bc

TERJEBAK GAIRAH LIAR AYAH TIRI

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
forbidden
age gap
curse
drama
serious
city
like
intro-logo
Blurb

Tujuh tahun mengasingkan diri di luar negeri tidak pernah cukup bagi Elena (28) untuk menghapus trauma masa lalunya. Kematian misterius sang ibu, Karina, menyisakan luka mendalam dan menyisakan satu sosok pria yang paling ingin ia hindari sepanjang hidupnya: Adrian (35). Pria dingin, karismatis, dan protektif itu adalah mantan suami ibunya—sekaligus ayah tiri Elena secara hukum. Meski tidak terikat hubungan darah, status sosial dan bayang-bayang masa lalu membuat ketertarikan magnetis di antara mereka menjadi sebuah dosa yang tabu.Ketika Elena terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya demi membantu Adrian mengurasi koleksi seni keluarga, dinding pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh seketika. Ketegangan formal di siang hari berubah menjadi hubungan rahasia yang intens dan penuh gairah di balik pintu kamar yang terkunci. Namun, di saat Elena mulai menyerahkan seluruh hatinya, sebuah rahasia gelap terkuak dari balik kanvas ganda lukisan lama milik ibunya. Sebuah surat harian usang peninggalan Karina ditemukan dengan kalimat terakhir yang mengerikan: "Jika aku mati, itu bukan kecelakaan. Adrian yang melakukannya."Dunia Elena runtuh dalam semalam. Pria yang didekapnya setiap malam kini berubah menjadi terduga pembunuh berdarah dingin. Terjebak dalam permainan kucing-kucingan yang menegangkan, Elena mulai menyelidiki Adrian secara diam-diam sambil tetap mempertahankan fasad keintiman mereka. Hingga suatu malam, petualangan nekat Elena membawanya ke brankas rahasia Adrian, hanya untuk mendapati dirinya ditatap oleh moncong pistol yang dingin.Di ambang maut, kebenaran yang sesungguhnya justru terkuak lewat sebuah tragedi yang mencengangkan. Adrian bukanlah monster yang selama ini ia takuti, melainkan pelindung terbesar yang rela mengorbankan segalanya demi menjaga Elena dari sindikat kriminal berbahaya—sindikat yang ternyata dipimpin oleh ibunya sendiri yang dipalsukan kematiannya.Tepat ketika cinta terlarang mereka akhirnya menemukan kebenaran dan rasa lega, pintu depan didobrak paksa. Sistem alarm berbunyi nyaring menyobek malam, dan sosok yang paling tidak terduga berdiri di sana sambil tersenyum penuh racun. Masalalu belum benar-benar mati, dan kini ia datang untuk menagih tebusan darah.Akankah logika mampu bertahan ketika batas antara cinta, benci, dan pengkhianatan telah sepenuhnya mengabur?

