BAB 8

1459 Words
“Terus Gerald kelihatannya gimana?” tanya Ayuni kepo. Monic menggeleng. “Dia nggak ngomong apa-apa, aku juga pura-pura nggak ngeh aja. Tapi ya kamu tahulah tiap lihat dia, aku jadi tekanan mental.” Lagi-lagi Ayuni tergelak. Monic jadi makin sebal, dan mengancam cewek berambut ala iklan sampo itu supaya diam atau dia akan membocorkan perasaan Monic kepada Bang Eros. “Ada hikmahnya juga Gerald nggak ingat kamu siapa ya, Nic. Apa kamu nggak pengin ngajuin resign itu nanti?” Monic menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah. Hidup sebagai orang Indonesia memang harus pandai-pandai mencari hal baik dari hal buruk yang terjadi. Kalau nggak, nanti bisa gila. Perkara yang disebut-sebut Ayuni itu Monic sendiri nggak tahu harus memasukkannya ke kategori negatif atau positif. Gerald Nugraha bukan orang asing, setidaknya bagi Monic — dan juga Ayuni. Mereka lulus menjadi sarjana hukum dari almamater yang sama, hanya berbeda tahun. Gerald dua tingkat di atas Monic. Artinya, mereka sempat bertemu ketika masih jadi mahasiswa. Bahkan, Gerald adalah ketua panitia ospek jurusan ketika Monic masih maba. Perasaan Monic soal ini ambigu sejak awal bergabung di InCorp — dia tidak tahu Gerald yang akan menjadi bosnya. Ketika tahu, Monic sempat menjadi ragu, karena sekantor dengan seseorang yang berasal dari kampusnya bukanlah sesuatu yang Monic inginkan. Apalagi jika orang itu menjadi atasannya. Bukan karena Monic punya masa lalu atau diam-diam naksir Gerald saat kuliah, melainkan karena Monic merasa kecil hati atas kariernya yang seret, bagaikan makan nasi dengan kentang mustofa, dan lupa nggak bawa minum pula. Di saat teman-teman seangkatannya sudah berada di level manager, Monic masih berada di level dasar yang mentok lantai. Rekan-rekan yang satu posisi dengannya bahkan kebanyakan fresh graduated. Padahal fakultas hukum di kampusnya punya level dan akreditasi tinggi. Lulusannya sukses di banyak bidang, mulai dari law firm bergengsi, perusahaan besar, hingga instansi-instansi hukum pemerintahan. Lihat saja Gerald sebagai contoh nyatanya. Pria itu adalah gambaran nyata dari karier lancar jaya bagaikan jalan tol. Gerald adalah tipe-tipe alumni yang diburu oleh bagian marketing kampus untuk dijadikan contoh lulusan kampus yang berprestasi, lalu wajahnya terpasang di banner resmi universitas. Di usianya yang masih sangat muda, Gerald sudah menjadi corporate lawyer senior dan menjabat sebagai legal manager di perusahaan yang cukup bergengsi. Jalur karier Gerald pastilah terang benderang, dan ketika reuni tiba, Gerald punya banyak bahan untuk dibanggakan di hadapan teman-temannya. Sementara Monic masih terseok-seok di level paling bawah, yang harus cari-cari alasan nggak datang ke reuni, karena belum-belum dia sudah tekanan mental. Paham, kan, kenapa keberadaan Gerald adalah tekanan mental bagi Monic — bahkan sebelum tragedi drunk dial itu? Ada jarak jabatan yang begitu lebar di antara mereka. Padahal Gerald hanya dua tingkat di atasnya, dan usia mereka pun hanya berbeda dua tahun. Setiap kali melihat Gerald, Monic seperti diingatkan betapa kacau dan seret keriernya. Betapa “nggak suksesnya” dia jika dibandingkan teman-temannya. Ayuni, yang juga satu