Bab 2
Empat tahun kemudian.
"Bagaskara Jalendra! Berhenti kamu di situ atau ibu bakalan lempar kamu dengan batu ini?"
Suara menggelegar milik seorang perempuan menggema di sebuah gang kecil sambil mengendarai motor Scoopy miliknya. Sementara satu tangannya memegang sebuah kerikil kecil yang siap dilemparkan pada beberapa sosok yang sedang berlari tunggang langgang di hadapannya.
"Bagaskara, suruh geng kecil-kecilan kamu itu berhenti!"
Lagi-lagi suaranya mengudara dengan sangat keras, namun empat sosok manusia di hadapannya justru tetap berlari, membuat perempuan yang berada di atas motor itu tidak punya pilihan lain selain melemparkan batu kerikil dengan kekuatan yang sudah ia perkirakan ke kaki sosok bernama Bagaskara.
Benar saja, Bagaskara yang mengenakan seragam sekolah terjatuh sambil meringis, memegang betisnya yang mendapatkan lemparan malang dari perempuan yang sudah mengejar mereka dari tempat tongkrongan sampai ke gang sepi ini.
"Aduh, Bu Sisil! Sakit!" Pemuda 17 tahun itu mengeluh dengan memegang kakinya yang kesakitan.
Tiga orang temannya tentu tidak mungkin berlari tanpanya. Mereka segera menghampiri Bagaskara kembali, berniat untuk menariknya pergi dari cangkraman makhluk perempuan satu ini. Namun, rencana mereka pupus saat sosok perempuan itu sudah menghentikan motornya di dekat mereka kemudian segera buru-buru turun dari motor dan menghampiri rombongan 4 anak laki-laki tersebut.
Tangannya langsung bergerak menarik telinga siapapun yang berada di dekatnya. Sementara Bagaskara sudah berdiri, dibantu temannya. Jangan tanyakan dua temannya yang lain karena telinga mereka pun tidak selamat dari jeweran perempuan yang menjadi guru BK di sekolah mereka.
"Bagus. Benar-benar bagus murid-murid Ibu ini. Kalian berempat bolos sekolah seperti ini. Kalian pikir kalian sudah hebat, bisa lolos dari tatapan ibu, iya?"
Sosok perempuan cantik berusia 29 tahun itu menatap tajam pada anak-anak didiknya yang menuntut ilmu di tempatnya bekerja.
Dia adalah Sisilia Contesta, yang sudah menyandang status janda sejak 4 tahun yang lalu. Sejak 2 tahun yang lalu, Sisilia bergabung dengan sebuah sekolah swasta dan bekerja sebagai guru BK yang ditakuti oleh murid-murid.
"Mau jadi apa kalian ini? Sekolah bukannya belajar yang benar malah keluyuran keluar. Kalau kalian meninggal kecelakaan di jalan, siapa yang bakalan sedih? Sebenarnya belum tentu ada yang sedih juga, karena kalian ini nakal." Sisilia melepaskan tarikan di telinga kedua muridnya, kemudian berkacak pinggang menatap mereka.
Tatapannya kemudian tertuju pada Bagaskara yang langsung mundur selangkah ketika pandangan mereka bertemu.
Bagaskara sungguh takut dengan makhluk betina satu ini. Benar saja, jemari kepiting guru BK itu sudah mendarat di perutnya kemudian mencubitnya dengan gemas.
"Kamu ini ya, jelas-jelas tadi ibu lihat kamu keluar dari kosan pakai baju sekolah. Di sekolahan kamu justru nggak ada. Untung ibu punya ide buat datang ke tempat tongkrongan kalian."
Sisilia melepaskan cubitannya di perut Bagaskara kemudian berkacak pinggang di hadapan 4 muridnya yang kini sudah berdiri dengan posisi siaga.
"Aduh, Bu Sisil sebenarnya tahu tempat tongkrongan kita ini dari mana? Selalu aja ketemu tempat biasa kami bersembunyi." Bagaskara mengusap perutnya yang tidak terlalu sakit lagi, sambil menatap sebal pada guru di hadapannya.
"Selama kalian masih menginjakkan kaki di bumi ini, Ibu bakalan tahu tempat di mana kalian bersembunyi." Sisilia menegakkan tubuhnya. "Sekarang kalian harus ikut ibu kembali ke sekolah. Segera!"
