Ketololan apa yang kamu lakukan ketika alkohol menguasaimu? Kalau jawabannya cuma nyasar masuk apartemen orang atau salah naik mobil di parkiran klub, itu masih kategori standar. Monic punya versi yang lebih menyedihkan dan jauh lebih meresahkan: menelepon mantan.
Bukan sekadar kirim emoji nyasar atau “lagi di mana?” jam dua pagi. Monic tipe yang bisa nelpon mantan sambil nangis, sambil ketawa, sambil bilang “aku nggak pernah bener-bener lupa kamu,” lalu besok paginya bangun dengan kepala pening dan rasa malu yang nggak bisa dihapus pakai aspirin.
Sebelum masuk ke tragedi itu, mari bahas soal rasa bersalah. Monic akrab banget sama yang satu ini. Apalagi kalau sudah menyangkut alkohol. Dia tahu kebiasaan minum bukan hal yang bisa dibanggakan. Dia sadar, suatu hari nanti tubuhnya bakal protes. Liver-nya bisa mogok kerja, dan penyesalan akan datang tanpa diundang.
Tapi yang lebih parah adalah efek jangka pendeknya. Alkohol bikin Monic jadi versi dirinya yang paling impulsif dan paling nggak logis. Dia tahu itu. Dia paham risikonya. Tapi tetap aja, dia minum. Karena manusia memang makhluk keras kepala. Terus jatuh di lubang yang sama, terus marah kalau dibilang keledai.
Monic juga sering janji ke diri sendiri: “Nggak akan minum lagi.” Tapi janji itu cuma bertahan sampai Jumat malam datang dan ada undangan party. Lalu siklusnya berulang. Alkohol, rasa bersalah, telepon ke mantan, dan pagi yang penuh penyesalan.
Monic sudah memikirkan ini semalam. Dia tahu betul apa yang bisa terjadi kalau dia membiarkan alkohol mengambil alih kendali. Tapi tetap saja, dia duduk di bar, menenggak bir gelas demi gelas sampai pikirannya mulai kabur. Dunia terasa ringan, tubuhnya hangat, dan semuanya tampak menyenangkan. Dia mabuk, dan dia menyukainya.
Masalah-masalah hidup yang biasanya bikin dia stres mendadak lenyap. Kisah cintanya yang mandek, karier yang stagnan, dan umur yang terus bertambah tanpa pencapaian—semuanya seperti nggak nyata. Alkohol membuatnya merasa seolah semua itu cuma mimpi buruk yang bisa dia abaikan.
Awalnya, Monic merasa semua ini sepadan. Rasa ringan, tawa lepas, dan kebebasan sesaat itu terasa worth it. Tapi begitu pagi datang, dan dia terbangun dengan kepala berat, perut mual, serta tubuh yang rasanya kayak habis ditabrak truk, dia langsung sadar: ini nggak sepadan sama sekali.
Kalau ini cerita di platform novel online, mungkin Monic terbangun di apartemen mewah milik pria tampan yang semalam jadi partner one night stand-nya. Mungkin ada aroma kopi dan suara wajan dari dapur. Mungkin pria itu CEO muda dengan masa lalu kelam, dan hubungan mereka akan jadi kisah cinta penuh konflik tapi berakhir bahagia.
Tapi kenyataannya jauh dari itu. Monic terbangun di kamar sempitnya yang berantakan, di rumah kontrakan yang dia tinggali bersama ayah dan dua abangnya. Nggak ada aroma kopi, nggak ada pria tampan, cuma bau alkohol sisa semalam dan rasa mual yang menyebalkan.
Dia sudah punya firasat. Karena ini bukan pertama kalinya. Dengan tangan gemetar, Monic meraih ponselnya. Dia tahu apa yang akan dia temukan: pesan-pesan aneh, panggilan tak terjawab, atau—yang paling parah—rekaman suara yang seharusnya nggak pernah dikirim.
“Apa sebaiknya aku cek chat dulu?” gumamnya.
“Kalau semalam aku ngoceh aneh-aneh, pasti Aris bakal nanya, kan?” Monic menarik-narik rambutnya yang kusut. “Ya udahlah, Nic, mau gimana lagi? Apa jeleknya mabuk terus telepon gebetan dan ngomong yang enggak-enggak? Semua orang pasti pernah begitu.” Monic terkekeh, mentertawakan nasibnya sendiri. “Lagian ini juga bukan pertama kaIinya.”
Memang benar. Kebiasaan drunk dialing itu lumayan bikin Monic frustrasi. Setiap kali alkohol mulai menguasai tubuhnya, dia jadi impulsif. Chat nyasar, telepon tengah malam, bahkan voice note absurd—semuanya keluar tanpa filter. Hal-hal yang nggak akan pernah dia lakukan saat sadar, justru jadi rutinitas ketika mabuk.
Entah sudah berapa kali dia bangun dengan kepala pening dan jantung berdebar, lalu membuka ponsel dan menemukan jejak-jejak kebodohan semalam. Panggilan ke mantan, pesan-pesan panjang yang penuh drama, bahkan kadang curhat soal hal-hal yang seharusnya dikubur dalam-dalam. Monic tahu ini kebiasaan buruk. Dia sadar. Tapi tetap nggak bisa menahan diri.
Itulah kenapa dia bilang manusia itu makhluk keras kepala, t***l, dan sombong. Terutama manusia seperti dirinya. Sudah tahu salah, sudah tahu bakal nyesel, tapi tetap diulang. Berkali-kali. Seolah rasa malu dan penyesalan itu nggak cukup untuk bikin dia kapok.
Pagi ini, Monic memutuskan untuk mengisi ulang baterai ponselnya dulu. Sambil itu, dia juga berusaha mengisi ulang nyalinya. Karena yang paling dia takutkan bukan telepon ke mantan, tapi kemungkinan terburuk: menelepon Aris.
Aris bukan mantan. Aris adalah orang yang diam-diam dia sukai. Orang yang selama ini cuma dia pandangi dari jauh, cuma dia perhatikan lewat story i********:, dan cuma dia sebut dalam doa-doa iseng. Kalau semalam dia benar-benar menelepon Aris dan mengumbar isi hatinya, maka itu bukan sekadar drunk dialing. Itu bencana.
Monic menatap layar ponselnya yang masih gelap. Dia belum siap. Tapi dia tahu, cepat atau lambat, dia harus tahu kebenarannya.
“Oke, cuma itu, kok,” pikir Monic. “Aku tinggal nyari alasan yang masuk akal aja, dan ngeyakinin dia kalau aku nggak ada perasaan apa-apa.”
Monic mengangguk pelan, seolah memberi approval atas rencananya sendiri. Dia menarik napas, lalu mulai membuka aplikasi obrolan di ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat, memeriksa satu per satu chat. Grup kantor aman. Grup keluarga aman. Chat pribadi juga bersih. Nggak ada pesan nyasar, nggak ada voice note absurd, dan yang paling penting, nggak ada chat ke orang-orang yang seharusnya nggak dia hubungi saat mabuk.
Perlahan-lahan, kekhawatirannya mulai mereda. Monic mulai merasa lebih tenang. Mungkin semalam dia nggak separah itu. Mungkin dia langsung tidur setelah minum. Mungkin dia akhirnya belajar mengendalikan diri.
Dengan sedikit lebih percaya diri, Monic membuka riwayat panggilan. Dia menatap layar ponselnya dengan hati-hati, siap menghadapi kemungkinan terburuk. Tapi yang muncul di bagian paling atas hanya satu nama: Gerald (InCorp). Nggak ada nama Aris, Johan, atau Mario.
Aris adalah gebetannya. Orang yang selama ini cuma dia perhatikan diam-diam, tanpa pernah benar-benar berani mendekat. Johan dan Mario adalah dua mantan yang seharusnya sudah dia hapus dari hidupnya, tapi entah kenapa masih ada di kontak.
“Syukurlah aman,” pikir Monic luar biasa lega. Namun, kelegaan itu nggak bertahan lama karena Monic segera menyadari ada yang aneh dengan riwayat panggilan teleponnya.
“Gerald?” gumam Monic.
Monic nggak ingat pernah menelepon Gerald hari Jumat kemarin. Bahkan, dia nggak ketemu Gerald sama sekali karena atasannya itu nggak masuk kantor. Rasanya mustahil ada percakapan, apalagi yang panjang. Tapi rasa penasaran mendorongnya untuk mengetuk daftar panggilan dan melihat detailnya.
Dan di situlah masalahnya mulai kelihatan. History menunjukkan dua panggilan ke Gerald. Keduanya terjadi dini hari, sekitar pukul dua pagi. Panggilan pertama berlangsung selama tiga menit. Yang kedua? Empat puluh enam menit.
Monic menatap layar ponselnya lama. Otaknya seperti mesin motor tua yang baru dinyalakan setelah berbulan-bulan nganggur. Lambat, berat, dan berisik. Tapi begitu nyambung, reaksinya langsung meledak.
Matanya melotot. Panik. Jantungnya berdebar nggak karuan. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, tapi ingatannya cuma potongan-potongan kabur. Dia tahu dia minum. Dia tahu dia mabuk. Tapi dia nggak tahu kenapa bisa menelepon Gerald selama hampir satu jam.
Gerald bukan teman curhat. Dia atasan. Formal. Kaku. Kalau Monic benar-benar menelepon dan ngomong selama itu, kemungkinan besar dia ngomong hal-hal yang nggak seharusnya diucapkan. Dan sekarang, dia harus menghadapi kenyataan itu. Mau nggak mau.
“Sialan! Aku drunk dialing ke Pak Gerald?!”