angkatan di FH kampus yang sama, saat ini menjadi dosen tetap di kampus almamater mereka dan sedang proses studi S3. “Bukan salah Gerald-lah, kamu sendiri yang suka pindah-pindah bidang kerja,” begitu Ayuni selalu memberi pembelaan. “Dan bukan salah kamu juga, sih. Tauklah, nggak paham aku ini salah siapa.” Fakta ini juga termasuk keputusan-keputusan bodoh yang Monic ambil sejak awal. Nggak seperti Ayuni dan mungkin semua teman-teman sejurusannya, setelah lulus kuliah dan menjadi sarjana hukum, Monic sibuk menjajal berbagai profesi yang nggak berhubungan dengan hukum. Monic pernah berkarier di bidang penjualan, teller bank, admin media sosial, barista, hingga guru TK. Semuanya nggak bertahan lama, karena Monic selalu bosan dan ingin coba-coba bidang lainnya. “Kamu nyari apa, sih, sebenarnya kalau pindah-pindah bidang kerja gitu?” Ayuni dulu sekali pernah bertanya. “Nyari uang,” jawab Monic sekenanya. Masalahnya, dia sendiri juga nggak tahu apa yang dicari. Monic hanya mengikuti dorongan hati. Dia mudah bosan, mudah penasaran, dan kebetulan punya keluarga yang super selow yang nggak pernah memprotes keputusan-keputusan nekatnya itu. Terlalu asyik, tanpa sadar usianya terus beranjak, dan CV Monic benar-benar kacau balau. Baru di usia ke-28 Monic berpikir untuk kembali ke jalur pendidikannya, yaitu hukum. InCorp adalah perusahaan pertama yang memperkerjakan Monic sebagai S.H. Mengingat InCorp lumayan bergengsi, Monic sering heran kenapa dia diterima dengan riwayat yang acak kadut begitu. Monic mengira mungkin ada kesalahan teknis, tetapi dia bertekad membuktikan bahwa mereka nggak salah pilih karyawan. Dua tahun ini Monic sudah berhasil menunjukkan bahwa dia mampu. “Gini-gini. Ada dua tipe orang di dunia ini.” Ayuni pernah membuat teori. Pertama, orang yang terlahir dengan bakat spesifik. Orang yang kalau ditanya bakat kamu apa, dia bisa jawab dengan gampang. Tipe kedua, adalah orang yang nggak punya bakat spesifik, tapi dia bisa melakukan banyak hal dengan baik. Dia jago di banyak bidang, meski nggak ada yang sampe tahap ahli. Nah, menurut aku, kamu masuk ke tipe kedua ini, Nic. Meskipun CV kamu nggak ada plotnya gitu, kamu bisa perform dengan baik di semua pekerjaan yang pilih, kan?” Kalau itu adalah sesuatu yang bisa dibanggakan, maka jawabannya “ya”. Monic punya reputasi yang baik di setiap pekerjaan yang dia miliki. Poin referensi dan rekomendasi pekerjaannya nggak pernah jauh-jauh dari kata bertanggung jawab, inisiatiftinggi, dan bisa diandalkan. Namun, referensi itu jelas nggak banyak membantu, sebab Monic nggak terjun di bidang yang sama dua kali. Setiap kali melamar pekerjaan, CV Monic sama nilainya dengan CV fresh grad yang minim pengalaman. “Tahu nggak sih, kemarin aku sempat ketemu sama Ladinia,” kata Ayuni, menarik Monic dari keruwetan pikirannya saat ini. “Ladinia yang keren itu?” Monic mengingat teman seangkatannya yang bergelimang prestasi. Mulai dari ajang mahasiswa berprestasi hingga ketua organisasi, semua diajabani. “Yes. Dia sempat nyinggung soal Gerald.” Monic menaikkan alis. “Dia puji-puji gitulah. lntinya, bagi doi, bos kamu tuh semacam panutan gitu. Inspirasi.” “Tapi kamu nggak bilang kalau aku kerja di kantor Gerald, kan?” tanya Monic