Refleks, ke empatnya saling menatap dan dengan terpaksa menganggukan kepala mereka, bersiap untuk kembali ke sekolah karena mau lari pun percuma, karena di manapun mereka berada pasti akan ditemukan oleh guru BK mereka.
Setelah tibanya di sekolah, mereka tidak langsung masuk ke kelas, melainkan dijemur di lapangan terlebih dahulu sebagai hukuman.
"Rasain. Makanya jangan suka bolos. Siswa yang pintar saja belum tentu sukses, apalagi kalian yang suka bolos." Sisilia menjulurkan lidahnya, sambil menyeruput es dingin di tangannya, memamerkan pada murid-muridnya yang menelan ludah mereka. "Mau? Duh, sorry ya, minuman ini eksklusif untuk ibu aja. Bye!"
Sisilia mengibaskan rambutnya dan berbalik pergi, membuat 4 murid itu saling menatap dengan hampa, karena guru mereka sepertinya membalas dendam dengan memamerkan minuman dingin di hadapan mereka.
Pulang dari sekolah.
Sisilia duduk di belakang dengan Bagaskara yang menyetir kendaraan roda dua milik perempuan cantik itu.
Jarak dari sekolah menuju kosan tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu 10 menit saja.
Mengenakan helm berwarna merah muda, Bagaskara menggerutu. Bukan tidak bersyukur karena diberi helm oleh pemilik kosan tempatnya tinggal, namun karena warnanya yang begitu mencolok. Sementara perempuan yang duduk di belakangnya tampak anteng mengenakan helm berwarna merah yang seharusnya dikenakan olehnya.
"Kamu itu harusnya rajin-rajin sekolah, Bagas. Orang tua kamu itu menitipkan kamu sama ibu baik di kosan maupun di sekolah. Jangan suka bolos-bolos. Lagian juga bolos itu, apa coba untungnya? Cuma duduk-duduk sambil habisin uang yang ada."
Sisilia di belakangnya mengoceh yang tentunya masih bisa didengar oleh Bagaskara yang duduk di depannya karena laju kendaraan mereka yang pelan.
"Kalau nggak bolos mana enak, Bu. Bu Sisil mana paham," sahut Bagaskara.
"Siapa bilang nggak paham? Paham bangetlah. Kamu kira Ibu waktu sekolahnya culun apa?"
"Berarti ibu suka bolos?"
"Nggak suka, tapi sering diajak sama sahabat ibu." Sisilia membalas dengan enteng. "Pokoknya, awas aja kalau kamu berani bolos lagi. Ibu bakal hasut orang tua kamu buat kirim kamu uang sebatasnya aja, biar kamu bisa hidup hemat," sambungnya.
"Ibu jangan kejam-kejam kayak gitu. Nanti jodoh Ibu semakin jauh, nggak ada yang mau dengan ibu lagi."
"Mustahil kalau nggak ada yang mau sama ibu. Ibu ini cantik jelita."
Bagaskara mendengus. Tak lama kemudian mereka tiba di lingkungan kosan dua lantai yang dimiliki oleh Sisilia.
Perempuan itu juga turun dari motor dan melepaskan helm yang dikenakan olehnya.
Kebetulan kos-kosan dan juga rumahnya bersampingan, namun wajah kosan menghadap ke arah samping rumahnya.
Kosan tempatnya tidak hanya menerima anak perempuan tapi juga laki-laki.
Sisilia baru saja berbalik akan masuk ke dalam rumahnya ketika sosok Novia, salah satu penghuni kosannya datang dengan seorang pria bertubuh tinggi juga ekspresi wajahnya yang tenang, namun tampan, melangkah mendekatinya.
"Bu Sisil, ini ada calon penghuni surga bersama, eh, maksudnya calon penghuni kosan baru, datang. Dari tadi udah nungguin Ibu," ucap Novia, dengan senyum manisnya.
Sisilia yang melihat ekspresi wajah Novia menggelengkan kepalanya. Perempuan memang tidak bisa melihat laki-laki tampan, pikirnya.
Tatapan Sisilia kemudian tertuju pada sosok itu.
"Oh, siapa ini?"
"Saya David Jackson, Mbak. Calon imam, eh, maksudnya calon penghuni kos yang baru."