Dulu-dulu Monic pernah merasa abang-abangnya tidak cukup peduli padanya. Monic mengakui dirinya bukan tipe anak rumahan yang nggak pernah aneh-aneh. Monic hanyalah anak muda biasa yang sering tergoda dengan kenakalan-kenakalan duniawi. Dan abang-abangnya seolah membiarkan saja hal itu terjadi. Mereka—bahkan papanya—tidak pernah marah saat Monic pulang dalam keadaan mabuk. Keesokan harinya saat Monic bangun, segelas jus tomat atau air kelapa sudah tersedia di meja makan. Sambil menemani Monic meredakan pengar, biasanya mereka akan bertanya tentang apa saja yang Monic lakukan semalam. Apa yang Monic minum, berapa banyak yang Monic minum, dengan siapa Monic pergi minum, dan bagaimana perasaan Monic sekarang. Mereka nggak marah atau terkesan menginterogasi, murni hanya ingin tahu. Mereka j