chap-preview
Free preview
Bab 1: Percikan yang Terlarang
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, seolah sengaja menahan Elena di dalam rumah yang paling ingin ia hindari sepanjang hidupnya. Sudah tujuh tahun berlalu sejak kematian ibunya, Karina. Tujuh tahun pula ia memutus komunikasi dengan pria yang kini berdiri di dekat jendela besar ruang kerja, menatap kegelapan di luar sembari memegang segelas wiski. Adrian. Pria itu hampir tidak berubah. Garis rahangnya masih setegas dulu, dengan rambut hitam yang kini sedikit dihiasi helai perak di bagian pelipis, justru menambah kesan matang dan berkuasa. Dia adalah pria yang dinikahi ibunya setahun sebelum wanita itu tewas dalam kecelakaan mobil yang tragis. Secara hukum, pria berusia 35 tahun ini adalah ayah tirinya. Sebuah status yang selalu membuat d**a Elena terasa sesak oleh kombinasi rasa asing, benci, dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: ketertarikan. "Kau tidak banyak menyentuh makan malammu, Elena," suara berat Adrian memecah keheningan. Ia tidak berbalik, namun pantulan bayangannya di kaca jendela menangkap setiap gerak-gerik Elena. Elena menggeser duduknya di sofa kulit yang dingin. "Aku ke sini bukan untuk makan malam, Adrian. Kau memintaku datang karena koleksi seni peninggalan Ibu harus segera dikurasi sebelum dilelang, bukan? Mari kita selesaikan ini dengan cepat agar aku bisa segera pergi." Adrian berbalik perlahan. Langkah kakinya yang berat dan terukur bergema di atas lantai kayu ek. Setiap jengkal pergerakan pria itu memancarkan aura d******i yang menuntut kepatuhan. Elena menahan napas saat Adrian berhenti tepat di depannya, menunduk untuk menatap langsung ke dalam manik matanya. "Tujuh tahun kau melarikan diri ke luar negeri, mengabaikan setiap telepon dan surat dariku. Apakah kau begitu membenciku, Elena? Atau kau hanya takut pada apa yang kau rasakan setiap kali kita berada di ruangan yang sama?" tanya Adrian dengan nada rendah, hampir seperti bisikan yang mengintimidasi. Jantung Elena berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan brutal. Kalimat itu adalah sebuah konfrontasi langsung terhadap gajah di dalam ruangan yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Ketertarikan magnetis yang salah. Hubungan ini tabu, ditentang oleh norma, dan dikutuk oleh ingatan akan almarhumah ibunya. Namun, berada sedekat ini dengan Adrian membuat seluruh dinding pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam sekejap. "Jangan konyol," suara Elena bergetar, mengkhianati ketegasan yang berusaha ia tunjukkan. Ia berdiri, berniat mundur untuk menciptakan jarak, namun pergelangan tangan kurusnya justru dicegat oleh cengkeraman tangan Adrian yang hangat dan kokoh. "Lepaskan aku, Adrian! Ini salah. Kau adalah suami Ibuku!" sentak Elena, matanya mulai berkaca-kaca oleh badai emosional yang berkecamuk di dalam dirinya. Rasa bersalah yang teramat sangat menggerogoti nuraninya, membayangkan wajah ibunya yang tersenyum dari balik bingkai foto di sudut ruangan. Bukannya melepaskan, Adrian justru menarik pergelangan tangan Elena dengan satu sentakan lembut namun tegas, mengikis habis jarak yang tersisa di antara mereka. Elena bisa merasakan kehangatan napas Adrian yang beraroma alkohol dan mint di atas wajahnya. Di bawah temaram lampu ruang kerja yang remang-remang, logika Elena benar-benar lumpuh. Tanpa peringatan, Adrian menundukkan kepala dan meraup bibir Elena dalam sebuah ciuman yang penuh gairah, beringas, namun sekaligus menyiratkan keputusasaan yang mendalam. Elena terkesiap, namun alih-alih memberontak, tubuhnya mengkhianati pikirannya. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang terlarang itu. Jemari tangannya meremas kemeja Adrian, membalas ciuman pria itu dengan intensitas yang sama besarnya, seolah meluapkan seluruh rindu dan frustrasi yang terpendam selama tujuh tahun masa pengasingannya. Dunia di sekitar mereka seolah lenyap, menyisakan detak jantung mereka yang berpacu liar mengalahkan suara gemuruh petir di luar sana. Sentuhan Adrian di pinggangnya begitu posesif, membakar setiap jengkal kulit Elena dengan sensasi yang memabukkan sekaligus menakutkan. Namun, tepat ketika Elena menyerahkan seluruh kesadarannya pada penyatuan itu, Adrian tiba-tiba memutuskan ciuman secara sepihak. Pria itu mendorong bahu Elena menjauh dengan napas yang terengah-engah, seolah baru saja tersengat listrik bertegangan tinggi. Matanya