Pertanyaan ini yang membuat Wening jengah, dan dia tertawa kecil. “Saya maunya kerja saja dulu.” “Maaf ya, Ning. Ibu nggak bermaksud menyinggung kehidupan pribadi kamu. Kresna ini lo, yakin kamu nggak seperti itu,” ujar Tatik, menyinggung kejadian lebih dari setahun lalu. Wening tertunduk, mengingat isyarat wajah khawatir ibunya sebelum dia pergi diajak Kresna ke rumahnya. Wening mengerti sekarang dan untungnya dia yang tidak begitu heran atau kaget. Dia melirik ke Kresna yang tersenyum tipis ke arahnya. “Kalo saya sendiri, ya … saya nggak bisa mengontrol pandangan orang terhadap saya. Jadinya pasrah saja,” ujar Wening, lalu memberanikan diri menatap Kresna. Tatik ikut melihat ekspresi wajah putra pertamanya, dan tersenyum penuh makna. Dia tahu anaknya menyukai Wening sejak Wening menj