buru-buru. “Aku bahkan nggak bilang kalau kita masih sahabatan.” “Sialan. Malu, ya, kamu sahabatan sama aku?” Ayuni tergelak. “Sensitif amat kayak layar HP. Serba salah kamu, Nic!” Monic berdecak. “Bisa gawat kalau Gerald tahu.” “Emang beneran dia nggak ingat kamu sama sekali?” Monic menggeleng. “Sama sekaIi?” Ayuni memastikan. Monic mengangguk. “Ya tapi wajar nggak, sih? Dulu dia kan hidup di dunia yang berbeda sama kita.” “Gokil! Maksud kamu dia sejenis tumbuh-tumbuhan gitu?” Monic mendengus sebal. Namun, dia sama sekali nggak berlebihan. Bicara soal kampus, Monic sempat membuat riset kecil-kecilan tentang garis yang memisahkan tiga level dunia. Dunia paling bawah diisi oleh mahasiswa-mahasiswa yang madesu kuliahnya hidup segan mati tak mau, sering bermasalah dengan dosen dan orang-orang lainnya, dan tipe-tipe yang dibenci semua orang ketika kerja kelompok. Dunia paling atas adalah dunia terang benderang yang dihuni oleh orang-orang seperti Gerald dan Ladinia. Mereka seolah ditakdirkan punya masa depan bagus dan jadi kesayangan dosen, dan semua orang berlomba-lomba ingin satu kelompok dengan mereka. Prestasi akademik jalan, organisasi pun jalan. Gerald bahkan menjabat sebagai ketua pelaksana ospek ketika Monic baru masuk kuliah. Nggak lama kemudian, Gerald juga terpilih menjadi Ketua DPM Fakultas Hukum. Temannya sangat banyak, dan networkingnya sudah terbentuk sejak dini. Monic hidup di dunia kedua, alias dunia tengah-tengah. Dia bukan mahasiswa suram, tetapi juga bukan mahasiswa berprestasi. Dia selalu hadir dalam setiap perkuliahan, tetapi juga nggak menonjol. Penghuni dunia Monic ini akan memilih tempat duduk di tengah, mencatat dengan rajin, sambil berharap dosen nggak pernah menyadari eksistensinya. Saat kerja kelompok pun, dia akan mengerjakan tugas sesuai porsi dengan baik. Mereka juga ikut satu atau dua organisasi, tapi biasanya hanya sebagai staf biasa. Nggak ada jabatan khusus yang diampu, dan mereka pun nggak berminat untuk itu. Gampangnya, mereka adalah tim hore. Nggak banyak moment berkesan yang secara khusus melibatkan mereka di dalamnya. Singkatnya, dunia level 1 dan level 3 mudah dikenali dan diingat atas reputasi masing-masing. Sedangkan level 2 ini karakteristiknya terlalu samar dan jumlahnya terlalu jamak untuk diingat secara khusus. Begitulah mengapa seorang Gerald nggak akan mengingat Monic. Dia maklum, dan malah mensyukuri hal itu. “Terus rencana kamu soal si cowok HR itu gimana?” Lagi-lagi pertanyaan Ayuni menarik Monic dari lamunan tentang “masa lalunya” dengan Gerald. “Ck!” Mood Monic semakin anjlok. “Bubar udah. Semalam aja dia nanya ke aku, cewek lebih suka diajak nonton apa makan.” Lagi-lagi Ayuni tergelak. Agaknya malam ini, Monic sukses menjadi badut yang mencerahkan hidup sahabatnya itu. “Ya berjuang, dong!” desak Ayuni. “Kan belum tentu juga mereka cocok. Segitu doang usaha kamu, Nic. Pantesan kisah cinta kamu seret!” Monic mencebik. Mau kesal, tapi Ayuni benar. Kisah cintanya memang seret total. Sudah empat tahun terakhir Monic menjomlo. Aris adalah cowok pertama yang membuatnya kembali merasakan deg- degannya jatuh cinta. Namun, kisah cinta itu pun harus layu sebelum berkembang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD