Bab 2 Kebahagiaan Mama

1073 Words
Bab 2 Kebahagiaan Mama Jam dinding kamar kecil bercat krem itu baru menunjukkan pukul lima sore ketika Manisha Pinayung Mega berdiri di depan lemari pakaiannya dengan kedua tangan bertolak pinggang. Lantai kamarnya sudah dipenuhi beberapa dress, cardigan, rok, dan celana yang ia keluarkan satu per satu. Seolah sedang mengadakan bazar dadakan. "Hadeh..." keluhnya sambil mengacak poni rambutnya. "Aku mau ketemu calon ayah, bukan kondangan." Ia menghela napas pelan. Tatapannya kemudian jatuh pada bingkai foto yang berdiri manis di atas meja belajarnya. Foto dirinya bersama sang ayah dan ibunya. Manisha kecil yang saat itu masih berusia sebelas tahun tersenyum lebar di tengah-tengah kedua orang tuanya. Sedangkan pria yang selalu dipanggilnya Papa itu kini sudah lama pergi. Kecelakaan tragis sebelas tahun lalu merenggut sosok yang selalu menggendongnya ke kamar setiap kali ia tertidur di ruang tamu. Sejak hari itu, Sekar Ayuningrum menjalani semuanya seorang diri. Membesarkan dirinya. Mengurus toko roti kecil yang diwariskan ayahnya yang Alhamdulillahnya sudah berkembang lebih besar disaat menjadi ibu sekaligus ayah. Dan tidak pernah sekalipun Manisha mendengar wanita itu mengeluh. Bahkan ketika hidup mereka sedang sulit. Bahkan ketika ibu-ibu tetangga sering bertanya kapan Sekar menikah lagi. Bahkan ketika ada beberapa pria yang mendekat dan ditolak secara halus oleh ibunya hanya karena menjaga ahar tidak menjadi gunjingan orang. Semua demi dirinya. Maka jika hari ini, setelah bertahun-tahun, ibunya akhirnya menemukan kebahagiaan, bukankah seharusnya ia ikut bahagia? Manisha tersenyum kecil. "Mama juga berhak bahagia. Papa pasti juga enggak marah, kan?" gumamnya pelan sambil mengusap bingkai foto itu. "Kalau memang Mama bertemu dengan orang baik, Manisha akan ikhlas dan juga akan sayang sama beliau." Ia lalu tersenyum lagi. Mungkin, hari ini adalah awal keluarganya kembali utuh. Dengan semangat baru, Manisha kembali membuka lemari. "Nah!" Matanya berbinar melihat dress favoritnya. Dress midi berwarna sage green dengan lengan panjang dan aksen pita kecil di pergelangan tangan. Bentuknya simpel, cantik dan yang paling penting, tidak ribet saat ia naik motor nanti. Selesai mandi, Manisha mengenakan dress itu dan memadukannya dengan cardigan putih s**u. Ia menata rambutnya tanpa berlebihan. Hanya memberi sedikit jepitan di belakang telinganya. Ia mematut dirinya di depan cermin. "Ya lumayanlah. Mudah-mudahan calon ayahku enggak kaget lihat anaknya cantik begini." Senyumnya melebar sendiri. Tak lama terdengar suara ketukan pelan dari luar. "Nduk?" Suara lembut Sekar membuat Manisha buru-buru membuka pintu. Dan seketika Manisha terdiam. "Mama..." Matanya membulat. Sekar Ayuningrum yang selama ini lebih sering memakai gamis sederhana dan celemek toko roti, kini terlihat begitu cantik dengan dress berwarna dusty pink dan hijab senada. Wajah wanita empat puluh sembilan tahun itu bahkan tampak sedikit merona. Manisha hampir menitihkan air mata melihatnya. "Mama cantik banget." Sekar terkekeh malu. "Ah, bisa saja." "Beneran. Mama cantik banget." Dan tanpa aba-aba, Manisha langsung memeluk wanita itu erat. "Terima kasih udah bertahan selama ini, Ma." Sekar tertegun. "Nduk..." "Mama harus bahagia." Wanita itu tersenyum haru sambil mengusap punggung putrinya. "Kamu juga." Manisha melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar. "Mana calon ayahku? Orangnya ganteng enggak?" Sekar malah tertawa. "Nanti juga ketemu." "Lho, Mama enggak ngajak beliau ke rumah?" "Enggak." "Lah?" "Kamu ikut bareng sama Mama atau naik motor sendiri? Mama nanti dijemput." "Eh?" "Beliau sudah di perjalanan." "Oh..." Manisha tersenyum kecil. Berarti calon ayahnya gentleman juga. "Nggak usah Ma. Manisha pakai Vespa aja." Ia mengambil helm cream kesayangannya lalu keluar menuju garasi. Vespa Primavera warna sage green yang dibelinya dari hasil menabung dan membantu toko roti sejak SMA berdiri manis di sana. Setelah mengenakan helm dan menyalakan mesin, ia melambaikan tangan pada sang ibu. "Duluan ya, Ma!" "Hati-hati." "Iya!" Dan dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya, Manisha melajukan motornya menuju pusat kota Malang. --- Pukul tujuh malam tepat, Manisha melangkah masuk ke dalam restoran bernuansa kolonial mewah di kawasan jalan Ijen, Malang. Seorang pelayan mengantarkannya menuju ruang VIP di bagian belakang restoran. Begitu pintu kayu berukir itu dibuka, Manisha langsung menangkap sosok ibunya yang terlihat sangat anggun, duduk di samping seorang pria paruh baya berwibawa yang memancarkan aura karismatik. "Ah, ini putri saya, Mas," ucap Sekar dengan senyum merekah saat melihat Manisha masuk. Pria paruh baya itu—Profesor Praba Yudhistira—langsung berdiri dan menyambut Manisha dengan senyuman hangat seorang ayah. "Malam, Om, Assalamualaikum," sapa Manisha sopan, menyalimi tangan pria itu. "Waalaikumsalam, Manisha. Panggil Papa saja, Nduk. Sebentar lagi kita kan sudah jadi keluarga," ujar Profesor Praba dengan suara berat yang menenangkan. "Ayo duduk. Anak laki-laki Papa sedang ke toilet sebentar, sebentar lagi dia kembali." Manisha mengangguk patuh dan duduk di samping ibunya. Di dalam hati, ia merasa lega karena calon ayah tirinya tampak begitu ramah dan menyayangi ibunya. Namun, ketenangan itu hanya bertahan selama tepat tiga menit. Klek. Pintu ruang VIP kembali terbuka. "Maaf Papa, Ibu, tadi ada telepon penting dari kantor hukum," suara berat, bariton, dan teramat sangat familier itu menggema di dalam ruangan yang tertutup. Manisha, yang saat itu sedang menuangkan air putih ke dalam gelasnya, seketika membeku. Tangan gadis itu gemetar hebat hingga beberapa tetes air tumpah ke meja yang bertaplak kain putih. Ia mendongak perlahan, berharap telinganya hanya sedang berhalusinasi karena trauma akan skripsi yang terus saja revisi. Namun, kenyataan malam itu jauh lebih kejam dari coretan tinta merah mana pun di dunia. Berdiri di dekat pintu dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, dan tatapan mata sehitam obsidian yang langsung mengunci pandangan Manisha. Pria itu adalah Senna Praba Yudhistira, S.H., M.H., C.L.A. "Eh, Senna, ayo masuk, Le. Ini kenalkan, ini Sekar, calon ibu barumu. Dan ini... Manisha, anak perempuan Sekar," kata Profesor Praba dengan wajah tulus dengan senyuman, memperkenalkan keduanya. Gelas di tangan Manisha nyaris saja merosot jatuh kalau saja ibunya tidak cekatan menahan sikutnya. Mata Manisha membulat sempurna, napasnya tercekat di tenggorokan. Dajal itu... anak dari calon suami ibunya?! Di ambang pintu, Senna tidak langsung berjalan mendekat. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu sempat menaikkan sebelah alisnya, ekspresi terkejut melintas sangat tipis di wajah datarnya sebelum digantikan oleh senyuman misterius yang membuat bulu kuduk Manisha kembali meremang. Senna melangkah maju dengan anggun, duduk tepat di hadapan Manisha yang wajahnya sudah sepucat kertas HVS skripsinya. "Malam, Manisha," sapa Senna dengan nada suara yang sengaja ditekankan, penuh intonasi yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. "Siapa yang mengira... kalau kita akan bertemu di sini dengan status yang berbeda?" Manisha hanya bisa menatap dosen pembimbingnya—yang dalam hitungan hari akan menjadi kakak tirinya—dengan pandangan horor. Di dalam kepalanya, jeritan frustrasinya menggema kencang: Tuhan... tolong coret saja saya dari Kartu Keluarga malam ini juga!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD