tapi selama dia tidak berbuat onar yang bisa mencoreng nama baik klan di media, atau membawa masalah kriminal bodoh ke dalam rumah ini, aku akan membiarkannya menikmati delusi kebebasannya itu untuk sementara waktu. Aku tidak punya energi untuk mengurusi kelakuan manja anak kuliahan yang tidak tahu cara menghargai kerasnya hidup." ​"Baik, Tuan Kendrick. Saya mengerti," ucap Albert seraya mengangguk patuh. ​Kendrick membalikkan badannya kembali, bersiap untuk melangkah naik ke lantai atas tempat area pribadinya berada. Namun sebelum kakinya menginjak anak tangga pertama, dia berhenti dan menoleh sedikit ke arah Albert. "Satu hal lagi, Albert. Silas baru saja memesan seorang wanita panggilan untukku malam ini. Dia akan tiba dalam waktu dekat. Jika wanita itu datang, jangan biarkan dia berkeliaran di lobi utama atau membuat suara berisik. Langsung arahkan dia ke kamar tamu biasa di koridor bawah, dan minta dia menungguku di sana sampai aku turun." ​"Perintah dilaksanakan, Tuan. Saya sendiri yang akan menyambut wanita tersebut dan memastikan semuanya berjalan dengan sangat sunyi sesuai dengan keinginan Anda," jawab Albert dengan membungkuk lebih dalam lagi. ​Kendrick tidak membalas lagi. Dia melangkah menaiki anak tangga batu satu demi satu dengan ritme yang tenang namun konstan. Setiap langkahnya seolah menegaskan otoritas mutlaknya atas bangunan megah ini. Dia terus berjalan melewati lantai dua, mengabaikan koridor yang menuju ke kamar Julian, dan terus melangkah naik menuju lantai paling atas mansion—sebuah area terisolasi dan sangat privat yang dikenal dengan nama The Sanctum. ​The Sanctum adalah wilayah terlarang bagi siapa pun di mansion itu, termasuk Julian maupun para pelayan biasa. Hanya Albert dan Silas yang diizinkan menginjakkan kaki di sana, itu pun hanya jika ada perintah darurat yang sangat mendesak. Lantai atas ini dirancang khusus dengan sistem keamanan biometrik tingkat tinggi, dilapisi dinding kedap suara, dan memiliki akses tangga privat yang langsung terhubung ke helipad di atap mansion. ​Kendrick meletakkan telapak tangan besarnya di atas pemindai sidik jari di depan pintu ganda besar yang bernuansa merah darah dan hitam obsidian. Begitu terdengar suara klik halus pertanda kunci elektronik terbuka, Kendrick mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam dunianya sendiri. Kamar tidur utamanya yang sangat luas menyambutnya dengan pencahayaan yang temaram dan elegan. Sebuah ranjang berukuran raksasa dengan seprai sutra hitam obsidian berdiri angkuh di tengah ruangan, dikelilingi oleh furnitur kayu mahoni tua dan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu kota dari kejauhan. ​Pria matang itu menghembuskan napas panjang, melepaskan jam tangan mewah berlapis emas putih dari pergelangan tangannya dan meletakkannya di atas meja nakas dengan suara dentingan halus. Dia membuka kancing kemeja hitamnya satu demi satu, mengekspos kulitnya yang matang dengan beberapa bekas luka tembak dan sayatan pisau masa lalu—jejak-jejak pertempuran yang menjadikannya sebagai penguasa tertinggi dunia bawah tanah yang tidak tergoyahkan hingga hari ini. ​Kendrick melangkah masuk ke dalam kamar mandi mewah yang dilapisi batu granit hitam, berniat untuk membersihkan diri dan membasuh seluruh sisa kelelahan dari rapat klan yang memuakkan tadi. Sambil memutar keran air hangat dan membiarkan uap panas mulai memenuhi ruangan, pikiran Kendrick melayang pada wanita panggilan yang sedang menuju ke rumahnya. Dia hanya berharap wanita itu cukup profesional untuk melakukan tugasnya dengan cepat tanpa perlu banyak bicara, sehingga dia bisa segera mengistirahatkan tubuh besarnya ini. ​Kendrick melangkah masuk ke bawah guyuran air hangat untuk membersihkan diri, sama sekali tidak tahu bahwa di bawah sana, takdir sedang memutar rodanya dengan sangat kejam, dan malam ini akan menjadi malam paling terkutuk sekaligus malam paling mengubah seluruh garis hidupnya untuk selamanya. *** ​"Buka pintunya cepat, jangan membuat kami menunggu di luar seperti pengemis!" seru Julian Valerius dengan nada suara yang meninggi, memecah kesunyian teras depan sesaat setelah dia membanting pintu mobil sport merahnya yang terparkir asal di undakan tangga batu. Pria muda berusia dua puluh lima tahun itu melangkah masuk dengan terburu-buru, tangannya mencengkeram erat pergelangan tangan seorang gadis yang tampak berusaha menyamakan langkah kakinya yang lebar dan tidak sabaran. Di ambang pintu ganda jati yang baru saja terbuka, Albert sudah berdiri tegak dengan postur tubuhnya yang selalu rapi. Kepala pelayan itu membuka mulutnya, hendak mengalirkan sebuah informasi penting yang menjadi kewajibannya malam ini. "Selamat malam, Tuan Muda Julian. Saya perlu menyampaikan bahwa baru saja Tuan Kend—"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD