Bab 3. Bercerai?

1331 Words
Wening tidak menjawab, tetap makan mi masakannya, karena dia kelaparan. Pertanyaan Pram menyadarkannya bahwa dia pernah menikah dan berstatus janda. Selama ini dia merasa tidak pernah menikah, lagi pula tidak ada yang pernah menyinggung statusnya. Pram sudah mencuci, melap tangannya, lalu duduk di depan Wening yang masih makan. Dia memperhatikan Wening, seolah menunggu jawaban Wening. “Iya, Pak, saya janda.” “Punya anak?” tanya Pram dengan wajah ragu. Wening menggeleng sambil mengunyah. “Oh, tapi kamu pandai merawat Miranda. Punya adik perempuan?” Wening menggeleng, kedua adiknya laki-laki. “Dua adik saya laki-laki.” “Oh.” Pram berdesah lagi. “Berapa lama kamu menikah?” Wening terkesiap, tidak menyukai pertanyaan Pram. “Maaf, Pak,” desahnya, benar-benar tidak mau menjawab. Pram tersenyum tipis, masih menatap wajah Wening. Satu jari telunjuk mengetuk-ngetuk meja makan, seolah masih berharap Wening menjawab. Wening semakin tidak menyukai keadaannya, dan dia yang berusaha sabar, tetap makan. Jari telunjuk Pram berhenti mengetuk, membiarkan Wening menghabiskan minya. “Saya … saya tidak mau membahasnya,” ujar Wening yang sudah menghabiskan mi. Dengan cepat Pram mengambil mangkuk yang sudah kosong, berdiri dari duduk dan melangkah menuju sink, mencucinya. Wening menghela napas panjang, matanya hampa ke hamparan meja. Pram sudah mencucikan mangkuk Wening, melap tangannya, lalu beranjak dari dapur. Berbalik sebentar menghadap Wenung dan berucap, “Terima kasih, mi instan buatan kamu enak sekali. Sudah lama saya nggak makan mi. Mi kamu pas dan tidak mengembang.” Lalu dia pergi meninggalkan Wening di dapur. Wening melap-lap meja makan beberapa saat, lalu masuk ke dalam kamar dengan cepat. *** Wening sudah tidak lagi memikirkan kejadian aneh yang dia alami suatu malam, ditegur Pram dan ditanya-tanya tentang kehidupan pribadi, karena sikap Pram yang berubah seperti biasa setelahnya, sibuk dengan keseharian, dan dia yang menyapa Wening sekadarnya. Wening akhirnya bisa leluasa bekerja merawat Miranda. “Miranda!” Wening memeluk Miranda, dia senang bercampur bangga karena Miranda tampil dengan sempurna di pertunjukkan mini di kelas. Anak perempuan itu semakin percaya diri sekarang sejak Wening mengasuhnya. “Halo, Wening. Apa kabar?” seorang wanita setengah baya menyapa Wening. “Oh, Bu Asta.” Wening menunduk hormat ke guru Miranda. “Wah, tambah cantik sejak kerja di rumah bu Donna ya? Saya senang Miranda yang sekarang penurut dan nggak pernah membantah.” “Haha, iya, Bu.” Miranda senyum-senyum senang saat berada di dekapan Wening. “Miss, aku belajar lagi ya?” ujarnya. Wening mengangguk dan tersenyum puas. “Miranda cerita ke saya mamanya ke Bandung?” “Iya, Bu. Bu Donna bilang ada urusan keluarga di sana, hari ini pulang.” “Oh.” Asta menoleh ke Miranda yang sudah bergabung bersama teman-temannya di kelas. “Ya, punya orang tua yang super sibuk, kasihan juga … saya jadi memaklumi kerepotan bu Donna. Pantes saja dia malas nyari-nyari pengasuh Miranda, dan begitu tahu kamu dekat dengan Miranda, dia langsung menawarkan.” “Iya, Bu.” “Hm, jangan ragu balik kerja ke sini kalo ada apa-apa.” “Maksud Ibu?” “Ya, ‘kan Miranda nanti gede dan kamu nggak selamanya di sana.” “Oh, iya iya, Bu.” “Demi karir kamu juga.” Wening mengangguk mengerti. “Wah, terima kasih banyak, Bu Asta.” “Kamu punya potensi yang sangat besar, Wening.” Asta memandang kagum Wening. Wening mengangguk lagi. *** Wening menemani Miranda les berenang di klub setelah sekolah, dan lagi-lagi dia mendapatkan laporan terbaik Miranda dari pelatihnya, bahwa Miranda yang telah berhasil berenang dengan gaya baru dan berhak ke tahap yang lebih tinggi mulai minggu depan. Wening dan Miranda pulang dengan perasaan senang dan bahagia sore itu. “Kok rame ya?” gumam Miranda heran, melihat ada tiga mobil mewah di pekarangan depan rumah. Perasaan Wening menjadi kurang enak, dia mengajak Miranda masuk rumah lewat pintu samping. Wening dan Miranda sudah berada di dalam kamar, dan Wening yang langsung memandikan Miranda. “Kok tadi rame ya, Miss? Miss tau nggak?” tanya Miranda saat Wening memakaikannya baju rumah. “Nggak.” “Oh, mami pulang hari ini, ‘kan?” “Ya.” “Apa tadi itu mami?” “Mobilnya beda.” Wajah Miranda berubah, dan dia terlihat lemas. “Miss, aku ngantuk.” Wening mengerti Miranda yang mengantuk karena seharian sibuk, sekolah pagi, lalu dia tampil di pertunjukkan kecil di kelas, dan lanjut les renang hingga sore. Sebenarnya Miranda tidak diperbolehkan tidur di waktu sore, tapi sore ini pengecualian, karena hari ini sangat melelahkan bagi anak usia lima tahun. Tidak butuh waktu lama, Miranda langsung tidur setelah Wening menyelesaikan satu lagu pengantar tidur. “Wening?” Wening baru saja ke luar dari kamar Miranda, Donna menegurnya. “Bu? Ba … baru pulang?” Donna tersenyum. “Iya, kok kamu kaget?” “Haha, nggak apa-apa, Bu. Tadi saya heran pas di depan, ada banyak mobil dan saya mengajak Miranda masuk lewat pintu samping. Saya pikir tamu--" Donna tersenyum hangat, “Keputusan yang tepat, Wening. Kebetulan ini masalah orang dewasa,” ujarnya. Wening terkejut dalam hati, dan dia tidak ingin tahu. “Hm, Emi sedang di luar, saya minta bantuan kamu, buatkan minuman untuk tamu-tamu saya di ruang tamu,” ujar Donna. “Baik, Bu.” Donna berbalik dan kembali ke ruang tamu, lalu Wening yang langsung melangkah menuju dapur, melaksanakan perintah Donna, membuat minuman hangat untuk tamu-tamunya. Minuman sudah Wening buatkan, dan dia memperbaiki pakaian sebelum melangkah menuju ruang tamu. Ada tiga tamu, dua laki-laki dan satu perempuan, semua berpakaian resmi. Ternyata ada Pram yang duduk dengan berpangku tangan di sofa kecil. Dia terlihat melirik Wening sebentar sambil mendengarkan tamu-tamunya berbicara. Wening dengan tenang menyajikan minuman hangat di atas meja, meskipun dia tahu diperhatikan Pram. “Kalo ingin proses perceraian ini cepat, Pak Pram dan Bu Donna harus saling kerjasama, ini demi kesehatan mental Miranda. Harus legowo dengan kesepakatan-kesepakatan, siapa yang akan tinggal di rumah ini—” Wening merasa kurang nyaman, dan dia dengan cepat meninggalkan ruang tamu. Wening sudah berada di dalam kamar, duduk meringkuk di atas dipan, dia yang sangat trauma dengan kata perceraian. Mengingat lagi peristiwa dua tahun lalu, dia diceraikan tepat di malam pertama. Dia dan keluarga menghadapi fitnah dan cemoohan dari kerabat dan masyarakat sekitar. Untungnya keluarga kecilnya memiliki hati kuat, keduaorangtuanya yang amat mempercayainya, sehingga dia memiliki kekuatan dalam menghadapi cobaan terbesarnya. Terjawab sudah semua keanehan yang ada di rumah ini, ternyata ada masalah besar dalam rumah ini. Ah, Wening jadi iba mengingat Miranda, anak itu pasti sedih saat tahu orang tuanya yang akan bercerai. *** Wening sudah selesai menidurkan tidur malam Miranda, dia keluar dan merasa haus. Dia pergi ke dapur dan membuka kulkas, sepasang matanya tertuju ke kotak s**u segar dan dia yang tergerak ingin minum s**u hangat. Tiba-tiba Pram muncul ke dapur, tidak seperti malam sebelumnya dia yang hanya memakai kaus tanpa lengan dengan celana piyama tipis, malam ini dia berpakaian tidur lengkap. Juga, Wening yang kali ini tidak lagi terkejut dengan kehadiran papi Miranda itu. “Mau … saya buatkan juga, Pak?” Wening malah menawarkan membuatkan s**u hangat untuk Pram, karena Pram mengeluarkan kotak s**u segar dari kulkas. “Ya, campur madu sedikit,” ujar Pram, meletakkan s**u kotak di dekat posisi berdiri Wening di depan kompor. Susu hangat Wening sudah selesai, dia lalu membuatkan satu gelas s**u hangat untuk Pram, mencampurnya dengan sedikit madu, sesuai permintaan. “Bagaimana dengan renang Miranda, Ning?” tanya Pram setelah Wening selesai membuatkan s**u untuknya. Wening duduk di depan Pram. “Lebih baik, Pak. Minggu depan dia ikut kelas yang lebih tinggi.” Pram mengangguk-angguk, lalu menyesap minumannya. Karena s**u tidak sehangat sebelumnya, Wening dengan cepat menghabiskan minumannya. Dia pun pamit. “Saya sebenarnya ingin bertanya tentang perceraian.” Wening menghela napas panjang, belum memutuskan duduk. Dia menoleh ke pintu kamar yang berada jauh di ruang depan. “Donna menginap di rumah sahabatnya malam ini. Makanya saya menemuimu.” Wening kembali duduk. “Jadi, Bapak dan bu Donna akan bercerai?” “Ya.” “Oh.” Wening memegang dadanya yang terasa sesak. “Kenapa?” Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD