Monic berjalan setengah tergesa memasuki gedung. Lebih tepatnya ia sedang berlari dengan menggunakan sepatu dengan heels 3 cm. Tidak terlalu tinggi, namun cukup membuat pegal kaki Monic nantinya. Tidak jatuh di lobby saja sudah sangat bagus buat Monic.
Seolah semesta memang ingin menghukumnya, Monic melihat Gerald muncul dari lobi depan saat dia tengah menunggu lift datang. Benar-benar sebuah jackpot untuk Monic, lengkaplah sudah semua penderitaannya di Senin pagi ini. Monic semakin membenci hari Senin!
'Mampus!' Monic berniat kabur, tetapi Gerald sudah telanjur melihatnya. Akan sangat aneh kalau Monic nekat kabur sekarang. Alhasil, dengan detak jantung seperti sedang clubbing, Monic hanya bisa berdiri kaku di depan lift, dan menyambut atasannya dengan senyum sopan. Dalam hatinya tak henti Monic melafalkan doa-doa apa saja yang diingatnya, asal hatinya tenang dan jantungnya tidak lagi melakukan senam aerobic.
“Pagi,” sapa Gerald dengan suara beratnya.
Pria itu tengah sibuk mengancingkan lengan kemeja panjangnya. Seperti biasa, busana Gerald rapi tanpa cela. Dengan kemeja Biru Navy dan celana bahan Abu-abu gelap, Gerald nampak mencolok diantara orang-orang yang sedang mengantri lift pagi itu.
“Pagi, Pak,” sapa Monic sesopan mungkin. Ia berharap Gerald tidak mendengarkan nada kegugupan dalam suaranya.
Keduanya lantas sama-sama menunggu lift yang kali ini rasanya seperti masih berada di kota sebelah. Untuk turun satu lantai saja rasanya lama sekali, seolah lift ini juga sedang menggoda Senin pagi Monic. Sepertinya kali ini bukan hanya emosi Monic yang diuji tetapi juga kesabarannya. Sabar! Orang sabar disayang bos… eh…!
Monic menunduk menatap dasar pintu lift dengan hati cemas tak karuan. Dirematnya ujung blazer-nya hari ini, mencoba mengalihkan kecemasannya. Ternyata berdiri berdampingan dengan Gerald pagi ini membuat umurnya lebih pendek sehari. Dia berusaha menyiapkan mental jika Gerald akan menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan tragedi Jumat malam—ah, maksudnya Sabtu dini hari.
Oke, sebelum ke mana-mana, jangan bayangkan Gerald sebagai atasan berusia paruh baya, dengan rambut klimis dan perut mulai buncit, serta suara serak kebanyakan nikotin. Meski menjabat sebagai senior corporate lawyer sekaligus legal manager; Gerald masih sangat muda. Usianya baru 32 tahun, hanya beda dua tahun saja dengan Monic. Agaknya karier Gerald benar-benar melaju bebas tanpa hambatan, dan itu membuat Monic benar-benar iri.
Penampilannya? Oke, menarik. Semenarik yang mungkin dari seorang pengacara korporasi senior. Bajunya selalu rapi dan wangi. Setiap setelan yang ia gunakan selalu tampak pas di tubuhnya, seperti dijahit khusus hanya untuknya.
Sama seperti pakaian yang dikenakannya, wajahnya pun selalu bersih dan segar—seberengsek apa pun pekerjaan yang datang. Rambutnya yang sedikit ikal disisir dengan rapi. Matanya tajam dengan alis tebal dan kulit terang. Tubuhnya ramping dan proporsional, serta aroma musk yang segar selalu tercium setiap kali Gerald melintas. Pendek kata, Gerald adalah tipe laki-laki yang mampu membuat perempuan menoleh dua kali jika melintasinya.
Karakter kerjanya? Umm … yah, Monic harus mangakui bahwa Gerald memang bukan tipe atasan favorit semua orang. Terutama soal pekerjaan, Gerald sangat tegas, profesional, nggak terima kompromi, dan berkecenderungan punya prinsip “Kalau bisa lembur kenapa harus besok?”
Sebenarnya, Gerald bukan tipe atasan yang evil banget. Bukan juga tipe atasan horor yang setiap dia melintas bikin pegawainya tahan napas. Selain hobinya memberi pekerjaan di last minutes yang menyebalkan itu, sebenarnya Gerald adalah tipe atasan yang biasa saja. Gerald adalah atasan pada umumnya, dan dimana-mana atasan memang selalu dibenci, kan?