yang biasanya dingin kini menyiratkan konflik batin yang amat kelam. Elena berdiri terpaku dengan bibir yang basah dan napas yang memburu, menatap Adrian dengan tatapan tidak percaya sekaligus terluka karena penolakan yang tiba-tiba itu. Adrian mundur selangkah, meraup wajahnya dengan frustrasi sebelum menatap Elena dengan sorot mata yang dipenuhi rahasia kelam. Ia berbisik dengan suara serak yang bergetar, "Kita tidak bisa melakukan ini, Elena. Kau tidak tahu siapa aku sebenarnya." Elena tertegun, melangkah mundur hingga pinggulnya membentur tepian meja kerja kayu yang kokoh. "Apa maksudmu? Kau selalu menyembunyikan sesuatu di balik topeng dinginmu itu, Adrian. Jika ini salah, mengapa kau memulainya?" Adrian tidak langsung menjawab. Ia berjalan kembali menuju meja kerja, menuangkan sisa wiski ke dalam gelasnya dengan tangan yang tampak sedikit tidak stabil—sebuah pemandangan langka bagi seorang pengacara korporat yang selalu memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. "Aku tidak memulainya, Elena. Kita yang memulainya, bertahun-tahun lalu sebelum kau memutuskan untuk melarikan diri ke Paris," kata Adrian tanpa menatapnya. Suaranya terdengar seperti hantaman ombak pada tebing karang. "Statusku di rumah ini adalah pelindungmu, bukan pria yang berhak menyentuhmu." "Pelindung?" Elena tertawa getir, meski air mata masih mengambang di pelupuk matanya. "Kau menikahi ibuku hanya setahun sebelum dia tiada. Kau mengambil alih seluruh kendali atas aset keluarga kami. Dan sekarang kau menyebut dirimu pelindungku? Di mata hukum, kau adalah ayah tiriku, Adrian. Tidakkah kau merasa jijik pada dirimu sendiri?" Adrian meletakkan gelasnya dengan dentang keras di atas meja. Ia berbalik, matanya berkilat marah bercampur kepedihan yang tak tertahankan. "Jika kau tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, kau tidak akan berbicara sekasar itu, Elena. Kau kembali ke sini untuk mengurasi lukisan, bukan untuk mengurasi hidupku." "Lalu jelaskan padaku!" tuntut Elena, suaranya meninggi, bersaing dengan deru angin malam yang mengguncang kaca jendela. "Jelaskan mengapa tatapanmu selalu membuatku merasa bersalah setiap kali aku mengingat Ibu! Jelaskan mengapa ciumanmu tadi terasa seperti sebuah ucapan selamat tinggal, bukan sebuah sambutan hangat!" Adrian terdiam. Keheningan yang tercipta di antara mereka terasa jauh lebih mencekam daripada badai di luar sana. Pria itu menatap Elena dalam-dalam, mengamati gaun hitam ringkas yang dikenakan wanita itu, menatap bibirnya yang masih sedikit membengkak akibat ciuman mereka, sebelum akhirnya pandangannya melunak menjadi sesuatu yang menyerupai rasa kasihan yang kelam. "Pergilah ke kamarmu, Elena," ujar Adrian, suaranya mendadak kembali dingin dan datar, seolah-olah percikan gairah beberapa menit lalu hanyalah halusinasi belaka. "Besok pagi, tim penilai dari galeri nasional akan datang. Aku ingin kau bersikap profesional. Jangan biarkan emosimu merusak reputasi yang sudah kubangun untukmu." Elena mengepalkan tinjunya, merasakan kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa hancur di dalam dadanya. Adrian selalu melakukan ini—menariknya begitu dekat hingga ia kehabisan napas, lalu mendorongnya begitu jauh hingga ia merasa terhempas ke dasar jurang. "Aku bukan lagi gadis delapan belas tahun yang bisa kau perintah sesukamu, Adrian," bisik Elena tajam. Ia membalikkan badan, berjalan dengan langkah tegas menuju pintu besar ruang kerja. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh gagang pintu kuningan yang dingin, suara Adrian kembali terdengar, menghentikan gerakannya seketika. "Kunci pintumu malam ini, Elena," kata Adrian dari kegelapan ruangan. "Ada banyak hal di rumah ini yang tidak seindah kelihatannya. Dan beberapa di antaranya... tidak ingin melihatmu kembali dengan selamat." Elena menoleh sedikit, namun Adrian sudah kembali memunggunginya, melebur bersama kegelapan malam di balik jendela besar. Dengan jantung yang masih berdegup liar, Elena membuka pintu dan melangkah keluar, tidak menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil di rumah itu mulai membawanya masuk ke dalam labirin kebohongan yang mematikan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
725.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
961.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
348.4K
bc

Not just, the Beta

read
343.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook