Malam ini Sisilia tampak cantik dan glamor dengan mengenakan dress berwarna maroon yang selaras dengan warna kulitnya yang putih.
Dress dengan panjang sedikit di bawah lutut dan belahan setengah paha di sebelah kiri, membuatnya terlihat memukau.
Lengannya yang berukuran kecil sangat cocok dengan dress yang dikenakan olehnya.
"Kamu memang benar-benar cantik, Sisilia. Makanya kamu harus cepat cari jodoh, biar nggak jomblo terus-menerus," ujar Debora, saat sudah keluar dari kamar.
Dilihatnya Sisilia yang berpenampilan sangat cantik dan memukau. Terutama saat rambutnya diikat menyamping hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang akan membuat siapapun menelan ludah.
"Karena aku perempuan makanya aku cantik. Kalau aku laki-laki, aku bakalan disebut ganteng."
Sisilia tidak besar kepala ketika dipuji cantik oleh sahabatnya. Kalau memang dirinya cantik dan sempurna, mengapa ia justru diselingkuhi beberapa tahun lalu? Hal ini terkadang membuat Sisilia merasa insecure dan merasa jika dirinya tidak layak bagi laki-laki manapun. Terbukti dengan Fahmi yang meninggalkan jejak luka yang tergores tanpa bisa menghilangkan bekas sama sekali.
Trauma itu masih ada sampai sekarang. Tidak heran ia kesulitan untuk membuka hati dan dekat dengan laki-laki lain.
"Alah kamu ini memang selalu nggak bisa dipuji, ada aja cara buat membantah." Debora menyambar kunci mobil yang tergantung di dinding kemudian memberi kode pada Sisilia untuk bersiap berangkat.
Sisilia mengambil dua buah paper bag dengan warna yang berbeda di atas sofa sebelum akhirnya melangkah keluar. Perempuan cantik itu mengunci pintu rumahnya dan langsung pergi menuju mobil Debora yang tidak dimasukkan ke dalam garasi.
Meskipun Sisilia belum memiliki kendaraan roda empat namun ia memiliki garasi sendiri. Bukan dirinya yang memiliki inisiatif untuk membuat garasi, melainkan Debora yang membuat garasi untuk mobilnya sendiri. Tentunya dengan mengeluarkan uang dari kantong Debora langsung.
Sahabatnya ini memang sangat mandiri bahkan memperlakukan tanahnya seperti tanah sendiri.
"Mbak Sisil mau keluar?"
Gerakan tangan Sisilia yang baru saja akan membuka pintu langsung terhenti di udara kemudian menolehkan kepalanya menatap ke arah sosok Andita yang sepertinya baru saja pulang dari bekerja.
Sisilia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Mau ke acara ulang tahun teman. Baru pulang kerja, Dit?"
"Iya, Mbak. Kebetulan memang ada lembur." Andita menjawab dengan tenang. "Kalau begitu Mbak Sisil hati-hati di jalan. Permisi."
Andita dengan sopan menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya berbalik pergi setelah mendapatkan respon dari Sisilia.
Perempuan cantik itu segera membuka pintu mobil belakang lalu memasukkan 2 buah kado yang akan diberikan pada teman mereka.
Sementara Debora sendiri sudah duduk di balik kemudi.
"Udah siap berangkat sekarang?"
Debora menolehkan kepalanya menatap Sisilia yang menganggukkan kepalanya dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang di tubuhnya.
Mobil kemudian melaju pergi meninggalkan area kosan yang memang masih terlihat ramai dengan para penghuninya yang keluar masuk.
Mereka tentunya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Jarum jam saat ini sudah menunjukkan di angka 8 malam dan Andita baru saja pulang dari bekerja. Sementara dirinya dan Debora justru baru saja akan berangkat menuju salah satu kelab malam di di mana ada acara ulang tahun salah satu teman SMA mereka yang akan dirayakan.
Setelah mobil yang dikendarai oleh Debora melaju pergi, satu sosok pemuda yang mengenakan kemeja berwarna hitam melangkah keluar dari kosannya.
Tatapannya tertuju pada jalanan di mana mobil itu menghilang.
Pemuda itu berdiri di pinggir jalan sebelum akhirnya sebuah mobil mewah dengan harga fantastis berhenti di depan pemuda itu.
Segera pemuda itu menghampiri mobil tersebut dan membuka pintu belakang, lalu memilih masuk untuk mengikuti ke mana Sisilia pergi tadi.
"Kita akan mengikuti mobil depan itu, Tuan David?"
Sopir yang tidak lain adalah Marcell, bertanya seraya menatap Tuan mudanya itu.
Dia adalah orang yang selalu siaga berada di dekat David kala tuannya itu membutuhkan bantuannya.
"Iya. Sekalian juga kamu cari tahu mereka mau ke mana dan mau ngapain. Biar aku ada persiapan," jawab David.
Pemuda itu menyandarkan tubuhnya pada jok di belakang dengan mata terpejam. Dia baru saja menyelesaikan pembuatan program yang kerjasama dengan perusahaan di sebuah negara, dengan deadline 1 bulan yang baru selesai hari ini.
Tentunya ia tidak mau ketinggalan informasi apapun terkait tentang kehidupan Sisilia.
"Baik, Tuan."
Di sisi lain.
"Kanaya! Happy birthday! Panjang hidung, panjang rezeki, dan panjang umur!" Debora berkata seraya berteriak di dekat telinga Kanaya sambil menyerahkan kado ulang tahunnya tidak lupa diikuti doa yang membuat perempuan bernama Kanaya itu tertawa.
"De, nggak serius kamu doanya. Mentang-mentang aku pesek, kamu doakan aku panjang hidung," balas Kanaya. Tatapannya kemudian langsung tertuju pada sosok Sisilia yang berada di hadapannya. "Hei, Sil. Thanks, udah mau datang ke acara ulang tahunku."
Sisilia tersenyum mengulurkan kadonya pada Kanaya, kemudian memberikan cipika-cipiki pada temannya itu.
"Sama-sama. Doa terbaik aja buat kamu."
"Yap. Balik doa juga buat kamu. Kalian have fun, ya! Aku mau menyapa tamu-tamu yang lain. Pokoknya pesan apa aja yang kalian mau. Khusus lantai 3 ini, udah aku booking. Kalau mabuk, bisa ambil salah satu kamar di lantai 4 ini."
Baik Sisilia maupun Debora sama-sama menganggukkan kepala mereka.
Kelab tempat mereka saat ini memang menyediakan kamar. Ada ballroom berukuran sedang di lantai 3 yang bisa di sewa untuk sebuah acara.
Suasana juga tampak meriah dan bergelimang, dengan lampu-lampu yang menyorot, serta musik DJ yang sedang dimainkan.
Minuman juga bervariasi tidak hanya alkohol, namun minuman rasa buah pun disajikan dan dibuat oleh para bartender yang ditugaskan.
Untuk membuat acara birthday party seperti ini tentunya biayanya sangat mahal. Meski begitu, Kanaya tidak masalah karena penghasilannya pun sebagai selebgram cukup untuk memberikan pesta mewah untuk dirinya sendiri.
Debora menarik Sisilia duduk di sebuah sofa yang tersedia. Di depannya sudah tersedia beberapa minuman beralkohol dari kadar rendah sampai kadar tinggi, juga gelas-gelas yang sudah disusun dengan sangat rapi. Tidak hanya minuman, ada pula buah serta cemilan.
"Seru banget kalau bisa party kayak gini. Tapi, kalau mau setiap malam, nggak enak kayaknya," kata Sisilia memulai pembicaraan. Dilihat teman-teman mereka dan juga orang-orang lain juga sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri.
Kini bahkan ada yang sudah menyumbangkan lagu hingga membuat Sisilia menikmati acaranya.
"Kamu anak rumahan, mana betah kamu lama-lama di kelab kayak gini. Aku aja seminggu kadang 2 sampai 3 kali datang, buat hiburan." Debora menjawab dengan santai. "Makanya kamu harus sering keluar malam. Siapa tahu jodoh kamu ada di sini."
"Ketemu jodoh di kelab malam? Ketemu di tempat pendidikan aja aku gagal, apalagi ketemu di tempat orang-orang cari hiburan."
"Nah, siapa tahu ketemu di tempat belajar kamu gagal, bisa aja kamu ketemu di tempat ini, kamu berhasil," jawab Debora asal.
Sisilia yang mendengarnya tertawa pelan, heran sekali dengan pemikiran Debora yang terkadang berlawanan arah dengan kejadian yang sebenarnya.