Mungkin kepribadiannya sedikit pendiam dan tertutup, sehingga terkesan dingin, tetapi Gerald bukan tipe atasan yang nggak bisa diajak bicara dan bercanda. Yah kadang-kadang Gerald juga bisa bercanda, meski seringnya ‘jokes bapak-bapak’ yang dilontarkan dengan ekspresi datar, lalu anak buahnya harus tertawa demi kesopanan. Padahal Gerald belum pantas disebut bapak-bapak, menikah saja belum.
Gerald juga bukan tipe atasan yang korup, gila credit, dan hobi menindas anak buahnya. Ada kalanya Gerald menjadi bos yang royal dan nggak segan-segan mentraktir timnya. Tentu saja dengan alasan sebagai reward atas pencapaian tim-nya.
Kehidupan pribadi Gerald bagai legenda. Ada yang bilang kalau dua tahun lalu Gerald bertunangan Miranda Oktarini mantan duta pariwisata Indonesia yang sedang S2 di Belanda. Namun, saat ini nggak ada yang tahu bagaimana keberlangsungan pertunangan itu, karena media sosial Gerald maupun Miranda nggak pernah sekali pun menunjukkan tanda-tanda kebersamaan mereka. Bahkan untuk menambahkan kesan misterius, keduanya kompak mem-private akun sosial medianya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Dengan langkah gontai Monic masuk ke dalamnya, menyusul orang-orang lainnya yang juga berbondong-bondong memasuki lift. Sedikit berdesakan, namun setidaknya ia tidak harus menempel ke tubuh Gerald.
Yah... bagaimanapun kepribadian Gerald apalagi apa pun kehidupan pribadinya—pria itu tetaplah atasan Monic, seseorang yang seharusnya nggak jadi sasaran kemarahan dan caci makinya saat muncul dalam pengaruh alkohol. Nggak semestinya Monic cari masalah dengan Gerald Dan apa pun alasannya, sebaik apa pun atasannya, yang Monic lakukan benar-benar nggak sopan. Itu etika dasar. Gerald nggak salah kalau melayangkan surat teguran.
Apalagi, bagi Monic, Gerald adalah satu entitas yang harus dihindari karena alasan pribadi. Monic memang pecundang karena satu dan Iain keputusan yang dia ambil dalam hidup, tetapi dia nggak ingin Gerald tahu itu.
“Nic.”
Monic mendongak, merespons panggilan kepadanya, “Ya?”
Gerald menatapnya dengan kening berkerut, dan Monic nyaris pengin membenturkan kepalanya sendiri ke dinding lift supaya pingsan. Apa Gerald akan mulai membahas soal tragedi Jumat malam—ah, maksudnya Sabtu dini hari?
“Delapan,” kata Gerald pendek.
Monic menatap pria itu dengan ekspresi nggak paham. Apa maksudnya delapan? Delapan poin pelanggaran yang sudah dia Iakukan? Delapan minggu untuk cari kantor baru? Delapan alasan kenapa Monic pantas dipecat?
Sebelum Monic menemukan jawabannya, Gerald sudah beraksi. Sedikit nggak sabar, pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Monic—membuat tubuh Monic seketika beku dan aroma segar nan maskulin kolonye menyambar hidungnya—Ialu... memencet tombol lift.
“Delapan belum dipencet,” kata Gerald pendek
“Oh!”
Merasa bodoh, Monic buru-buru minta maaf dengan heboh dan berlebihan. Gerald hanya mengangguk dan sudah sibuk dengan keliman kemejanya yang sedikit terburai—pria itu terlihat kesal karenanya.
Di lantai delapan, Gerald melangkah keluar begitu lift terbuka. Pria itu melangkah cepat menuju ruangannya tanpa bicara apa-apa lagi. Monic mengikuti di belakangnya dengan benak penuh pertanyaan. Sampai dia duduk di kubikelnya sendiri, Monic masih nggak percaya bisa selamat dari momen lift barusan.
‘Tapi kok ...’
Monic merasa sikap dan ekspresi Gerald nggak berbeda dengan hari-hari lain. Apa Gerald lupa? Apa Gerald nggak mau membahasnya? Serius, nih, Monic nggak bakal diberi surat peringatan atas perbuatan gilanya?